
Ahirnya mereka bertiga mundur ke belakangku, setelah itu tiba-tiba serigala itu dengan cepat mencoba menyerang Yulise.
Melihat itu, dengan cepat Jun mendorong Yulise. Ahirnya meraka berdua terjatuh, dan Yulise selamat dari gigitan serigala itu.
"Sial, dia bisa dengan cepat melewatiku" ucapku dengan kesal.
"Manusia itu sangat lambat, jadi jangan berpikir bisa mengimbangi kecepatanku" ucap serigala putih itu.
"Jangan meremehkanku" ucapku sambil memegang pedang.
Suasana menjadi sangat tegang, aku bersama teman-temanku bersiap kembali bertarung. Namun serigala putih itu terlihat sangat santai, dengan pelan ia berjalan kearahku.
Ia merlari menuju arahku, namun aku dengan cepat menghindari serangannya. Setelah itu, aku mencoba menebas serigala. Aku menebas badannya "Cring", tiba-tiba terdengar suara benturan pedang.
"Suara apa itu!?" ucap Yulise.
"Tidak mungkin! Lihat ekor serigala itu menahan tebasan kak Sorata" ucap Jun merasa tidak percaya.
"Sudah kuduga, serigala putih itu memang tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Ekornya bisa setajam pedang" ucap gadis yang tidak dikenal itu.
"Tunggu, siapa kau? Kami bahkan tidak tau namamu?" ucap Jun dengan emosi.
"Benar, siapa Anda?"
"Sudah kuduga, kalian belum tahu siapa saya? Saya adalah orang paling terkenal di desa kabut ini"
"Sudahlah jangan banyak basa basi, kenalkan saja dirimu" ucap Jun.
"Makanya jangan menyela dulu, tunggu sampai saya selesai berbicara."
"Paling terkenal, jangan-jangan Anda seorang putri di kerajaan lain."
"Itu tidak mungkin, kak Yulise."
"Saya bukan putri, nama saya adalah Sara si pemenang lomba tarian di desa kabut" ucap Sara dengan bangga.
"Oh sara, kami tidak tahu."
"Cuma pemenang tarian ya" ucap Yulise dengan kecewa.
"Kenapa kalian terlihat kecewa begitu? Seharusnya kalian senang ketemu denganku, apa kalian mau aku ajari cara menari?"
"Maaf, aku tidak mau"
"Saya juga tidak mau mau, ngomong-ngomong apa Anda tau apa kelemahan serigala putih itu?"
"Saya tidak tahu"
Sentara itu, aku terus bertarung dengan serigala putih yang sangat hebat itu. Aku tidak percaya, dia memiliki ekor yang bisa keras dan tajam seerti pedang.
"Sebenarnya kau itu apa? Aku tidak percaya seekor serigala sepertimu memiliki kekuatan besar."
"Manusia, aku sebenarnya adalah makhluk yang dikutuk ini sebenarnya bukan wujudku yang sebenarnya."
__ADS_1
"Bukan wujudmu yang sebenarnya? Apa maksudmu?"
"Aku adalah yang saat ini perwujudan dari kebencian, karena dikutuk oleh dewa aku menjadi seerti ini."
"Begitu rupanya"
Dia kemudian melolong, dalam penginapan pun dipenuhi oleh kabut yang sangat tebal. Ia langsung menyerangku dengan ekornya yang tajam, aku terus menahan serangannya dengan pedangku. Tanpa aku sadari dinding-dinding penginapan pun tertebas sampai terbelah.
"Gawat, dia cepat. Ditambah aku kesulitan melihatnya" ucapku sambil melihat serigala itu.
"Tenang saja tuan, saya akan membatu Anda" ucap Sara sambil mengeluarkan sihir angin. Sehingga kabut itu hilang terbawa angin.
"Ahirnya aku bisa melihat kembali dengan jelas, terimakasih Sara."
"Sama-sama tuan, cepatlah kalahkan dia tuan sebelum ia berubah."
"Baik aku akan berusaha."
"Ternyata dia bisa berguna juga, kak Yulise."
"Benar Jun, dia pengguna sihir angin."
"Wanita Sialan, beraninya kau mengganggu pertarungan kami" ucap Serigala itu sambil berlari menuju Sara.
"Tidak akan aku biarkan" Jun tiba-tiba menginjak lantai, dan mengeluarkan dinding es yang besar.
