
Keesokannya harinya aku bangun, Yulise menjemputku dan menyuruhku untuk segara menemui raja. Aku dan Yulise berangkat bersama, entah kenapa dia kelihatan murung.
"Yulise, sepertinya kau mencemaskan sesuatu?" Tanya aku dengan penasaran.
"Tidak, cuma jantung saya sedikit berdetak lebih kencang dari biasanya. Saya tidak sabar ingin segera berpetualang bersama Anda," jawab Yulise sambil tersenyum.
"Aku pikir kau takut untuk memulai perjalanan, kalau begitu baguslah."
"Tentu saja tidak, tuan Sorata."
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki, langkah itu sangat cepat sampai-sampai aku berpikir ada pencuri di istana.
"Yulise, suara langkah kaki siapa itu?"
"Mungkin suara langkah kaki prajurit"
"Tadaa," dari belakang Sina memelukku.
"Apa Anda terkujut, tuan pahlawan?" Ucap Sina sambil tersenyum.
"Sina apa yang kamu lakukan? Cepat menjauh dari tuan Sorata!" Jawab Yulise dengan kesal.
"Memangnya kenapa kakak? Kakak cemburu ya?" Jawab Sina sambil menggoda kakaknya.
"Tidak juga, tapi pokoknya kamu lepaskan pelukanmu itu" jawab Yulise malu-malu.
"Baik, sudah aku lepaskan kak. Sekarang giliran kak yang memeluknya?" Tanya Sina kepada Yulise sambil tersenyum ceria.
"Kalian berdua dengar, aku tidak ingin dipeluk siapa pun. Mengerti," jawabku merasa terganggu.
"Kenapa Anda tidak ingin aku, dan kakakku peluk. Apa menurutmu kami berdua jelek, atau kami kurang sexy." Tanya Sina dengan asal ceplos melihat kearahku.
"Bukan begitu, tunggu dulu. Dari mana kau tau kata sexy," tanyaku kepada Sina.
"Aku tau dari buku, apa kak Sorata mau melihat dalamanku. Hari ini aku pakai yang belang-belang loh," Tanya Sina sambil tersenyum dan memejamkan salah satu matanya.
"Aku tidak tanya, dengar Sina kau tidak boleh memperlihatkan dalamanmu itu. Aku jadi kesal sendiri," jawabku dengan kesal dan memegang kedua pundak Sina.
"Tuan Sorata benar Sina, jangan seperti itu sipatmu itu mempermalukan kerajaan" jawab Yulise dengan marah.
"Benar yang dikatakan kakakmu itu, aku lagi terburu-buru. Sampai jumpa nanti," ucapku sambil berjalan pergi meninggalkan Sina.
"Tunggu tuan Sorata, ini gara-gara kamu Sina." Ucap Yulise sambil berjalan mengejar Sorata.
"Sampai jumpa nanti juga, kak Sorata" jawab Sina dari belakang.
Ahirnya kami sampai di hadapan raja, aku seperti biasa memberi hormat.
"Selamat pagi tuan pahlawan, sekarang kau akan berangkat bersama Yulise untuk membunuh naga hitam" ucap raja sambil duduk di singgasananya.
"Baik yang mulia, saya sudah siap berangkat "
"Yulise, apa kamu sudah siap?"
"Aku sudah siap, ayah" jawab Yulise sambil bercucuran keringat.
"Kalau begitu kalian berangkat menuju hutan terlarang, dan bawalah kantung ini. Kantung ini berisi 300 keping emas, untuk bekal kalian diperjalanan" ucap raja sambil memberikan kantung itu padaku.
"Baik yang mulia."
__ADS_1
Aku bersama Yulise pun berangkat, saat kami keluar dari gerbang istana. Tiba-tiba Sina mengejar kami sambil dikejar pengawalnya.
"Kak Sorata aku ingin ikut bersamamu dan juga bersama kakak, aku bosan jika di istana sendirian" ucap Sina dengan manja.
"Maaf Sina tapi perjalanan kami sangat penuh dengan bahaya, aku juga tidak bisa melindungi dua orang sekaligus."
"Tenang saja tuan pahlawan, aku bisa melindungi diriku kok."
"Tapi tuan putri, raja belum mengijinkan anda pergi. Kami bisa-bisa dihukum mati oleh raja, jika membiarkan Anda pergi" ucap salah satu pengawalnya yang berdiri di belakangnya, dari 6 pengawal.
"Tenang saja, yang akan dihukum mati itu kalian. Jadi itu bukan urusanku," jawab Sina sambil mengacuhkan perkataan pengawalnya.
"Tidak, tolong tuan putri kembali ke istana." Ucap pengawal yang lainnya
"Yulise, apa adikmu selalu seperti itu?" Tanyaku sambil melihat Yulise.
"Ya benar, memang ia selalu seperti itu. Jika dia mengiginkan sesuatu, pasti ia akan berusaha mendapatkannya. Meskipun harus mengorbankan apapun," jawab Yulise.
"Adikmu memiliki sipat yang bagus."
"Apa kak Sorata menyukai sipatku?"
"Tentu saja, meski sedikit menyeramkan."
"Tuan putri memang menyeramkan, bahkan tidak peduli pada nyawa kami. Padahal kami selalu melindungi Anda," ucap pengawal Sina.
