Flash Marriage : My Nerd Husband

Flash Marriage : My Nerd Husband
Eps. 21. Sebuah Peningkatan


__ADS_3

Di tengah kebingunganku, aku mulai memeluk wanita di depanku ini. Wajahnya seperti ingin menahan tangis, namun air matanya tak bisa ia bendung lagi.


Ini pertama kalinya sejak 8 tahun lamanya aku memeluk seorang wanita lagi. Ini terasa canggung, sepertinya dia merasakan kecanggungan dalam pelukanku.


Namun, aku tak bisa menemukan cara lain selain ini. Aku yang salah di sini, jadi aku yang harus mengalah. Mingxia juga sepertinya dia sangat sabar bisa sampai kembali ke sini walaupun dengan berat hati, mungkin.


----Qi Mingxia POV---


Aku sangat kaget tiba-tiba pria ini dengan gugup menuju dapur. Aku malas melihatnya, kenapa juga dia bertingkah seperti itu, seolah dia korbannya.


Yah, kata-kata maafnya membuatku sedikit luluh. Bagaimana orang ini bisa membuat ekspresi dan perkataan yang akan membuat orang yang melihatnya tidak tega. Aku tidak membayangkan pria sombong ini akan begitu merendahkan dirinya.


Karenanya, aku jadi tidak bisa menahan emosiku, dan akhirnya aku meluapkan semuanya. Sepertinya ini kebiasaanku untuk mengungkapkan segala isi hatiku ketika sedih ataupun marah.


Sejujurnya, aku hanya ingin memendam sendiri saja perasaan ini, namun sepertinya tubuhku tidak mau menurutinya. Karena itu aku jadi tak kuasa menahan tangisku, aku tau aku cengeng, dan apa dia akan marah lagi karena aku menangis? Sudahlah, aku tak peduli.


'pluk'


Tiba-tiba dia mulai mendekat dan memelukku, dasar b*doh itu hanya akan membuatku semakin sedih.


Semakin aku menangis, semakin erat pula pelukannya. Dasar, pelukannya sangat canggung, apakah dia terpaksa?


'kruuyuk'...


Eh? Apa, suara apa itu? Perutku?


Tidak mungkin! Bukan, itu bukan aku!


Mingyue? Apakah dia lapar?


Setelah suara yang tak terduga, aku mulai melonggarkan tangan Li Mingyue.


QM : "Cukup. Jika lapar makan saja."


LM : "Mingxia, apa kau memaafkan ku?"


QM : "..."


Aku tidak menjawab pertanyaan nya, aku sepertinya masih sedikit marah, tapi tidak semarah sebelumnya. Melihat dia sudah menurunkan harga dirinya sampai seperti itu membuatku sedikit puas.


Tanpa mengatakan apa pun, aku melepas pelukannya dan menyiapkan makanan di meja makan, untung saja semua makanannya sudah matang.


LM : "Mingxia..."


Sepertinya dia jadi mengekor padaku, terserahlah. Aku hanya jadi kasihan mendengar suara perutnya. Kupikir lebih baik makan terlebih dulu.


QM : "Makanlah dulu, aku sudah memasak."


Sorot matanya seperti selalu mengikuti ku, tapi aku tak peduli.


LM : "Baik, terima kasih."


Aku agak tercengang dengan perubahan sikapnya, ini pertama kalinya aku mendengar dia berterimakasih padaku.


Yah, setelah itu aku juga ikut makan bersamanya.


Selama itu, hanya ada dentingan perkakas makan yang beradu. Hening.


Tak lama setelah selesai makan, dia bertanya padaku,


LM : "Mingxia, apakah ini menggunakan uangmu lagi?"


QM : "Ya,"


LM : "Maafkan aku,"


QM : "Jika kau merasa bersalah berikan kartu ATM mu padaku,"


LM : "Ini..."


Apa? Cepat sekali?


Dia yang baru kemarin mengungkit masalah uang, sekarang dengan mudahnya memberikanku dua kartu langsung?


LM : "Dua kartu ini, yang satu ini untuk kebutuhan belanja dan keperluan rumah, dan yang ini untuk kebutuhanmu, gunakan saja untuk keperluanmu, apa pun itu. Aku harap kau tidak menggunakan uangmu lagi di masa depan, PIN nya akan kukirimkan padamu."


Hah? Ini nyata kan? Si pelit Mingyue memberiku kartu?!


Dia mengarahkan jarinya untuk memberi tahuku.


QM : "Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini?"


LM : "Kenapa? Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf,"


QM :"Bohong, apakah keluargamu akan mengunjungi kita? Makanya kau berusaha mencariku dan tiba-tiba berinisiatif untuk minta maaf?"

__ADS_1


LM : "Awalnya seperti itu, tapi permintaan maaf ku tadi bukan hanya palsu belaka. Aku bersungguh-sungguh."


QM : "Bagaimana kau makan kemarin? Seharusnya saat kau pulang cap cay nya sudah basi."


LM : "Ya, itu basi. Aku hanya makan lauknya ,"


LM : "Eh, kau sudah memaafkanku? "


QM : "Untuk apa memperpanjang masalah? Aku bukan orang yang tahan dengan hubungan semacam itu,"


LM : "Kau sungguh orang yang simpel,"


QM : "Apa kau bilang? Aku bukan orang yang gampangan!"


LM : "Maksudku, kau tidak seperti wanita pada umumnya,"


QM : " Apa maksudmu? Jadi aku ini aneh? Terserahlah. Besok ibu dan ayah sampai jam berapa?"


LM : "Hanya ibu, ibu bilang akan sampai agak siang,"


QM : "Apa makanan kesukaan ibu mertua?"