"Itu tidak akan bisa menghentikanku, dasar wanita bodoh."
"Benarkah, coba lihat kebelakangmu" ucap Jun sambil tersenyum.
"Tuan Sorata, ahirnya Anda berhasil juga mengalahkannya" ucap Yulise dengan senang.
"Kak Sorata hebat, selamat Anda berhasil mengalahkannya."
"Terima kasih, ini juga berkat kalian. Kalau dia tidak mengalihkan pendangannya, aku pasti tidak akan bisa mengalahkannya dengan cepat."
"Apa kalian yakin, sudah menang" ucap Sara dengan sambil tersenyum.
"Apa maksudmu Sara?" ucapku.
Tiba-tiba udara menjadi dingin, dan tubuh serigala putih itu menjadi kabut. Kabut dalam penginapan menjadi semakin tebal, dan kami melihat sepasang mata yang menyala.
"Jika kalian tidak keluar pengipan sekarang, kalian akan berakhir" ucap Sara sambil tersenyum dan berlari keluar.
"Sebanarnya apa yang terjadi?" ucap Jun merasa penasaran.
"Dia gadis yang aneh, dalam bahaya ia masih bisa tersenyum begitu" ucapku sambil melihat Sara berlari.
"Saya merasa ini belum berakhir, tuan Sorata. Saya merasakan bahaya yang besar, jika terus berada di dalam penginapan ini."
Tiba-tiba Yulise menarik tanganku, dan tangan Jun sambil berlari. Kami pun ikut berlari mengikuti Yulise, sesampainya diluar penginapan Sara menghilang.
"Sebenarnya, kenapa kau membawa kami berlari Yulise?"
__ADS_1
"Liat itu, saya penginapan itu dipenuhi banyak sangat banyak kabut."
"Benar, sepertinya serigala putih itu belum kalah. Aku merasakan kekuatannya semakin besar, saya yakin pasti karena sinar rembulan."
"Kau benar Jun."
Kabut semakin tebal mengelilingi penginapan itu, tiba-tiba dalam pengipan itu muncul kepala serigala putih yang sangat besar. Ia menghancurkan pengipan dengan mudahnya, kemudian ia melihat kerah kami kami.
"Tuan Sorata, saya punya satu rencana yang akan bisa menyekamatkan kita dari serigala putih raksasa itu" ucap Yulise dengan saNHt serius.
"Apa rencananya Yulise?" jawabku dengan sangat serius.
"Apa rencananya, kak Yulise?"
"Ini rencana yang 100% akan berhasil, rencananya adalah..."
"Rencananya adalah..." ucapku semakin penasaran.
"Kita bertiga akan pura-pura mati, agar serigala itu tidak menyerang kita."
"Apa kak Yulise bodoh, meskipun kita berpura-pura mati. Ia tetap akan menyerang kita." ucap Jun dengan kesal.
"Itu benar, kita harus bertarung sampai ahir."
"Saya akan membantu, kak Sorata."
"Ya terimakasih Jun, Yulise kau larilah secepatnya."
"Baik tuan Sorata, saya akan bersembunyi dulu."
"Kalian bertiga telah membuatku marah, sesalilah perbuatan kalian di neraka" ucap serigala raksasa itu.
"Tunggu, kau sepertinya kau salah menghitung. Tadi itu kami berempat" ucap Jun.
"Aku tidak peduli, pada perempuan sihir angin itu. Karena saat kalian bertiga akan menjadi maksaku."
"Itu pun jika kau bisa memgalahkan kami, Jun cepat bekukan dia."
"Baik kak Sorata" Jun menarik napas dan langsung meniupkan angin kearah serigala itu, sehingga ia langsung membeku.
"Sekarang giliranku, kalian berdua mundur!"
"Baik tuan Sorata"
Dengan cepat aku berlari kearah serigala raksasa yang membeku itu, kemudian aku menggunakan Fire Cut dan langsung memutarkan pedangku. Sehingga tercipta badai api yang langsung mengarah pada serigala raksasa itu.
Ahirnya seranganku mengenainya, sehingga ia terbakar habis bersama es itu. Asap pun menyebar kemana-mana, tapi setelah itu kabut kembali mengelilingi. Tiba-tiba terlihat lagi dalam kabut itu, ada sepasang mata.
"Ini tidak mungkin, kak Sorata."
<<\>\>
__ADS_1
Jangan lupa like, follow dan coment...
Terimakasih sudah membaca...