
QM :" Yi Zian?"
Mendengar nama itu, aku tak kuasa menahan tangis. Spontan air mataku menetes, padahal aku sudah bertekad untuk teguh dan melupakannya...
Aku jadi semakin keras berusaha untuk melepaskan diri dari, b*jing*n ini!
QM :"Lepas! Lepaskan aku!.. hiks"
Ya, aku menahan diri untuk berteriak karena ini adalah tempat umum, walau aku membencinya tapi aku tidak suka terlibat masalah.
Setelah berusaha beberapa menit, akhirnya dia melepaskan pelukannya itu. Wajahnya tertunduk, dan aku yang masih dengan genangan air di pelupuk mata, tidak bisa melihatnya secara jelas.
Aku menatapnya secara datar, dan bergegas untuk angkat kaki dari sini.
Tiba-tiba dia memegang pergelangan tanganku, saat baru saja aku melangkah kan satu kaki ku.
YZ :"Maaf... Maafkan aku Xixi.."
QM :"..."
YZ :"Aku minta maaf, ini semua salahku.."
QM :"..."
YZ :"Xixi.."
Ya, suaranya mulai memelan, terdengar sangat lirih dan sendu.
Aku tahu, mungkin dia sekarang menyesali perbuatannya, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk melupakannya.
QM :"Lepas."
YZ :" ..."
Tanpa berkata apapun dia melepaskan tanganku, walau secara perlahan. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena aku pergi meninggalkannya dengan cepat saat itu.
Aku segera menghentikan taksi dan bergegas pulang.
Kalau kalian ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara orang itu dan aku. Aku akan menceritakannya secara singkat.
Kami dulunya adalah senior dan junior dari waktu SMA sampai Perguruan Tinggi. Dan selama itu juga waktu kami berpacaran, ya hampir 6 tahun lamanya, aku selalu mendukung karirnya. Dan saat aku menerima musibah, ya, aku kehilangan ayahku saat itu, aku masih seorang mahasiswa tingkat akhir.
Rumahku dirampok, saat itu hanya aku dan ayah yang ada di rumah, itu terjadi pada malam hari, aku bersyukur hari itu ibu bekerja untuk shift malam. Listrik tiba-tiba padam, para perampok itu masuk ke rumah, dan ayah tak selamat karena melindungiku, sampai rekan polisinya datang.
Aku menerima musibah seperti itu, dan dia tidak pernah sekalipun menengokku atau sekedar mengirimkan pesan, sampai sekarang.
Aku, aku tidak tau lagi harus bagaimana, saat bertemu dengannya setelah 5 tahun tanpa kabar itu. Ya mungkin agak panjang, tapi begitulah singkatnya.
Akhirnya taksi yang aku tumpangi sampai di rumah, aku bergegas masuk rumah dan menuju ke kamar, menumpahkan seluruh tangisanku, sepertinya saat itu hari sudah hampir sore, dan aku belum makan apapun.
Mood awalku untuk memasak akhirnya hilang. Aku menangis di kamar dan mungkin tertidur, dan saat bangun pun jam menunjuk angka setengah 8 malam.
Akhirnya aku terpikirkan si sial*n Mingyu, apakah dia akan makan malam di rumah atau di luar. Aku ingin meneleponnya, tapi ku urungkan niat itu. Hah... lagi-lagi aku terpikirkan oleh laki-laki, lupakan! Aku akan memasak untuk diriku sendiri! Persetan dengan semua laki - laki itu!
Yah, jadi setelah itu aku mulai mengeluarkan bahan-bahan yang aku beli tadi. Hampir saja belanjaanku ketinggalan, huft..
__ADS_1
Aku mulai meracik dan mengolah sayur sayuran itu dan membumbuinya, walau aku tidak terlalu tahu makanan barat, tapi aku hampir menguasai semua masakan lokal! Siapa yang berani meremehkan kepandaian memasakku, he!
Hmm~, aku mencium bau harum dari masakanku sendiri, benar - benar terlihat lezat! Aku membawa makanan itu ke meja makan, dan aku juga menyiapkan teh untuk itu. Walaupun rumah yang begitu besar ini tak memiliki makanan, setidaknya koleksi teh nya lumayan lengkap!
Tentu saja aku sudah sangat lapar, karena dari tadi pagi aku tidak memakan makanan apapun, betapa mengenaskan nya!
Aku menyantapnya lebih dulu tanpa menunggu pria pemilik rumah ini, karena pasti dia sudah makan malam. Jangan lupa bahwa dia itu bos!
Setengah jam berlalu dan sekarang jarum jam berpindah tempat ke angka 8.
Karena tidak ada kesibukan lain, aku menolak untuk kembali ke kamar karena itu hanya akan mengingatkanku pada seorang pria sial*n kedua.
Langkahku agak gontai karena kekenyangan , yang benar saja, tadi aku seperti orang rakus yang tidak makan 3 hari!
Sambil memegangi perutku, aku melihat sofa ruang TV yang kosong dan segera mendatanginya.
Duduk di sofa, dan segera aku nyalakan TV berukuran 65 inchi itu. Dan acara reality show menjadi pilihanku.
