
Saat aku membuka mata, aku sudah ada ditempat yang tidak aku kenal.
"Dimana aku?" sambil memegang kepala, dan dalam keadaan duduk.
"Ahirnya, Anda sudah bangun tuan pahlawan" ucap seseorang yang berpakaian hitam.
"Siapa kau? Apa kau menculikku?"
"Tentu saja tidak tuan, Anda adalah orang yang terpilih untuk menyelamatkan dunia ini"
"Jangan membodohiku, Aku tidak percaya padamu. Kau orang asing yang mencurigakan"
"Kalau begitu, biar saya memperkenalkan diri. Nama saya Zulius saya pengikut gereja"
"Pengikut gereja! Ini mimpi yang aneh"
"Ini bukan mimpi, sebagai bukti lihatlah pedang di punggung Anda."
"Pedang apa ini? Aku tidak butuh pedang ini" sambil melepas pedang dari punggungku.
"Saya mengerti, jika Anda kesal karena dipanggil tiba-tiba."
Aku tidak mendengarkan upacan pria itu, aku mencoba melemparkan pedang itu. tiba-tiba terjadi sengatan listrik yang membuatku kesakitan, sehingga tenagaku terkuras.
"Kenapa tiba-tiba ada sengatan listrik? Jika ini mimpi, tidak mungkin bisa terasa sakit seperti ini" tiba-tiba muncul peringatan, "dilarang membuang pedangmu."
"Apa-apaan dunia ini!"
"Bagaimana, apa Anda sudah sadar?"
"Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu."
"Dunia ini sedang dalam keadaan kritis, Maou sudah melepaskan ribuan monster-monster dan iblis untuk menyerang desa-desa secara bebas."
"Aku bukan anak kecil, yang percaya pada omong kosongmu" ucapku sambil menodongkan pedangku.
"Maafkan saya tuan, saya akan menunggu sampai suasana hati tenang."
Kemudian datang lagi 5 orang yang memakai pakaian hitam, mereka menemui Zulius.
"Bagaimana keadaan tuan pahlawan?"
"Dia sudah sadar, itu disana!"
"Tuan pahlawan, tolong bantu kami untuk menyelamatkan dunia ini."
"Aku tidak mau membantu kalian. Bagaimana cara agar aku bisa kembali ke duniaku?"
"Sebelumnya kami meminta maaf, anda tidak akan bisa kembali sebelum mengalahkan Maou."
"Ouh, jadi kalian berenam memaksaku! Baiklah, kalau begitu kalian akan aku tebas" ucapku sambil berlari ke arah mereka.
Aku dengan cepat mencoba menebas mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka menahan seranganku.
"Cringg" benturan 2 pedang.
"Tuan pahlawan tenanglah, dan dengarkan penjelasan kami dulu. Di gereja kita tidak boleh bertarung."
"Aku tidak peduli, pokoknya aku harus kembali ke duniaku" ucapku dengan marah.
"Emosinya ternyata belum padam" ucap Zulius.
"Sepertinya, kita salah memanggil pahlawan."
__ADS_1
"Tidak mungkin, kita sudah membuat lingkaran pemanggilan dengan benar."
Kemudian aku terus menyerang pengguna pedang itu, benturan pedang terus terjadi.
"Tuan pahlawan berhenti, apa anda tidak kasihan pada ayah dan ibu Anda. Mereka pasti sedih melihat Anda seperti ini, jadi jangan sia-siakan nyawa Anda" ucap Zulius.
Seketika aku berhenti, dan menjatuhkan pedangku. Tanpa aku sadari, air mataku tiba-tiba menetes.
"Maafkan aku ibu, aku menjadi seperti ini. Aku memang tidak berguna" sambil terjatuh.
"Kelihatannya, sekarang kebenciannya mulai hilang."
"Sekarang kita bisa mengantarkan tuan pahlawan, kepada yang mulia."
"Tolong ikuti kami, tuan pahlawan" ucap Zulius.
"Baiklah"
Mereka berenam, membawaku ke istana yang sangat besar. Disana banyak penjaga, aku kemudian dibawa masuk menemui raja.
"Yang mulia, ini pahlawan yang terpanggil."
"Baik, kalau begitu kalian berenam kembalilah."
"Baik yang mulia" mereka berenam pergi meninggalkan tempat itu.
Raja langsung menatapku, aku dengan cepat memberi hormat.
"Yang mulia, saya menghadap."
"Selamat datang di kerajaanku, tuan pahlawan. Maafkan saya tiba-tiba memanggilmu."
"Tidak apa-apa yang mulia."
"Nama saya Sorata Umaki, kelas 3 sma, umur 18 tahun."
