Final Fantasi

Final Fantasi
Ch. 2 - Kota Kerajaan Armest


__ADS_3

Suasana menjadi tegang, aku memberanikan diri bertanya.


"Apa misi yang akan Anda berikan kepada saya yang mulia?" Tanya aku dengan serius.


"Misinya adalah membunuh Naga Hitam yang tinggal di gunung terlarang," jawab raja.


"Memangnya kenapa, Anda memerintahkan saya untuk membunuh naga hitam?"


"Karena, Nlnaga hitam adalah naga terkuat yang harus dikalahkan oleh seorang pahlawan."


"Baik yang mulia, saya terima misi ini dengan senang hati."


"Putriku akan ikut bersama Anda, untuk membantu Anda agar tidak tersesat diperjalanan nanti."


"Tapi yang mulia, bukankah Anda bisa memberi peta saya tanpa harus membawa putri Anda."


"Memang benar, tapi peta di dunia ini menggunakan sihir. Hanya raja dan penerusnya yang bisa membacanya," jawab raja dengan tegas.


"Baik yang mulia, saya akan membawa putri Anda dalam perjalanan nanti."


"Yulise kemari, kau akan pergi membimbing tuan pahlawan diperjalanan."


"Baik ayah, perkenalkan nama saya Yulise Ambrein Armest. Panggil saja Yulise saja tuan pahlawan."


"Namaku Sorata Umaki, panggil saja Sorata. Mulai sekarang mohon bantuannya."


"Baik, tuan Sorata saya juga."


"Bagaimana, apa kakakku cantik?" Tanya Sina sambil tiba-tiba Sina muncul dari belakangku.


"Sejak kapan kau berada dibelakangku," jawabku terkejut.


"Tuan Sorata bahkan tidak menyadariku, padahal aku dari tadi di belakangmu. Jahat sekali, kak Sorata" jawab Sina sambil menangis.


"Jahat?" Jawabku dipenuhi tanda tanya.


"Sudahlah Sina jangan menagis, nanti kakak kasih salah satu gelang kakak."


"Baik, tapi aku mau 25 gelang kakak" jawab Sina dengan senyuman jahat.


"Adik sialan, beraninya kau memeras kakakmu ini." Ucap Yulise dengan kesal.


"Terserah aku saja kak," jawab Sina sambil menjulurkan lidahnya keluar.


"Hari ini kalian pergi ke kota, untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan dalam perjalanan nanti. Sina kamu kembali ke kemar," ucap raja dengan tegas.


"Baik, ayah" jawab Sina pergi ke kamarnya.


"Kami pergi dulu ayah, ayo kita pergi tuan pahlawan."


"Tapi saya tidak punya uang di dunia ini, yang mulia."


"Maaf, pengawal bawakan uangnya kemari" ucap raja.


"Ini jumlahlah 200 keping Emas, yang mulia" jawab pengawal sambil memberikan uangnya kepada rata.


"Bawa uang itu buatmu, tuan pahlawan."


"Baik, terimakasih banyak yang mulia."


Ahirnya aku dan Yulise pergi ke kota kerajaan ini, kotanya sangat ramai banyak penjual makanan dan juga banyak anak anak yang sedang bermain. Tapi anehnya Yulise menyamar, dia memakai jubah mungkin dia tidak mau ketahuan oleh orang orang.


"hey, Yulise apa kau mau makan daging bakar?"


"Ya aku mau, ayo kita beli tuan Sorata."


"Paman, daging bakarnya 6 tusuk."

__ADS_1


"Oke, duduklah dan tunggu sebentar."


"Baik, Yulise apa tidak apa-apa aku memanggilmu seperti itu? Aku jadi merasa tidak enak padamu."


"Tidak apa-apa, tuan pahlawan."


"Pesanannya siap, ini silahkan ambil tuan dan nyonya."


"Berapa harganya paman?"


"Semuanya jadi 6 keping perunggu."


"Baik, ini paman 1 keping emas."


"Aduh, tidak ada kembalian. Apa Anda tidak punya uang kecil?" Tanya penjual.


"Biar saya yang bayar, ini uangnya paman."


"Ya, terimakasih,"


"Aku tidak menyangka, kau membawa uang pecahan kecil."


"Sebenarnya ayahku selalu mengajariku cara berhemat, karena itu aku membawa uang pecahan kecil."


"Dia ayah yang baik, kau pasti bangga padanya."


"Bagaimana ayahmu, tuan Sorata?"


"Kalau begitu ayo cepat kita cari toko senjata, dan kita makan daging bakar ini sebelum dingin" jawabku mengalihkan pembicaraan.


"Tuan sorata disana, ayo kita masuk!"


"Selamat datang, mau pedang? Jirah? Apa saja, pesanan kami juga kami terima."


"Paman saya mau jirah untuk tangan, sama perisai, dan juga baju tempur."


