
Ahirnya Jun menyuapiku, ini memang sangat memalukan. Bukan entah malu atau entah bahagia aku disuapi seorang gadis muda yang cantik dan baik. Tapi yang ada di pikirannya hanya uang, ahirnya ia selesai menyuapiku.
"Kalau begitu saya permisi dulu kak Sorata, ingat jangan meninggal sebelum Anda membayar semuanya" ucap Jun sambil tersenyum manis
"Ya Jun, selamat malam"
"Selamat malam" ucap Jun kemudian pergi meninggalkan kamarku
"Dia gadis yang cantik, tapi menyeramkan. Tapi aku sudah berhutang nyawa padanya, sebaiknya aku tidur dulu. Memikirkan apa yang akan terjadi besok membuatku pusing"
Ahirnya aku tertidur dengan pulas, malam berlalu terasa begitu cepat. Keesokan harinya aku bangun, Tiba tiba "tok, tok" ada yang mengetuk pintu.
"Masuklah, pintunya tidak aku kunci"
"Saya masuk, bagaimana keadaan kamu kak Sorata?"
"Sekarang tubuhku mulai terasa baikan, aku merasa sudah setengah baikan"
"Baguslah, mari kita berkeliling kota"
"Apa kotanya jauh dari sini?"
"Tidak cuma sekitar 1000 km"
"What, serius"
"Tentu saja tidak, Anda ternyata orang yang serius kak Sorata"
"Aku kira kau serius jun"
"Ayo kita berangkat menuju kota"
Aku dan jun keluar dari rumah mencoba berpamitan pada ayah Jun, saat kami cari ternyata dia sedang menebang pohon di dekat rumahnya.
"Ayah, aku dan kak sorata akan pergi ke kota sebentar. Apa ayah mengijinkan saya pergi?"
"Apa? Apa kalian kencan?" sambil melihat kearahku dengan hawa pembunuh yang membuatku merinding
"Tentu saja tidak paman"
"Baiklah aku mengijinkan kalian pergi, tapi jika terjadi apa apa pada putriku kau akan menyesalinya nak"
"Tenang saja paman, aku akan menjaganya semampuku"
"Kami pamit ayah"
Kami berdua berjalan menuju kota, ternyata tempatnya tidak terlalu jauh.
"Sepertinya Anda sudah baik baik saja kak"
"Ya, sekarang aku bisa berjalan sendiri dn makan sendiri"
"Bicara soal makan, kita juga belum makan kak. Ahirnya kita sampai di kota"
"Ya, disini sangat ramai. Banyak anak anak bermain, dan-"
"Kak liat disana ada pedagang daging bakar, maukah kakak menteraktirku?"
"Karena kau sudah menyelamatkanku, kurasa apa boleh buat"
"Jadi saya boleh beli apa aja ya kak"
"Tentu saja-"
"Paman daging bakarnya 50 tusuk"
"Siap nona"
__ADS_1
"Dengarkan aku dul-"
"Paman minumannya 3 botol, jagung bakar 15, buah apel 60 ... dan... dan... dan... dan.."
"Ughh, kau banyak sekali membelinya"
"Tentu saja kak, pepatah bilang ambillah kesempatan selagi ada"
"Jadi kau mau kesini hanya mau mendapat kesempatan ini dariku"
"Tentu saja kak Sorata"
"Sepertinya aku terkena jebakan Batmaan, malangnya aku"
"Nona ini semua pesanannya"
"Terimakasih paman, semuanya jadi berapa paman?"
"Semuanya jadi 3 keping emas"
"3 keping emas? Ini uangnya paman"
"Ya terimakasih nak"
"Ayo kita pulang kembali kak Sorata?"
"Baik Jun"
"Ini untukmu kak, kita makan dulu. Setelah makan kita kembali"
"Baik Jun"
"Sekarang kak Sorata jadi anak baik ya"
Setelah kami selesai makan, kami kembali kerumah Jun dan mebawa semua makanan yang ia beli dengan uangku.
"Aku tidak apa apa Jun, tenang saja"
"Apa kakak marah karena tadi aku beli banyak makanan? Karena memggunakan uang kakak"
"Tentu saja tidak, aku cuma khawatir pada temanku. Pasti sekarang dia menghawatirkan aku"
"Benar juga dia pasti cemas, kak lihat ada seratus monster menuju kota"
Tiba tiba para monster menyerang kota dan menghancurkan rumah rumah, semua orang berlari untuk menyelamatkan diri. Banyak anak anak menangis mencari orang tuanya, melihat itu aku langsung bergegas untuk menyelamatkan kota dan orang orang.
