
Butuh beberapa saat untuk Gabril melepaskan pandangan nya dari wajah Fahri, dengan buku cetak dan secarik kertas di pangkuan nya, gadis itu duduk sendirian di taman sekolah.
Gabril mencoba kembali fokus pada buku dan kertas nya, dengan perlahan Gabril mencoret – coret secarik kertas dengan angka dan goresan rumus halus.
Semua orang di kelas mendapatkan tugas mereka masing masing yang dibagi sesuai dengan pelajaran di kelas, beberapa orang tengah sibuk di perpustakaan dengan buku sejarah mereka, beberapa lagi sedang mengamati pohon pohon dengan buku IPA mereka.
Dan seorang gadis yang manis yang sedang menghitung soal soal matematika di bangku taman, Gabril menjadi satu satunya orang yang mendapat tugas matematika, pelajaran yang disukai oleh semua orang.
“Kenapa harus mtk? Kenapa enggak yang lain kayak ips, pjok, b.inggris sih.” Gumam kesal gadis itu sembari mencoret coret kertas nya, melihat orang orang sedang bermain basket karena mereka mendapat tugas pjok, sedangkan dirinya harus menghitung angka angka jelek ini.
“Sendirian aja, entar kemasukan lho.” Suara seorang wanita dengan nada lembut nya, Viona.
Gabril memajukan bibir depan nya dan mngembungkan pipi nya.
“Kamu dapet apa Viona?”
“Aku tadi dapet tugas seni, ini aku habis gambar kantin sekolah, baru aja dikumpulin, jadi sekarang free deh.” Ujar Viona dengan penuh semangat.
Gabril beranjak dari tempat duduk nya, meregangkan badan dan menguap.
“Hoamm…Viona kamu kan baik nih, bantuin aku kerjain ini yahh..pliss.” mohon Gabril sembari mengeluarkan wajah imut nya yang terlihat menyeramkan bagi Viona.
“Aduh..gimana ya Gab, aku enggak ngerti mtk nih, entar salah semua, hehe..” Viona mengelus kepalanya perlahan.
Gabril mendongakan kepalanya sambil memejamkan matanya, “Semoga saja ada keajaiban, ada anak pinter yang tiba tiba ngasih jawaban soal soalnya.” Gabril menurunkan kepala dan perlahan membuka mata indah nya.
Berharap keinginan nya bertemu dengan seseorang terkabul, dia hendak berjalan mengambil buku dan kertasnya, disaat sebuah bola basket orange berlari menuju wajah gadis itu, BRAKKK.
Gabril tersungkur jatuh kedalam rerumputan taman dibelakang bangku yang baru saja dia duduki, Gabril terbaring di tanah dengan kedua tanganya yang menempel erat di wajahnya, dia kesakitan.
__ADS_1
Viona meletakan alat tulis nya dan menghampiri Gabril sembari mengankat rok panjang miliknya. “Eh..ehh Gabril, kamu enggak kenapa kenapa kan, aduh sakit yah, ke uks yah aku anterin.” Viona menopang badan Gabril hingga terduduk.
“Bola sialan, siapa sih yang lempar tuh bola, kurang kerjaan apah!” sentaknya sedikit keras, Gabril mengembalikan keseimbangan nya dan mencoba berdiri.
Dengan pandangan yang berbayang Gabril bisa melihat tiga orang tengah berlari kearah nya, “Sory, tadi kelewat kenceng lempar nya.” Fahri mencibir dingin, nyaris tanpa ekspresi, pria mengambil bola basket ny dan pergi tanpa rasa bersalah.
Nih orang anaknya siapa sih, minta maaf juga enggak, maen pergi aja. Batin Gabril melunjak, dia meremas sebuah kertas yang dipungut nya dari tanah tempatnya jatuh, dengan berpose selayaknya pelempar bola di tim baseball hebat.
Gabril melempar gumpalan kertas itu hingga mengenai pundak Fahri, “Hahh??” Fahri membalikan pandangan nya dan melihat Gabril menatap nya dengan ujung bibir yang sedikit menjulang ke arah bawah.
“Apaan nih?”
