
Kami berjalan masuk bersama. Aku menyuruh Yan Yan untuk menunggu di ruang TV, sedangkan dokter dan aku masuk ke kamar Li Mingyu untuk memeriksa keadaannya.
Aku masih tidak tega melihat penampilannya tertidur seperti itu. Apakah ini salahku?
Apa dia memaksa memakan makananku yang sebenarnya tidak enak? Atau baju yang ku cuci tidak bersih? Apakah sebenarnya dia ingin jalan-jalan keluar, tapi karena ada aku jadi dia tidak pernah meluangkan waktu untuk itu? Jadi, dia mulai suntuk dan sakit-sakitan? Aku benar-benar tidak tahu...
Dokter Xu dan aku masuk ke kamar.
Dokter mulai memeriksa denyut jantung Li Mingyu menggunakan stetoskopnya.
XY: "Nyonya, terakhir kali berapa suhu tubuhnya? Apakah Anda sudah mengeceknya?"
QM: "Ah, oh, ya. Saya sudah mengeceknya, terakhir kali masih 38°c, Dokter."
Astaga, dasar Qi Mingxia bod*h, aku melamun dan tidak mendengarnya bicara.
QM: "Ba-bagaimana keadaannya, Dokter Xu?"
XY: "Tidak perlu khawatir, Nyonya Li. Suami Anda sedang kelelahan, beliau kekurangan darah dan tekanan darahnya rendah, juga mengalami dehidrasi yang cukup tinggi."
QM: "Banyak sekali penyakitnya..."
XY: "Jangan khawatir, Nyonya. Saya akan meresepkan obatnya. Dan untuk makanannya berikan makanannya yang mengandung banyak zat besi, seperti sayur mayur, kemudian sering-seringlah untuk mengingatkan beliau untuk minum air putih. Saya juga akan meresepkan obat yang menambah selera makan."
Dokter Xu menjawab dengan wajah tersenyum ramah.
QM: "K-kompresnya, lebih baik menggunakan apa, Dokter?"
XY: "Saya sarankan, lebih baik menggunakan kain hangat, Nyonya. ltu lebih efektif. Dan ini resep obatnya."
QM: " Ah, baik. Terima kasih banyak, Dokter."
Apa aku salah dengan memberinya kompres plester? Ah, tentu saja tidak! Saat itu aku juga tidak bisa menjaganya. Dengan plester kompres itu sudah paling efektif!
Setelah itu, kami keluar.
Aku menyapa Yan Yan yang sedang menonton TV. Sepertinya dia terlihat sangat senang? Apa-apaan ekspresinya yang berbinar-binar itu? Dasar! Ha-ha! Dia memang sahabatku!
QM: "Hoi, Yan Yan. Jangan datang kemari kalau tidak ku undang! Dasar!"
YY: "Tenang saja! Aku akan sering-sering datang! Hwa-ha-ha!"
Dasar... padahal aku serius. Kalau sampai dia bertemu Li Mingyu yang aneh, jangankan masuk, bisa-bisa pintunya bahkan tidak akan dibuka.
XY: "Yu Yan, ayo kita pulang. Biarkan Nyonya Li istirahat. Anda terlihat lelah, Nyonya. Sebaiknya Anda juga istirahat. Saya pamit dulu."
QM: "Ah-ha-ha. Sepertinya benar. Anda tidak perlu terburu-buru. Terima kasih Dokter Xu. Hati-hati di perjalanan."
QM: "Yan Yan, kau juga. Hati-hati ya.. Dahh,"
Mereka sudah pergi sekarang. Rasanya jadi sepi... huft...
Aku juga sangat lelah sebenarnya.
Tapi, aku harus memesan obat-obatan yang diresepkan Dokter Xu, aku melakukan pemesanan online di apotek.
Sambil istirahat sebentar, aku duduk di sofa ruang TV sambil menyalakan TV tentunya, walaupun sebenarnya aku tidak menontonnya. Itu merupakan sarana peramai suasana, karena aku tidak suka keheningan.