LM : "Sup iga sapi dan tahu shicuan,"


QM : "Oke, aku akan memasaknya besok. Oiya, bagaimana dengan kamar?"


LM : "Aku yang akan pindah ke atas, tidak perlu memindahkan barang apa pun, beberapa barang dan bajuku sebagian sudah ada di sana,"


QM : "Oke baiklah....Hah? Memangnya kau menaruhnya dimana? Aku tidak melihatnya,"


LM : "Bantu aku menatanya, dan kau akan tau,"


Yah setelah itu kami menuju lantai atas bersama.


'bress'


Entah kenapa tiba-tiba hujan sangat deras?!


'gludug gludug'


'glegar!!'


QM : "Kyaahh!"


Petir?! Ap-apa hujan?!


---Li Mingyue POV---


Syukurlah kami akhirnya cukup berdamai. Sepertinya Mingxia juga tidak terlalu membawa pusing masalah ini.


Kami naik ke lantai atas untuk merapikan dan menata kamar agar seperti dihuni oleh dua orang. Sepertinya akan hujan, untungnya perselisihan kami cukup cepat diselesaikan.


'gludug gludug'


'bress'


'glegar!!'


"Kyaahh!!"


Sontak aku menoleh asal teriakan itu, belum juga kami memasuki kamar, Mingxia terduduk di lantai dan memejamkan mata sambil menutup rapat telinganya.


Kenapa dengannya, daripada kaget karena petir, aku lebih kaget karena teriakannya.


Tunggu,


Dia... gemetar?


Aku berusaha untuk menyadarkan wanita ini.


LM : "Mingxia?"


Aku memegang kedua pundaknya, rasa gemetarnya menyalur terasa padaku,


dia benar-benar gemetar.


Kenapa dengan wanita ini, dia seperti tidak takut pada apapun sebelumnya. Tapi begitu melihat sosoknya saat ini, begitu memprihatinkan.


LM : "Mingxia? Kau dengar suaraku, kan?"


Dia masih dengan rapat menutup telinga dan memejamkan matanya.


LM : "Kenapa denganmu? Apakah kau takut guntur? Bisa berdiri?"


'gleggar'

__ADS_1


QM : "Hiks, tolong..."


LM : "Apa kau bilang, aku tidak mendengarnya, bisa kau ulangi Mingxia?"


Dia begitu kalut, hujannya jadi makin deras, dengan sambaran petir dan kilat yang berhamburan. Alhasil, suara Mingxia tidak begitu terdengar, namun suaranya terdengar parau.


LM : "Ayo bangun dulu? Coba buka matamu dulu, okey. Ini aku, tolong lihat aku saja kalau kau takut,"


Dia tidak bergerak sedikit pun, hanya tangisnya menjadi lebih parau.


Sebenarnya kenapa dengan wanita ini?


LM : "Mingxia, kenapa? katakan. Aku akan membantumu"


Ughh, ini hanya buang-buang waktu. Aku mengangkatnya dan menggendongnya, tubuhnya cukup kurus dan jadi terasa ringan.


Aku bisa merasakan sekujur tubuhnya gemetar dan detak jantungnya yang sangat cepat. Aku membawanya ke kamar, mungkin tempat yang lebih nyaman bisa membantunya lebih relaks.


'gludug, gludug'


LM : "Mingxia, ini Mingyue. Coba buka matamu, okey. Semua akan baik-baik saja.."


Aku mencoba menurunkannya ke kasur, tapi bahkan setelah menyentuh kasur pun dia tak kunjung melepaskan ku, malah justru semakin erat mendekap ku. Dia tidak bersuara ataupun mengatakan apapun, kecuali hanya menangis.


Akhirnya, kami mau tidak mau terus saling mendekap.


'drrt...drrt..'


'drrt...drrt..'


(Suara getar smartphone)


Hah, siapa di jam segini?


Ibu mertua?


-kluk-


LM : "Halo, selamat malam bu, apakah ada sesuatu bu?"


CF : "Nak Mingyue, bagaimana disana? Apakah hujan petir juga? Apakah Mingxia sedang bersama mu?"


LM : "Iya bu, disini hujan cukup deras"


CF : "Nak Mingyue, tolong jaga Mingxia ya, dia sangat rentan dengan cuaca seperti ini, entah bagaimana tiba-tiba bisa hujan petir tanpa aba-aba. Mingxia.., dia memiliki trauma dengan keadaan seperti ini, tolong nak Mingyue, maklumi saja dia untuk kali ini. Syukurlah ada nak Mingyue, aku cukup lega."


Trauma? Trauma seperti apa? Wanita yang awalnya kelihatan kuat bisa tumbang begitu mendengar petir.


LM : "Baik ibu, jangan khawatir, saya sedang menjaganya, dia berada di samping saya,"


CF : "Untung saja tidak mati listrik, semoga hal-hal buruk menjauh dari kalian. Baiklah, aku titip Mingxia ya, Nak Mingyue."


LM : "Baik bu, jangan khawatir, selamat istirahat,"


-kluk-


Fiuh,


Aku kembali menatap Mingxia, hujannya masih begitu deras, bahkan ibu mertua sampai menelpon, apakah kondisinya separah itu?


---


Jam 01.00 AM


Sampai kapan hujan deras ini akan berakhir?!


Mingxia mungkin terlihat sedang tidur, namun begitu aku berusaha melepaskan tanganku, dia akan bangun.


Kami bahkan belum menata apapun.


Huhhh...


...----------------...


...----------------...


...BERSAMBUNG ...


...----------------...


...----------------...


Halo halo, ma readers..


terus dukung author ya...

__ADS_1


Terimakasih ❤️


__ADS_2