"Kak Sorata jangan kembali ke kota itu, lukamu belum sembuh. Mari kita berlari menyematkan diri kak?"
"Kau pikir apa yang ada di punggungku ini"
"Itu hanya sebuah pedang"
"Aku tau Jun, kau cepatlah berlari selamatkan dirimu. Aku akan melawan seratus monster itu"
"Jangan cereboh kak Sorata, aku tidak rela kakak meninggal di sini"
"Kau jangan bersedih, aku akan baik baik saja Jun" ucapku sambil tersenyum
"Saya percaya padamu kak Sorata, tapi jika Anda berencana meninggal setidaknya bayar dulu pengobatan yang saya berikan" uca Jun sambil menangis
"Bukan waktunya memikirkan uang" ucapku dengan kesal
"Tap-"
"Sudahlah Jun pergi saja, aku akan mengalahkan monster monster itu dengan selamat"
"Saya tidak akan pergi, tapi saya akan bersembunyi disini untuk memastikan keselamatan kak Sorata"
__ADS_1
"Baiklah tapi ingat, apapun yang akan terjadi. Ingat jangan pernah mencoba membantuku"
"Baik, berhati hatilah kak Sorata"
Aku pergi menuju arah monster monster yang merusak san menyerang orang orang, sambil aku berlari aku mengeluarkan pedangku. Saat monster monster itu merasakan keberadaanku, mereka langsung berlari menuju ke arahku untuk menyerangku.
Dengan cepat aku menebas mereka dan menghindari serangan serangan monster itu, setelah berhasil menebas 7 monster. Monster yang lain mulai menyarangku, tapi dengan fire cut aku membuat pusaran badai api.
"Wah kak Sorata hebat sekali, dia bisa menebas dan mengeluarkan badai api. Sehingga semua monster monster yang mendekat kearahnya habis terbakar. Siapa sebenarnya kak sorata itu?"
"Dia adalah pahlawan yang terpanggil di kerajaan Armest, dia pahlawan pengguna pedang hitam"
"Siapa kau? Dan kenapa kau berbicara asal asalan"
"Perkenalkan, namaku adalah Yulise Ambrein Armest. Paggil saja Yulise, aku adalah temannya tuan Sorata"
"Jadi kau temannya?"
"Benar sekali, saya sempat berpikir dia sudah meninggal karena terbawa angin yang sangat besar"
"Kenapa dia bisa terbaw-"
"Diam dulu sebentar, saya mau melihat perkembangannya"
Setelah itu tersisa 6 monster, mereka menyerangku lagi. Dengan cepat aku menebas ke 6 monster itu secara bersamaan, Sehingga ke 6 monster itu kalah bersamaan.
"Aku lelah" aku pun terjatuh
"Tuan Sorata, apa anda baik baik saja" ucap Yulise sambil berlari
"Kak apa kau baik baik saja?" ucap June
"Ya aku baik baik saja, cuma kelelahan saja.Yulise apa kau baik baik saja? Syukurlah kau selamat"
"Ya tuan Sorata, tapi lebih penting Anda juga selamat tuan Sorata" ucap Yulise sambil duduk di dekatku
"Hmmm?"
"Kau kepana Jun?"
"Kak Sorata jahat, pahadal kakak akan menikahiku?"
"Apa menikah? Tunggu aku bahkan tidak pernah bilang begitu"
"Memang tidak, tapi aku yang akan menikahi kakak"
"Jadi tuan Sorata sekarang sudah menjadi playboy"
"Playboy, itu bahasa dari duniaku. Jadi jangan menggunakannya di dunia ini"
"Baiklah tuan Sorata"
"Kakak ayo kita pulang dan tinggalkan wanita ini"
"Ini kata kata terakhirku, sepertinya aku akan mati. Tapi sebelum itu aku ingin kalian berbaikan dulu"
"Kakak jangan mati"
"Jangan mati tuan Sorata"
<<\>\>
Jangan lupa like, follow dan coment 😇
Terimakasih sudah membaca 😉
__ADS_1