
"Playboy, itu bahasa dari duniaku. Jadi jangan menggunakannya di dunia ini"
"Baiklah tuan Sorata"
"Kakak ayo kita pulang dan tinggalkan wanita ini"
"Ini kata kata terakhirku, sepertinya aku akan mati. Tapi sebelum itu aku ingin kalian berbaikan dulu" ucapku sabil berpura pura batuk
"Kakak jangan mati"
"Jangan mati tuan Sorata"
"Tapi, jika kalian berbaikan. Maka aku akan hidup lagi"
"Baik tuan Sorata, saya dan Jun akan berbaikan. Benarkan Jun?"
"Ia tuan Sorata, jadi jangan tinggalkan kami"
"Baguslah kalian sudah berbaikan, kalau begitu ayo kita pulang"
"Jadi anda berpura pura, kejam sekali kakak ini telah menipuku"
"Benar tuan Sorata kau kejam"
"Lebih kejam mana? Melihat orang terluka parah sepertiku yang bahkan sekarang tidak bisa bangun, tapi kalian malah ribut tidak jelas"
"Maafkan kami tuan Sorata" ucap Yulise dan Jun bersamaan
Tiba tiba para penduduk mendekatiku, bersama orang orang yang sedang terluka.
"Tuan terimakasih sudah menyelamatkan kota kami, berkat anda tidak ada yang tewas dalam kejadian ini"
"Benar terimakasih banyak, berkat Anda anak anak kami selamat dari serangan monster monster itu"
"Terimakasih banyak tau pahlawan"
"Tidak apa apa, saya hanya menjalankan tugas yang diberikan yang mulia. Agar tidak ada banyak korban berjatuhan, yang mulia mengutus saya"
"Meski begitu, kami tetap mengucapkan terima kasih"
"Ayo semuanya hidup pahlawan, hidup pahlawan" ucap para penduduk
"Yulise bisa bantu aku berdiri?"
"Bisa tuan Sorata" Yulise langsung membantuku berdiri
"Terima kasih Yulise"
"Kalau begitu, Anda mau hadiah apa dari kami tuan pahlawan?"
"Benar, katakan apa saja tuan pahlawan. Mau uang, makanan, atau pakaian"
"Uang?" Jun sangat bersemangat mendengar kata uang
"Sebaiknya kalian pakai uang dan barang barang kalian, untuk penduduk yang lainnya yang lebih membutuhkan. Pakailah uang itu untuk memperbaiki rumah rumah yang rusak karena terkena apiku"
"Baik tuan, terimakasih. Anda benar benar pahlawan sejati"
"Kalau begitu kami pamit, jaga diri kalian paman dan penduduk yang lainnya"
"Yulise tolong bantu aku berjalan, lukaku semakin parah"
"Baik tuan Sorata, lain kali Anda tidak boleh bertarung memaksakan diri"
"Biar saya aja kak Sorata yang membantu Anda berjalan?"
"Gak apa apa, biar Yulise saja"
"Baik kak"
__ADS_1
Kami berdua berjalan menuju rumah Jun, setelah berjalan sangat lama ahirnya kami sampai kembali.
"Ayah kami kembali"
"Ya selamat datang, ngong ngomong siapa gadis ini?"
"Dia temannya kak Sorata ayah, namanya Yulise"
"Jadi begitu, ayo masuk tuan dan nona"
"Baik, terimakasih tuan"
Kami bertiga masuk ke dalam rumah, setelah masuk kami mulai berbicara.
"Ayah, aku membelikanmu makanan jadi makanlah"
"Seperti biasa Jun, kau selalu membeli makanan banyak banyak. Kalau begitu mari kita makan bersama sama"
"Sebelum itu paman, ada yang ingin aku becarakan"
"Apa itu? bicara sajalah"
"Setelah selesai makan, saya dan Yulise akan melanjutkan perjalanan"
"Dengan luka seperti itu kau mau melanjutkan perjalanan? Jangan memaksakan dirimu nak"
"Tapi saya sudah memutuskan, bahwa saya harus menjadi lebih dan lebih kuat lagi"
"Baiklah berhati hati saja, dan jangan sampai mati ya"
"Baik paman, terimakasih"
Kami ber 4 makan bersama, setelah selesai makan aku dan Yulise berpamitan kepada Jun dan ayahnya.
"Kami berdua pamit paman, Jun. Ini aku berikan 6 keping emas untuk biaya pengobatan dan penginapannya"
"Terimakasih nak, Jun katakan sesuatu padanya?"