Tak lama setelah itu, aku mendengar suara mobil yang semakin mendekat. Ku tebak itu pasti Li Mingyu. Lalu kenapa kalau dia, ya sudah biarkan saja, secara kilat aku mengembalikan konsentrasi kepada acara TV lagi.
'Ceklek'
Suara pintu terbuka, begitu jelas terdengar karena memang ruang TV berdekatan dengan ruang tamu dan pintu depan. Agak menakutkan membayangkan itu bukan Li Mingyu!
Tak lama suara langkah sepatu terdengar, aku memberanikan diri untuk melihat orangnya, ya walaupun sudah pasti itu Li Mingyu!
QM : "Oh, kau sudah pulang."
LM : " Hmm."
QM : " Aku tadi masak, kalau kau belum makan.. mau kuambilkan?"
Bukankah aku sudah seperti berperan menjadi istri yang baik, He?!
LM : "..."
LM : "Hm"
Hah? Apa? Dia bilang apa? Ya atau tidak??
'hm' itu iya atau tidak? Memangnya aku ini pembantumu! Setidaknya angkat satu pelayan di rumah ini! Memangnya kau mau menyuruhku untuk membersihkan rumah ini?!
Bisa - bisanya setelah mengucapkan itu dia langsung pergi!
Hah! Terserah! Aku akan siapkan makanan saja, kalau tidak dimakan ya sudah! Apa urusannya denganku! Setidaknya kalau ditanya baik - baik, jawab dengan benar! Aku kasihan pada ibu mertua mengahadapi anak aneh ini!
Setelah menyiapkan, aku kembali ke ruang TV untuk melanjutkan aktivitasku. Sambil membawa beberapa camilan yang aku beli tadi. Seandainya aku tidak membeli banyak kebutuhan, mungkin aku sudah mati bosan disini!
Beberapa menit baru berlalu, dan aku mendengar suara tapak kaki, aku melirik sedikit, dan benar itu langkah kaki Li Mingyu yang menuju ke dapur, dan dengan keadaan sudah berganti baju. Mungkin dia selesai mandi?
Karena aku tak pusing memikirkannya, tentu saja melanjutkan menonton adalah yang paling penting.
Tiba - tiba ponselku berdering.
'Drrt..drrt...drrt'
__ADS_1
Itu Ibuku, aku segera mengangkatnya.
QM :"Halo, Bu. Ada apa?"
QY :"Tidak ada apa - apa."
QM :"Bagaimana kabar ibu?"
QY :"Baik... baik. Bagaimana hubunganmu, apakah aku mengganggu?"
QM :"Apa? Tidak sama sekali kok, seperti yang diharapkan hubungan kami sangat baik.. 'hahaha'. Iya tentu sangat harmonis."
QY :"Ohoho, baiklah.. baik aku tidak akan mengganggu lagi. Oh aku ingin mendengar suara menantuku... Xi'er, berikan teleponnya pada Ming'er."
QM :" Ha?.. Ah I-Iya akan kuberikan. Sebentar Bu."
Astaga, aku langsung me-mute-kan panggilan ini, dan bergegas menghampiri Li Mingyu di dapur.
Ya, untungnya dia masih di sana dan sudah selesai makan. Aku segera berteriak dan memberikan ponselku padanya.
QM :"Li Mingyu! Li Mingyu! Cepat - cepat, ini dari ibuku, dia bilang ingin bicara denganmu!."
Ya, dia terlihat santai. Kemudian mengambil ponsel di tanganku.
*percakapan dalam ponsel Qi Mingxia.
LM :"Halo, Ibu mertua. Ini Mingyu."
QY :"Oh, Nak Mingyu. Bagaimana keadaanmu? Oh dan bagaimana dengan Xi'er? Apakah dia sudah menjadi istri yang baik?."
LM :"Aku baik - baik saja, Ibu mertua. Xixi sangat baik, aku baru saja selesai makan malam, dia yang siapkan."
QY: " Oh syukurlah kalau begitu. Jika dia melakukan hal yang buruk padamu, datang saja padaku, kau mengerti?"
LM :"Baik, Bu. Akan aku lakukan."
QY :"Kalau begitu, aku akan tutup teleponnya. jaga kesehatan kalian."
LM :"Baik, Bu. Anda juga."
'tut'
Telepon pun ditutup.
Aku ingin menyombongkan diri sebentar, sebelumnya aku sudah melihat makanan di piringnya sudah bersih. Apakah masakan ku seenak itu? Hahaha, tentu saja!
QM :" Sepertinya kau sangat menyukai masakan ku? Apakah enak? Bukankah sebenarnya aku ini ditakdirkan menjadi seorang master chef? "
LM :" Rasanya biasa saja. Aku memang selalu menghabiskan makananku. Kalau tidak ada urusan lagi, pergilah ke kamarmu."
QM :" Apa?! Cuci piring mu sendiri! Dan aku masih ingin menonton TV! Jangan memerintah ku!"
LM :" Aku memang selalu mencuci piringku. Karena sudah ada seorang master chef di sini berarti rumah ini tidak butuh lagi seorang chef biasa. Kau yang akan tangani urusan makanan."
QM :" A-Apa?! Kau?!"
__ADS_1
Setelah itu dia pergi seperti tak akan menerima sanggahan apa pun!! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi pada pria balita ini!