15 menit kemudian,
Pesananku datang, dan aku mengambilnya. Sebenarnya, perasaanku agak mengganjal daritadi, seperti ada yang kurang...
Oh, kompresnya!
Aku segera pergi ke dapur, menghangatkan air di kompor, mengambil baskom dan kain. Setelah cukup hangat, aku mengangkat pancinya dan menuangkannya di baskom.
Kemudian, kembali ke kamar Li Mingyu.
Dia masih tertidur.
Aku memeras kain, dan menatanya di dahi Li Mingyu.
Aku mengambil kasur lipat dan membeberkannya di lantai kamar Li Mingyu.
Agar saat dia membutuhkan sesuatu, aku bisa segera membantunya. Aku juga harus mengganti kompresnya setengah jam sekali.
Aku mulai berbaring di kasur lipat. Rasanya sangat nyaman. Aku jadi berpikir, aku sedang tidak menabur biji di atas batu* kan?
Untung saja besok libur. Jadi, setidaknya aku bisa sedikit santai.
__ADS_1
*Idiom: Bekerja/berkorban secara sia-sia
Aku merilekskan tubuh dan pikiranku, kemudian mengatur alarm di ponsel setiap setengah jam sekali. Sepertinya, 5 menit setelah memejamkan mata aku tertidur?
***
Jam 2 pagi,
Mingyu's POV
Tiit -Tiit...
Tiit -Tiit...
Ukh... suara alarm ponsel?
Berisik sekali...
Siapa yang menyalakan alarm jam 2 pagi?
Aku bangun dari kasur, duduk, dan ingin melihat ponsel milik siapa yang berbunyi begitu keras.
Ah! Kompres?
Tiba-tiba sebuah kompres kain jatuh dari dahiku, sebelumnya aku tidak sadar itu menempel di dahiku.
Melihat ke bawah kasur, aku tidak percaya. Wanita ini... kenapa tidur di sini?
Dan, tunggu... Sepertinya, terakhir kali aku masih di dapur? Atau aku memang sudah ke kamar terlebih dulu?
Walaupun sekarang sudah mereda, tapi sebelumnya kepalaku sangat pusing hingga membuatku lupa?
Konyol sekali.
Saat hendak mengambil ponsel milik Mingxia, tiba-tiba dia terbangun.
QM: "Oh... Sudah lagi? Cepat sekali..."
Apa yang dia gumamkan? Tidak terdengar jelas, dia seperti mengigau.
Aku masih melihatnya saat mata kami bertemu.
5 detik kemudian,
QM: "Akh! Li Mingyu, kau sudah bangun!"
Wanita ini, kenapa dia terlihat sepanik ini?
QM: "Aku akan mengambilkanmu air hangat. Jangan kemana-mana!"
Aku melihatnya dengan aneh, kondisiku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, sepertinya dia terlalu...khawatir?
Heh- pasti hanya pura-pura!
Aku tersenyum tak percaya jika hal yang kubayangkan benar-benar terjadi. Padahal aku tidak ingin berurusan dan mengandalkannya, pasti dia sangat jengkel padaku.
Sampai tidur di sini, jelas sekali kepura-puraannya itu! Padahal aku sudah bilang jangan pernah masuk kamarku tanpa izin!
Apa dia sudah berhasil menggeledah kamar ini?
10 menit kemudian,
Wanita itu, Mingxia, kembali lagi. Dia membawa air dan makanan?
Aku melihatnya, dia benar-benar wanita yang tidak tahu malu.
QM: "Ah, Mingyu. Ini, minumlah dulu."
Dia mengatakan itu sambil menyodorkan gelas.
Belum sampai aku menerimanya, gelas itu sudah terlepas dari tangannya.
Alhasil, tentu saja! Air itu tumpah ke seluruh kasur, terutama di tubuhku. Walaupun itu air hangat, tetap saja rasanya akan sedikit panas saat terkena kulit.
Apa dia sengaja?! Wanita ini benar-benar!