"Jangan bilang begitu pengawal, aku hanya ingin ikut perjalanan bersama kak Sorata."
"Itu namanya kau jahat, cepat kembali! Atau nanti kakak laporkan pada ayah."
"Kakak memang suka mengadu, baiklah aku akan kembali ke istana" sambil pergi meninggalkan Sorata dan yang lainnya.
"Terimakasih sudah membantu kami, tuan putri Yulise" ucap para pengawal Sina.
"Baik tuan putri, kami undur diri dulu" para pengawal itu mengejar sina.
Mereka pun pergi, Aku dan Yulise melanjutkan perjalanan. Kami berdua mulai memasuki jalan hutan yang banyak pohon-pohon besar di pinggirnya, dan banyak suara burung-burung yang sangat merdu.
"Yulise apa kau lelah?"
"Tidak, Anda tidak perlu khawatir. Saya baik baik saja."
"Kalau kau sudah lelah bilang saja, aku tidak ingin kau memaksakan diri."
"Tidak, saya tidak memaksakan diri."
"Kresek, kresek" suara dari semak.
"Suara apa itu, jangan jangan harimau?"
"Tuan Sorata. Saya sudah siap?"
"Siap bertarung? Baguslah."
"Bukan, tapi siap melarikan diri."
"Kau ini."
Tiba tiba muncul empat bandit gunung, mereka membawa pisau dan pedang. Yulise dengan cepat berlari, tapi sayang ternyata ia tertangkap oleh ketua bandit. Ternyata jumlah mereka lima orang, tangan Yulise di ikat.
__ADS_1
"Tuan serahkan semua barang barang berhargamu, bersama semua uang yang kamu punya?" Tanya boss bandit.
"Kalau aku menolak, kalian mau apa?" jawabku dengan santai.
"Kami akan menghabisi wanita ini, bersama denganmu" jawab boss bandit sambil mengarahkan pisaunya ke leher Yulise.
"Tuan Sorata tolong selamatkan saya?"
"Apa boleh buat, tapi sebelum itu lepaskan dulu wanita itu" ucapku sambil mengangkat kedua tanganku keatas.
"Baiklah," jawab boss bandit.
Setelah mereka melepaskan Yulise, dengan cepat aku berlari kearah boss bandit. Kemudian aku memukul perutnya hingga ia tidak sadarkan diri.
"Yulise, cepatlah kau menjauh."
"Baiklah, tuan Sorata" Yulise mulai berlari menjauhi tempat itu.
"Sialan, beraninya kau memukul bos kami. Akan kami buat kau akan menyesalinya," ucap anak buahnya dengan marah.
"Buatlah aku menyesalinya, jika kalian bisa" ucapku sambil tersenyum.
"Jangan banyak bicara, semuanya ayo kita serang bersama "
Mereka semua menyerangku bersamaan, menggunkan pedang mereka. Namun setiap gerakan mereka terasa lambat bagitu, dan dengan mudah aku menangkis serangan pedang mereka dengan pedangku.
Dengan cepat aku memukul, dan menendang mereka bertiga sampai terjatuh. Hingga tersisa satu orang, dia berdiri seakan dia terlihat sangat kuat.
"Gerakanmu lumayan, tadi kau tidak akan bisa mengalahkanku. Aku yang terkuat diantara mereka berlima, jadi siapkan dirimu?"
"Baik, serang aku kapanpun yang kau mau."
"Beraninya kau meremehkanku, kau akan menyesalinya" sambil berlari kearahku.
Dia mulai berlari mendekatiku, dan mengeluarkan pedangnya. Ia langsung mengeluarkan tebasannya, aku langsung mehannya menggunakan pedangku. Pohon yang ada di dekatku tiba-tiba terpotong, entah apa yang terjadi.
"Sepertinya kau bukan orang biasa?" Tanya aku sambil bersiap menahan serangannya.
"Tentu saja, aku dulu pernah menjadi kesatria kerajaan" jawab pria itu.
"Pantas saja kau cukup kuat, tapi serangan seperti tidak akan bisa mengalahkanku" ucapku.
"Kenapa kau begitu yakin bisa mengalahkanku, padahal kau cuma banyak bicara saja. Kalau begitu coba buktikan padaku?" Jawab bandit itu.
"Baiklah, persiapkan dirimu"
Aku mulai berlari dengan cepat mendekatinya, aku menebasnya tapi dia berhasil menghindarinya.
"Ternyata omonganmu itu, cuma omong kosong" ucap pria itu.
"Begitukah menurutmu?" dengan cepat aku langsung mendang perutnya hingga ia terjatuh.
"Siall, ternyata tebasan itu hanya pancingan. Agar kau bisa mengalihkan pandanganku"
"Tentu saja, bertarung itu bukan cuma otot yang dipakai. Tapi harus pakai otak juga," jawabku dengan sombong.
"Boleh juga upacanmu itu."
"Maaf aku buru buru, jadi kau tidur saja disini" jawabku sambil memukul perut pria itu.
__ADS_1
Ia langsung tidak sadarkan diri, dan aku mulai melanjutkan perjalanan kembali.
"Yulise, semoga kau baik baik saja" ucapku sambil berjalan melanjutkan perjalanan.