"Kalau begitu perkenalkan juga, saya adalah Pelix Trans Armest. Saya raja di kerajaan ini."
"Apa yang harus saya lakukan untuk Anda, yang mulia."
"Pertama boleh saya, melihat Status Anda tuan pahlawan."
"Status! Apa maksudnya Anda yang mulia?"
"Status hanya dimiliki para pahlawan, tekan yang ada di kanan penglihatanmu Anda" ucap penasehat kerajaan.
"Ouh ini, gawat juga. Lv 1, hp 500, mp 500, attack 450 dan skil belum terbuka."
"Untuk sekarang, Anda beristirahat dulu. Pelayan antarkan tuan pahlawan ke kamarnya."
"Dengan senang hati yang mulia."
Setelah itu, raja memerintahkan pelayan kerajaan untuk mengantarkan aku ke kamar peristirahatan.
"Tuan pahlawan, sepertinya Anda terlihat sangat kelelahan."
"Aku memang kelelahan, tadi aku kira ini semua hanya mimpi ternyata ini kenyataan."
"Kami hanya bisa berharap, agar Anda bisa menyelamatkan dunia ini. Ini mungkin terdengar egois, tapi saya tidak rela banyak orang-orang meninggal karena ulah Maou."
"Baik, saya akan berusaha."
"Terimakasih, ini kamar tuan. Semoga malam Anda menyenangkan" sambil pergi.
__ADS_1
"Baik terimakasih."
Aku membuka pintu, didalam kamar ternyata ada banyak makanan yang sudah disediakan kerajaan untukku. Aku merasa bersalah sudah bersikap tidak sopan pada Zulius, dan menyerangnya bersama teman temannya.
"Besok aku harus meminta maaf, pada Zulius. Aku malah melampiaskan kekesalanku padanya."
"Anda tidak perlu meminta maaf, karena itu salah kami" didepan jendela luar.
"Tuan Zulius" sambil membuka jendela.
"Tenang saja, kami sudah memaafkanmu tuan pahlawan."
"Terimakasih banyak, saya sangat menyesal."
"Saya melihat tatapan Anda waktu itu, Anda terlalu banyak dipenuhi beban."
"Anda benar, tuan Zulius."
"Liat bulan dan bintang yang indah itu, indah bukan. Pastikan besok, Anda menikmati hari hari selagi sempat."
"Wah indah sekali, baik saya akan berusaha agar menikmatinya. Apa maksud Anda selagi sempat?"
Zulius melompat dari kamarku yang tinggi, dan mendarat dengan sempurna. Ia kemudian pergi, sambil berlari.
Keesokan harinya tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, karena aku masih ngantuk aku membiarkannya. Tiba tiba ketukan itu semakin keras membuatku telingaku sakit, aku bergegas membuka pintu.
"Siapa itu? Brisik" sambil membuka pintu.
Ternyata itu adalah seorang perempuan dengan umur kira kira 13 tahun, dengan mata biru, rambut kuning dan panjang. Baru kali ini aku melihat wanita secantik dia, tapi dia lagi nangis.
"Hik,hik,hik" suara tangisannya.
"Kenapa Anda menangis nona?" tanya aku dengan senyuman ramah.
"Aku menangis, karena tuan pahlawan memarahiku. Hik,hik hik" tangisannya malah makin kencang.
"Maaf aku kita tadi ada pencuri, yang mau mencuri pedangku dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi ternyata aku salah"
"Benarkah, tuan pahlawan tidak marah padaku"
"Tentu saja tidak, tidak ada alasan bagiku memarahi wanita cantik sepertimu."
"Benarkah?" tanya dia dengan tatapan penuh harapan.
"Tentu saja."
"Syukurlah, ayah menyuruhku memanggilmu."
"Ayah siapa dia?" ucapku dengan penasaran.
"Raja di kerajaan ini."
"Ouh, yang mulia. Tunggu siapa kau sebenarnya?"
"Aku putri ke 2, namaku adalah Sina mesmer Armes. Panggil saja Sina, tuan pahlawan" jawab dia dengan tersenyum.
"Kalau begitu, panggil aku Sorata saja."
"Baiklah tuan Sorata, ayo kita pergi menemui ayah."
"Baiklah ayo kita pergi!"
Sesampainya di hadapan raja, aku melihat seorang gadis lagi umurnya kira kira 15 tahun. Mungkin saja di kakaknya Sina, tiba tiba dia meliat kearahku.
__ADS_1
"Baiklah tuan pahlawan, aku akan memberimu tugas membunuh Naga Hitam" ucap raja dengan serius.