"Bagaimana menurutmu Yulise, apa jirah ini sangat cocok untukku?"


"Menurut saya, yang cocok untuk Anda cuma jirah tangan saja."


"Paman saya ambil jirahnya saja, berapa harganya?"


"Yah, kalau cuma jirah tangan 3 keping emas."


"Ini paman, terimakasih."


"Ya, selamat datang kembali."


Setelah itu kami berjalan kembali menuju istana, tanpa disangka kita dihadang 3 bandit yang menggunakan pedang. Mereka mau mengambil uang, dan seluruh peratanku termasuk pedang yang ada di punggungku.


"Yo, kakak cantik mau main bersama kami? Dan sebelum itu untuk kau, serahkan seluruh uang dan barang barangmu semuanya"


"Benar, serahkan jika tidak kau akan kami habisi Hahaha."


"Tuan Sorata sekarang bagaimana?"


"Kau mundurlah Yulise, biar aku yang menangani mereka"


"Kau mau menghadapi kami bertiga lucunya kau, berhenti bercanda bocah. Serang!" meraka bertiga mulai menyerang menggunakan pedang.


"Kalian meremehkanku, asal kalian tau aku bukan orang baik yang bisa menahan emosi" aku mengeluarkan pedang hitam.


"Lihat itu pedang hitam, aneh sekali!"


"Benar baru kali ini, aku melihat pedang hitam."


"Jangan banyak bicara, ayo kita serang bersama-sama."

__ADS_1


Mereka menyerangku dari kiri, depan, dan kanan dengan pedangnya. Dengan cepat aku menahan serangan mereka, dengan dengan pedangku.


"cringgg" benturan pedang.


"Sial dia berhasil menahan serangan kita, sebenarnya siapa dia sebenarnya."


"Hanya segitu kemampuan kalian?"


"Jangan meremehkan kami, ayo kita serang kembali."


"Tunggu, aku merasakan dia menjadi kuat. Sebaiknya kita mundur?"


"Jangan jadi pengecut kalian berdua, ayo kita serang bersamaan."


Mereka menyerangku bersamaan lagi, aku menghindari semua tebasan mereka. Dan dengan cepat aku memukul perut, menendang punggungnya, dan memukul kepala mereka.


"Sial dia, kuat ayo kita pergi" mereka bertiga melarikan diri.


"Tuan Sorata anda baik baik saja?"


"Ya aku baik baik saja, tapi entah kenapa aku meresa kuat. Meskiun lv masih 1"


"Anda harus sering berlatih menaikan lv anda, agar anda bisa secepatnya menjadi kuat dan bisa mengalahkan Komandan Raja Iblis."


"Tapi latihan seperti apa, agar lv kekuatanku bisa cepat-cepat naik."


"Caranya mudah, anda hanya perlu mengalahkan monster monster dengan begitu lv anda akan cepat naik dengan pesat."


"Jadi begitu ya, bisa kau antar aku tempat yang ada monsternya?"


"Ayo kita ke hutan, ikuti saja saya tuan Sorata?"


"Baiklah, ayo kita pergi."


Aku dan Yulise pun terus berjalan dari kota ke hutan, ternyata jaraknya jauh. Namun Yulise terlihat biasa saja seperti tidak kelelahan, ahirnya kita sampai.


"Wah hutannya luas sekali, apa kau sering datang ke sini?"


"Tidak juga, tapi aku ingat semua jalan yang ada melalui peta."


"Kau jenius, aku tidak percaya kau hapal semua jalan yang ada di kerajaan Armest ini."


"Itu karena, ayah selalu mengajariku agar suatau hari aku tidak tersesat di kerajaanku sendiri."


"Hebat sekali, belajar dari dulu."


"Ayo kita masuk hutan tuan Sorata."


Aku dan Yulise pun memasuki hutan, dihutan itu banyak pohon-pohon besar dan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Baru pertama kali aku melihat hutan seindah itu, tiba-tiba ada sesuatu di dalam semak.


"Kresek, kresek" suara dalam semak.


"Yulise, menurutmu apa yang ada dalam semak itu?"


"Menurut saya mungkin itu seekor kelinci atau seekor tupai."


Tiba tiba muncul seekor harimau yang sangat besar, harimau itu terlihat sangat lapar dan melihat aku dan Yulise seerti makanan.


"Hey Yulise, apa ini termasuk monster lemah untuk mulai menaikan lv kekuatan?"


"Ya, benar Tuan Sorata ini termasuk hewan yang banyak diburu dan termasuk yang lemah."


"Baiklah, aku akan mulai menghadapinya."


"Tap, tap, tap," suara langkah kaki dari belakang.


"Suara langkah kaki! Yulise suara langkah kaki siapa itu?"

__ADS_1


Saat aku melihat kebelakang, ternyata Yulise meninggalkanku. Dia benar benar perempuan, yang pandai dalam membohongiku.


__ADS_2