Final Fantasi

Final Fantasi
Ch. 3 - Serangan Seekor Harimau


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya tidak ada pilihan lain, aku harus mengalahkannya" ucapku sambil mengambil pedang yang ada di punggungku.


"Meaummm," harimau itu mulai mendekatiku.


Dia mulai menyerangku tanpa ragu, dengan menggunakan cakarnya yang sangat tajam. Aku menghindari cakarannya, jika aku terkena serangannya maka nyaku dalam bahaya.


Aku berlari mendekatinya dengan cepat dan menyerang dengan tebabasan, tapi ia menghindarinya dengan mudah.


"Harimau, kau sepertinya lapar sekali? Tapi maaf saja aku tidak akan menjadi makananmu" ucapku sambil nengarahkan pedangku kearah harimau.


"Meauumm," harimau menyerang menggunakan cakarnya lagi dari arah kanan dengan gerakan cepat.


Aku terus menahan serangan cepatnya menggunakan pedangku, aku mencoba kembali menyerangnya. Aku berlari mendekatinya, dan menebas kakinya namun ia meloncat menghindari seranganku.


Dia meloncat menincar leherku, tapi aku menebas dadanya sambil menghindari serangannya. Harimau itu berdarah dan mundur tapi ia tidak menyerah, kemudian aku melemparkan pedangku ke arah harimau itu.


Tapi ia berhasil menghindari pedangku, seranganku melesat. Pedangku menancap ke pohon, ia seketika berlari mendekatiku dan mencakarku dari kiri. ahirnya aku terpaksa menggunakan tanganku untuk menahan serangannya hingga aku terbentur ke pohon.


"Sial, dia sangat kuat. Mungkin aku yang lemah."


Aku dengan cepat berlari kearah pohon itu, harimau itu juga dengan cepat mengerjarku dari samping. Saat aku menyentuh pedang dia melompat mencoba menerkamku, nyawaku terasa diujung tanduk.


Setelah itu, dengan cepat aku menarik pedangku dari pohon. Kemudian dengan cepat aku berbalik ke belakang, dan langsung menebas kepala harimau sehingga kepalanya terputus. Nyaris saja kepalaku digigit harimau, dan ahirnya lv kekuatanku meningkat.


"Lv 2, hp 550, attack 500, mana 550. Lawannya kuat tapi cuma dapat 60 xp, mengecewakan. Aku kira bisa langsung lv max"


Tiba tiba terdengar suara lagi dari semak semak, suara itu semakin mendekat cukup jauh, makin dekat, dekat, sangat dekat dengan cepat aku bersiap bertarung lagi.


"Kresek, kresek" ahirnya muncul ternyata itu Yulise.


"Yo, tuan putri sepertinya kau baik baik saja?Syukurlah, dan terima kasih sudah meninggalkanku."


"Ya, terimakasih tuan Sorata sudah menghawatirkan saya" Yulise sambil tersenyum.


"Tuan putri benar benar bijak, meninggalkan saya sebagai umpan."


"Maafkan saya tuan Sorata, saya menyesal. Saya kira Anda tidak akan menang, jadi untuk berjaga-jaga menyelamatkan diri saya berlari meninggalkan tuan Sorata."


"Baiklah tuan putri, ayo kita kembali ke kerajaan."


"Tunggu, lihat pedang Anda?" Tanya Yulise sambil menunjuk pedangku.


"Memangnya kenapa?" Ucapku sambil melihat pedangku.


"Pedang Anda menyerap darah harimau,"


"Sebenarnya, pedang macam apa ini?"


"Dulu saya pernah membaca buku tentang pedang penyerap darah, jika terus seperti ini bisa-bisa-"


"Bisa-bisa?"


"Saya lupa tuan Sorata, jadi jangan dipikirkan."

__ADS_1


"Kenapa lupa? Tapi ya sudahlah, aku lelah dan ingin beristirahat."


"Ayo, tuan Sorata kita kembali ke kerajaan."


Kami kembali ke kerajaan, di tengah perjalanan angin berhembus menyegarkan. Burung burung berterbangan dilangit, dan pohon pohon hijau yang menyejukkan.


Baru kali ini aku merasakan kebebasan, aku senang bisa datang ke dunia ini.


"Tuan Sorata, apa Anda tau tentang dua pahlawan lainnya?"


"Tidak, yang aku tau mereka pengguna tombak dan panah kan?"


"Benar, mereka mungkin sudah datang ke dunia ini"


"Ya mungkin, aku juga tidak sabar ingin segera bertemu mereka"


Ahirnya kami berdua sampai di istana, dan aku kembali ke kamarku. Setelah masuk kamar, minuman dan makanan sudah disediakan oleh pelayan kerajaan, setelah itu aku berbaring diatas kasur.


