Elzara (Gadis Pemburu Mafia)

Elzara (Gadis Pemburu Mafia)
bab 17


__ADS_3

Setelah tiba di tempat yang aman, gadis bercadar itu menghentikan laju motornya lalu meminta Samantha untuk turun.


"Sepertinya di sini aman," ucap gadis itu.


Samantha segera turun dari motor itu dengan tatapan mata yang terus tertuju pada gadis yang menolongnya itu.


Gadis itu membuka cadarnya lalu tersenyum pada Samantha.


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" tanya Zara.


Ya Zara lah gadis bercadar itu, setelah dirinya menyadari bahwa komplotan penjahat itu akan mengenali dirinya sebagai Lara, akhirnya dirinya memutuskan untuk menggunakan cadar untuk menyembunyikan rupa wajah aslinya saat dirinya sedang beraksi dalam menjalankan balas dendamnya.


"Kau! Kau lagi." Samantha tersenyum lebar lalu memeluk Zara.


"Kebetulan aku lewat sini. Untunglah kau tidak apa-apa."


"Terimakasih, kau sudah menyelamatkan aku dari mereka sebanyak dua kali."


"Ini sudah tugasku. Sekarang kau aman."


"Mereka datang ke rumahku dan mengancam dengan menggunakan senjata api, aku takut mereka menyakiti orang tuaku juga." Samantha terus menangis sambil duduk di tempat duduk yang ada dibelakangnya.


Zara yang masih berdiri di samping motornya, berjalan menghampiri Samantha lalu memeluknya!


"Jangan menangis, sekarang kau sudah selamat dan ayo kita temui orang tuamu," ucap Zara.


"Bagaimana jika mereka masih ada di sana? Tadi lebih dari sepuluh orang yang datang ke rumahku. Mereka mengacak-acak rumahku dan mengancam semua warga desa."


"Kau tenang lah, selama ada aku di sini, aku tidak akan membiarkan dirimu atau orang lain terluka karena mereka. Aku tidak akan membiarkan ada gadis yang berhasil mereka culik ataupun mereka ajak bekerja."


"Kau gadis yang baik dan tidak mengenal rasa takut. Kau gadis pemberani, siapa dirimu sebenarnya?"


"Kau akan tahu nanti setelah waktunya tiba. Cepat naik dan ayo kita temui orang tuamu!"


*******


"Bos kau yakin tidak membutuhkan pengawalan di sini?" tanya Exel yang masih berdiri di samping ranjang rumah sakit itu.


"Mereka tidak akan bisa masuk ke sini karena penjagaan di rumah sakit ini cukup ketat dan juga mereka mengerjakan tugas mereka dengan baik, kau cari tahu saja siapa sebenarnya dokter itu dan cari tahu tentang keluarganya atau masa lalunya, aku tidak ingin dia menjadi penghalang dalam usaha kita," jelas Sandress.


Exel dan Wilona mengangguk paham lalu mereka pamit undur diri dari sana.


"Kerjakan tugas kalian dengan benar dan hati-hati jangan sampai ada kesalahan sedikitpun," ucap Sandress lagi sebelum Exel dan Wilona benar-benar pergi.


Exel dan Wilona yang sudah tahu apa yang harus mereka lakukan pun langsung pergi dari ruangan itu tanpa berkata sesuatu apa pun lagi pada bos mereka!


*******

__ADS_1


"Wili? Tumben kau ke sini," ucap Abra.


Saat itu Wili tiba-tiba datang ke tempat Abra, dia ingin mengobrol sedikit dengan temannya itu.


"Abra, apa kabar?" tanya Wili dengan senyuman ramahnya.


"Kabar baik. Masuk lah dan silahkan duduk."


Wili berjalan menghampiri Abra lalu duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Abra.


"Aku ingin bicara tentang Zara," ucap Wili setelah dia duduk.


"Zara? Ada apa dengan dia?"


"Setelah dia pulang dari asrama, dia jadi sering keluar malam bahkan hampir setiap malam dia pergi dan selalu pulang diatas jam dua belas malam kadang dia pulang pagi."


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Aku ingin tahu seberapa besar dia menguasai ilmu bela diri yang kau ajarkan. Aku takut dia menggunakan kemampuannya untuk melakukan hal yang salah."