“Kok masih nanya sih, diajarin tatakrama gk si pas sd, udah lempar ke gue, kgk minta maaf, maen cabut aja lagi.” Gabril menaruh kedua lengan nya di pinggang dengan wajah jutek nya yang tidak bisa dia sembunyikan.
“Kan tadi udah gue bilang, gue lempar bolanya kekencengan, masih salah?” Fahri memantulkan bola basket yang dia pegang hingga menjulang tinggi, berharap Gabril takut.
Namun pria itu salah, dia lupa sedang berbicara dengan siapa, ini Gabril lho.
BUSHHH!!
Hentakan sepatu tepat mengenai telapak kaki Fahri yang sedang tidak memakai alas apapun, pria itu sontak menjerin dan melompat lompat kesakitan.
Haikal dan Dony hanya bisa memeluk satu sama lain sembari memperhatikan Fahri yang sedang melompat kesan kemari.
“Aduhaduhaduh, ehh mksd lo apasih, aduh sakitttt bangetttt woyy.” Teriak Fahri.
“Makanya yang bener kalo jadi orang, jadi cowok tuh harusnya tanggung jawab, rasain tuh!” Gabril memutar bola matanya kesal.
Viona perlahan menghampiri Gabril, dengan sedikit mengibaskan jaket nya yang kotor, Viona membisiki Gabril sesuatu. “Gabril…anu…kertas yang kamu gumpalin tadi itu..jawaban mtk kamu lho.”
__ADS_1
Gabril langsung menatap Viona sambil mengerutkan alisnya, langsung berlari menghampiri gumpalan kertas yang dia lempar, perlahan membuka kertas yang sudah kotor dan sobek itu.
“TUHH KANN…KERTAS NYA ROBEK….AH ELO SIH!” ujar Gabril dengan lantang.
“Perasaan gue enggak enak nih Kal.” Dony perlahan menjauhi Fahri.
Dengan kesal Gabril memegang kedua kerah baju Fahri hingga membuatnya berdiri, siapa sangka gadis itu bisa mengangkat seseorang yang mempunyai tinggi dan berat badan yang lebih besar.
“Eh eh mau ngapain lo, lepasin gk!” Gabril melepaskan cengkraman nya dan mendorong Fahri kembali ke tanah. “Jawaban mtk gue jadi rusak kan gara gara elo.” Gabril memutar mutar tubuhnya.
“Lah kok nyalahin gue, kan elo sendiri yang ngeremes remes tuh kertas.” Fahri menggaruk kepalanya.
“Yakan elo yang mulai tapi, coba aja elo enggak maen basket, terus enggak ngelempar bola ke gue, enggak bakalan robek kertas nya kan, haduhh gimana nih.”
Fahri menatap kedua teman nya, dia bingung dengan pembelaan diri Gabril, “Apasih kan dia yang salah, kok ngomel nya ke gue sih.” Fahri berbisik.
“Turutin aja deh, gue takut njirr ama tuh cewek.” Balas Haikal.
“Gk mau tau, pokoknya elo harus tanggung jawab, elo harus bantuin gue jawab soal soal nya lagi, itu gue udah mau kelar lho."
Viona tertawa kecil dari kejauhan, dia tahu kalau Gabril bahkan belum menjawab setengah dari soal soal yang diberikan.
“Hah semuanya, kan itu tugas elo, keenakan dong kalau gue yang jawab.”
“Yaaa..terserah sih, nanti gue tinggal bilang walas, kalau elo gangguin gue, kelar deh, btw pipi gue masih ada memar lho gara gara bola lo itu, bukti ny lumayan kuat kan.” Gabril mengeluarkan senyum jahat nya lagi.
Merasa tidak ada pilihan Fahri mengangguk pelan, tidak lama setelah mereka bertengkar, bel pulang sekolag berbunyi, anak anak kelas lain seketika mengerumuni taman sekolah bersama teman nya masing masing.
“Nanti jangan langsung balik, lo ikut kerumah gue dulu, gue kerjain disana nanti.” Fahri memutar badan nya dan berjalan menjauh.
__ADS_1
“Pretty idea.” Gabril mengambil buku cetak nya dan berjalan kedalam kelas diikuti oleh Viona dibelakang nya.