"Ada apa dengan sipatmu itu Jun? kau tidak seperti biasanya"
"Kami pergi dulu paman"
Aku dan Yulise pergi meninggalkan tempat tinggal Jun, meskipun sipat Jun agak aneh dari biasanya.
"Sekarang mereka sudah pergi Jun, jangan menangis"
"Kak Sorata ahirnya pergi, aku sangat sedih ayah. Kenapa dia mengajakku pergi bersamanya? Padahal dia teman pertamaku"
"Maafkan ayah Jun, seharusnya ayah dari dulu memperhatikanmu. Gara gara ayah kamu selalu kesepian"
"Ini bukan salah ayah, ini salahku karena dulu waktu kecil aku kehilangan kendali atas kekuatanku"
"Jika kamu ingin pergi bersama mereka pergilah, tapi perjalanan pria itu bukan sesuatu hal yang mudah. Pasti akan banyak bahaya diperjalanannya"
"Aku akan meimikirkannya ayah"
Setelah sangat lama aku dan Yulise berjalan, ahirnya kami berhasil melewati hutan dan sampai di pegunungan baru.
"Yulise, apa perjalanan kita masih jauh?"
"Saya rasa perjalanan kita sudah dekat, tuan Sorata. Sekarang berapa lv kekuatanmu?"
"Sekarang lv 12 dengan hp 7000, attack 5000, dan kemampuan skil 7000"
" Sekarang kau Anda sudah sangat kuat tuan Sorata"
"Meskipun begitu kemampuanku masih kurang untuk mengalahkan kamandan raja iblis"
"Benar, tapi seinging berjalannya waktu Anda akan menjadi sangat kuat"
__ADS_1
Tiba tiba saat kami berjalan, ada gadis yang sedang dikepung oleh 3 bandit.
"Tolong lepaskan saya tuan?"
"Lepaskan katamu, kami tidak akan melepaskan mangsa kami cuma karena minta dilepaskan"
"Benar sebaiknya nona serahkan semua barang barangmu"
"Benar nona, ikuti keinginan atau kau kan berakhir ditanganku"
"Hey, Oga jangan terlalu kasar pada permpuan?"
"Diam ketua bodoh, jika tidak ingin berbuat kasar padanya. Sebaiknya kita membiarkan dia lewat"
"Apa kau bilang ketua bodoh, aku?"
"Yah Oga memang benar, seharusnya aku yang jadi ketua bandit ini"
"Apa kau mau berantem denganku?"
"Tidak, ketua maafkan aku"
"Bagaimana jika denganku ketua" ucap Oga salah satu bandit
"Kalau denganmu, saar aku berkedip tanpa aku sadari pasti tubuhku sudah tertebas"
"Ketua memang lemah"
"Benar, ketua lemah, ketua lemah"
"Brisik kau, kau itu terlemah di team kita. Sebaiknya kau diam saja"
"Baik ketua"
"Ketua coba kau bilang lemah padaku"
"Aku tidak berani, aku merasakan hawa pembunuhmu yang membara Oga"
"Membosankan"
"Ano, dari tadi kalian bertengkar. Apa kalian tidak jadi memangsaku?"
"Tentu saja jadi" ucap ketiga bandit itu secara bersamaan
"Baik nona, biar saya ulangi lagi pertanyaannya. Serahkan uang dan barang barangmu" ucap ketua bandit
"Kalian berhenti, tidak akan kubiarkan kalian menghalangi perjalanan nona ini"
"Ayo tuan Sorata hajar mereka, jangan biarkan mereka lolos"
"Sekarang apa lagi, kenapa kalian mengganggu kami. Dan juga siapa kalian?"
"Ketua kau lamban sekali, aku bosan mendingan aku pulang" ucap Oga sambil berjalan pergi
"Tunggu Oga, jangan biarkan ketua bertarung sendirian. Nanti dia menangis"
"Memangnya aku bocah apa?"
"Ketua beri aku perintah"
"Baiklah, sebagai ketua aku akan memerintahkanmu untuk mengahajar orang yang menglangi jalan kita" ucap ketua bandit
"Dengan senang hati, ketua" Oga memancarkan aura pembunuh dengan tatapan yang mengerikan
"Ketua sepertinya Oga akan bertarung dengan serius, ini mengerikan. Jika dia hilang kendali kita berdua juga bisa mati"
<<\>\>
__ADS_1
Jangan lupa like, follow dan coment 😇
Terimakasih sudah membaca 😉