Aku mendesis sakit karena itu,
LM: "Shh-"
__ADS_1
QM: "Ah, Astaga! Astaga apa yang aku lakukan! S-sebentar! Ap-apa kau bisa berdiri? Selimutnya!"
Aku sangat marah sebenarnya!
Tapi, respon wanita ini tidak seperti dia sudah merencanakan sesuatu.
Dia dengan cepat menarik selimut yang tertumpah air. Mengambil lap dan seperti ingin mengeringkan tubuhku, tapi dia terlihat ragu-ragu.
QM: "A-apa kau kuat berdiri? Ayo, aku bantu."
Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku. Heh- siapa yang butuh!
Aku pikir hanya berdiri akan mudah. Tak kusangka kepalaku menjadi lebih pusing saat hendak berdiri. Itu membuatku tumbang,
'Tep-'
QM: "Cih! Dasar keras kepala! Ayo, aku bantu."
Dia mengumpat? Dan walaupun, perkataannya adalah ajakan, tapi sebenarnya tangannya sudah meraihku saat dia mengatakannya.
Dia mengantarku ke kamar mandi.
QM: "Jangan banyak berpikir dan diam di sini. Mengertilah, ini bukan permintaan tapi perintah! Jangan buat aku repot lebih lama! Aku akan mengambilkanmu pakaian, tunggu di sini."
Entah kenapa, setiap kali dia marah, tubuhku akan langsung merespon untuk menurut. Dan aku jadi merasa bersalah. Itu sangat aneh.
Padahal sudah jelas dia yang membuatku basah seperti ini. Tapi, dia juga yang marah.
Tentu saja, aku diam selama itu.
'Tok. tok'
Suara ketukan, berarti Mingxia sudah di depan pintu. Aku membuka sedikit pintunya, dan dia menyerahkan pakaiannya.
3 menit kemudian,
Aku sudah selesai dan keluar. Ternyata, dia menunggu di depan pintu kamar mandi, sambil menyender di dinding.
Matanya terpejam, dia mengantuk?
QM: "Hoammh... Oh, kau sudah selesai."
Sekarang aku sudah bisa berjalan secara stabil, jadi aku menolak uluran tangannya dan berjalan lurus kembali ke...
Kasurnya sudah bersih? Bagaimana bisa? Secepat itu?
QM: "Duduklah di kasur dan makanlah terlebih dulu."
Tubuhku bergerak dan duduk sesuai perintahnya. Ini seperti, aku sedang berusaha untuk tidak membuatnya marah.
Namun, pikiranku sebenarnya tidak seperti itu.
Kemudian, dia menyodorkan padaku air hangat lagi dan juga bubur yang masih hangat.
QM: "Li Mingyu, aku tau. Aku sangat tau bahwa kau pasti tidak menyukaiku, dan mungkin jengkel denganku. Tapi, tolong turuti permintaanku kali ini karena ini juga demi dirimu."
Setelah itu, dia berbalik dan mengambil beberapa obat-obatan, setelah itu menyerahkannya padaku.
QM: "Ini. Ini obat penurun panas, yang ini suplemen, dan ini air putih. Minum sebanyak-banyaknya. Apa kau mengerti?"
LM: "En,"
Aku reflek mengangguk, dia menjelaskan berbagai jenis obat-obatan dan waktu konsumsinya.
QM: "Bagus! Kalau begitu, aku akan tidur di sini, di lantai. Jika kau butuh bantuan, bangunkan saja aku."
Apa? Tidur di sini? Tidak boleh!
QM: "Aku tau aku akan menolaknya, tapi ini bukan permintaan, tapi pemberitahuan. Jangan banyak bicara, makan, minum obatmu, dan kembali tidur."
Ah, Ha? Apa?! Dia pikir dia siapa? Dasar wanita tak tahu malu!
Terserah, lakukan saja yang kau mau!
3 menit kemudian,
Apakah dia sudah tidur? Dia diam seperti orang mati.
-Bersambung-
__ADS_1