"Tok, tok, tok," Yulise mengetuk pintu.


"Masuk saja, pintunya tidak aku kunci."


"Tuan Sorata, ayah memanggilmu lagi?" Ucap Yulise sambil membuka pintu.


"Lagi! Padahal aku baru saja mau tidur."


"Ayo cepat, tuan Sorata" jawab Yulise dengan terburu buru.


"Baik, tunggu aku bersiap-siap dulu. Baik mari kita pergi "


"Saya yakin dia akan membahas perjalanan kita besok" jawab Yulise sambil berjalan.


"Tuan pahlawan, selamat datang kembali" ucap Sina tiba-tiba muncul.


"Kau habis dari mana tuan putri ke dua?"


"hemm, panggil aku Sina saja tuan pahlawan."


"Baik, kau darimana Sina?"


"Aku habis baca buku di ....."


"Sudah Sina, cepat kamu kembali ke kamarmu dan selesaikan tugasmu?"


"Kakak jahat, kenapa kakak tidak membantu aku menyelesaikan tugasku"


"Itu tugasmu sendiri, jadi harus diselesaikan sendiri. Jadi kerjakan saja secara perlahan"


"Tolong, bantu aku kak?"


"Cepat kembali ke kamarmu sina, nanti kakak laporkan ayah jika kamu tidak menurut."


"Baiklah kakak, sampai jumpa besok tuan pahlawan" ucap Sina sambil melambaikan tangan dan kemudian berlari ke kamarnya.

__ADS_1


"Kau beruntung sekali Yulise, punya adik baik seperti Sina."


"Ya, tapi sipat manjanya selalu membuat aku kerepotan."


Ahirnya kami sampai dihadapan raja, aku memberi hormat pada raja. Yulise kembali ke sisi kiri raja, dan berdiri di sebelahnya.


"Maaf memanggilmu lagi, tuan pahlawan."


"Tidak apa apa yang mulia, sebenarnya ada apa engkau memanggil hamba yang mulia?"


"Sebarnya besok kau akan memulai misimu, untuk membunuh naga hitam bersama yang Yulise" ucap raja.


"Baik, saya siap yang mulia."


"Baguslah, tuan pahlawan. Anda satu-satunya harapan kami dan dunia ini, jadi berjuanglah untuk besok."


"Tapi bukankah berbahaya, jika seorang putri ikut pejalanan-"


"Tenang saja tuan pahlawan, Yulise memiliki sihir penyembuh dan jika ada bahaya di bisa mengatasinya."


"Mengatasinya, maksud anda Yulise bisa bertarung?" Tanya aku dengan serius.


"Tidak, tapi dia bisa berlari dan pulang ke istana dengan cepat."


"Ternyata itu ajarannya raja, pantas saja tadi Yulise lari untuk menyelamatkan diri" ucapku dalam hati.


"Ya tuan Sorata, saya bisa berlari jika ada bahaya" jawab Yulise dengan bangga.


"Lalu, apa untungnya buat saya yang mulia?"


"Itu jelas berguna bagimu tuan pahlawan, dengan begitu kau tidak perlu melindunginya dan kau bisa terus pokus bertarung."


"Baiklah yang mulia, saya akan melaksanakan misi tingkat S darimu besok. Tapi dimana sarang Naga Hitam itu?"


"Dia berada di gunung terlarang, dan butuh waktu lama untuk sampai ke sana."


"Memangnya apa kamampuannya yang mulia?" Tanyabaku dengan serius.


"Yulise tolong kau jelaskan?"


"Baik ayah, kemampuannya adalah menyemburkan api yang bisa membuat besi meleleh, dan cakarnya bisa membelah apapun yang ia cakar. Saya baru ingat, bahwa sudah ada ratusan petualang yang mencoba mengalahkannya, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang selamat."


"Seperti itulah tuan pahlawan, ini misi yang berbahaya. Jadi kau harus bisa menjadi kuat selama diperjalanan," ucap raja.


"Baiklah yang mulia, dan bisa panggil saya dengan Sorata saja?"


"Baiklah tuan Sorata, kalau begitu kalian berdua cepatlah beristirahat. Agar besok kalian bisa memulai perjalanan, dengan bersemangat."


"Baiklah ayah."


"Baiklah yang mulia."


Aku pun kembali ke kamarku untuk beristirahat, malam pun kembali tiba. waktu hampir tidak terasa, aku harap besok semuanya akan lancar.

__ADS_1


Malam ini aku putuskan untuk tidur lebih awal, agar diriku besok bisa bersemangat kembali dan memulai perjalanan membunuh naga hitam.


__ADS_2