"Ilmunya sudah menyamai diriku karena itulah aku menyuruhnya pulang dan berhenti menjadi muridku. Aku memang melihatmu ada kebencian dalam dirinya tapi aku tidak tahu apa yang dia rasakan sebenarnya, gadis itu sangat tertutup dan dia pandai menyembunyikan kesedihannya dibalik senyuman menawannya."


"Abra, dia memang pernah kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi, dia memang membenci mereka yang menyebabkan dirinya kehilangan orang yang dia sayangi itu tapi dia tidak tahu siapa orang yang telah menyebabkan semua itu."


Abra menatap Wili dalam waktu yang lumayan lama dengan tatapan aneh.


"Tidak, aku pikir kau susah salah paham pada Zara. Dia itu seorang dokter mungkin saja sekarang dia mendapatkan tugas malam hari."


"Aku tahu tapi sekarang tidak seperti biasanya."


"Kau mau aku menyelidiki Zara?"


"Kalau kau bersedia aku tidak akan menolak. Aku hanya takut dia terluka, aku hanya memiliki satu orang adik dan aku tidak ingin dia kenapa-kenapa."


"Kalau mengetahui semua tentang Zara membuatmu bahagia dan tenang aku akan mencari tahu tentang dia, kau tenang saja."


"Terimakasih Abra, kau memang teman yang baik."


*******


Malam hari, setelah mengantar Samantha menemui orang tuanya, Zara langsung ke rumah sakit karena dirinya masih ada tugas ditempat kerjanya itu.


"Selamat malam Tuan, bagaimana kabarmu malam ini?" tanya Zara pada Sandress.


"Panggil saja Richard, malam ini aku merasa bahwa aku sudah mulai membaik. Apa besok aku sudah bisa pulang?" sahut Sandress.


"Aku cek kondisi tubuhmu dulu. Aku belum bisa memastikan dirimu sudah boleh pulang atau tidak."

__ADS_1


Zara langsung mengecek kondisi kesehatan Richard dengan teliti, dia tidak ingin ada kesalahan dalam memeriksa kondisi kesehatan pasiennya.


*******


"Medina! Vera! Malam ini kalian libur bekerja di tempat biasa, ada tugas lain untuk kalian," ucap Wilona.


"Tugas apa?" tanya Vera.


"Ikut denganku sekarang!" Exel berjalan menuju mobilnya dengan diikuti oleh Medina dan Vera dibelakangnya sedangkan Wilona tidak bisa ikut dengan mereka karena harus mengurus gadis lainnya dan tamu yang datang ke Clube nya.


"Kau tidak akan membawa kami ke tempat dokter Okta kan?" tanya Medina.


Dengan keberanian yang minim, Medina bertanya pada Exel dengan suara yang sangat pelan.


"Tidak. Kalian akan bertemu dengan seseorang di rumah sakit."


"Rumah sakit!" Vera langsung ketakutan saat mendengar kata rumah sakit.


"Kalian jangan takut, mana mungkin aku mencelakai kalian sementara kalian adalah orang yang paling diminati oleh tamu-tamu Clube kita."


"Lalu untuk apa kita ke rumah sakit."


"Sudah tiba di rumah sakit. Kalian akan tahu kalian akan bertemu dengan siapa di sini, ayo turun dan ikuti aku."


Exel turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk dua gadis yang bersamanya itu!


Saat mereka memasuki rumah sakit itu, kebetulan Zara sedang berjalan melewati lorong rumah sakit itu.


"Manis! Manis!" Tanpa menghiraukan Exel, Medina dan Vera berlari menghampiri Zara.


Zara yang tidak merasa bahwa ada yang bergerak memanggilnya, terus berjalan tanpa menengok ke belakang.


"Manis, kau di sini," ucap Medina sambil memeluk Zara dengan erat.


Zara hanya diam dan tak merespon perlakuan dua gadis yang kini sedang menangis dan memeluk dirinya.


Zara merasa kebingungan dengan apa yang mereka lakukan pasalnya dirinya tidak mengenal mereka dan namanya juga bukan Manis seperti yang mereka sebutkan.


Dari tempat yang tidak begitu jauh, Exel terus memperhatikan tiga gadis itu sambil merekam video dengan menggunakan ponselnya untuk dijadikan bukti pada Sandress.


Bersambung


Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca.


Judul: MAFIA GIRLS VS USTADZ TAMPAN


Karya: Selvi_19

__ADS_1



__ADS_2