
Tatapan mata itu mengisyaratkan Gabril untuk tidak berbohong, keramaian di sekitar hilang, suara ramai yang mendekati terhalang oleh sesuatu.
Kesunyian yang ada di tengah – tengah mereka berdua, Gabril masih duduk termangu di atas alas yang tipis, Fahri benar benar tidak melepas tatapan matanya yang semakin menusuk.
Hamparan kabut tipis menyelimuti, semburan udara dingin yang seolah bisa membuat kulit terkelupas. Apa apaan, pertanyaan itu membuat Gabril mati kutu.
Bagaimana bisa Fahri tahu tentang anak jalanan itu, perkataan kembali membludak, isi kepala Gabril kini berantakan tak karuan, dia harus menjawab apa, tidak mungkin gadis itu langsung blak – blakan membeberkan masa lalunya kepada Fahri.
“Kenapa diam aja?” Kesunyian semakin menjadi, tidak peduli berapa orang yang bolak balik melewati mereka berdua, Fahri dan Gabril tidak menganggapnya.
“Kamu tahu dari mana? ” Gabril tertunduk layu, wajah gembiranya kini digantikan oleh awan mendung yang mendiami wajahnya. Gestur Fahri kini berubah, tatapan nya kembali sinis.
“Jadi beneran? Kamu pernah bergaul sama mereka, jadi alat , dipaksa bertarung demi uang dan popularitas?”
“Eng..enggak gitu, aku masuk kesana karena kemauan sendiri, bukan buat uang apalagi populer, aku disa,-”
BRAKK..
Kalimat dengan lantunan halus Gabril terputus ketika Fahri menyenggol termos kecil hingga terpental sedikit jauh, pria itu meninggikan badannya, gestur tubuh yang benar benar berbeda.
“Sama aja! Aku kira kamu beda dari cewek-cewek disana, kamu sama aja kayak cewek beringas yang pura – pura lugu biar bisa dapet kesempatan duduk disini. Mereka juga sama, orang orang br*ngsek itu juga awalnya baik, sopan, tapi semakin kesini sifat aslinya keluar, mereka enggak lebih dari sampah jalanan yang cuman bisa manfaatin kebaikan seseorang demi keuntungan pribadi.”
“Aku kira kamu beda, enggak sepantesnya seorang perempuan berdiri ditempat kotor itu, saling melukai untuk menjadi yang tertinggi, kamu harusnya enggak pernah ada disana, Gabril.”
Fahri membuang tatapan mata dingin nya, bergegas masuk tenda dan meninggalkan Gabril yang terduduk diam tanpa kata.
Pandangan gadis itu memudar, dadanya terasa nyeri seakan sebuah pedang lancip menembus dan mengoyak isi dalam nya. Gabril tidak menyangka kalau Fahri akan memperlakukan dirinya seperti ini hanya karena masa lalunya yang kurang baik.
Jika Fahri mempunyai kenangan buruk kepada anak jalanan itu, kenapa dia harus membawa kenangan buruknya ketika dia melihat masa lalu Gabril, gadis itu tidak seperi yang Fahri pikirkan.
Dia benar benar memiliki perasaan tanpa mengharapkan sesuatu apapun itu.
Air matanya mulai mengembang, dan disaat kantung matanya sudah tidak bisa menahan, tetes – tetes air itu menuruni wajah Gabril melewati hidung dan membasahi pori pori wajah.
__ADS_1
Gadis itu berusaha memperkuat kedua kakinya untuk berdiri dan meninggalkan tempatnya sekarang, beberapa orang yang melewati menatap Gabril penuh keheranan, namun air matanya yang tumpah membuatnya tak menangkap wajah orang orang itu.
Gabril hanya bisa berlari menjauh, lengan nya terkadang mengusap kedua matanya yang masih mengucurkan air penuh kesedihan itu.
Viona melepas bukunya dan mengejar Gabril, namun langkah kakinya tertahan kuat ketika ada seseorang yang memegang tangan nya.
“Biarin aja, jangan dikejar.” Ara menahan langkah Viona, meski Viona mencoba melepaskan diri tetapi genggaman Ara lebih kuat, apa Ara juga mendengar pembicaraan tadi? Wajahnya hanya mengeluarkan ekpresi datar dengan kedua mata yang sedikit disipitkan.
***
Pikiran Gabril seolah berceceran keluar ketika dirinya tak bisa mengingat apa yang terjadi semalam hingga dirinya bisa berada didalam tenda.
Gadis itu kembali merasakan napasnya terngah – engah, air mata kembali tumpah walau dia merasakan basah mulai menyebar luas di wajah.
Dirinya tidak memperdulikan siapapun yang mengejar atau melihat nya berlari kencang malam tadi, Gabril menggrertakkan giginya sebelum bergerak mengambil segelas air di meja kecil didepan nya.
Tegukan air melewati tenggorokan nya, dia bisa merasakan luka yang bersarang didalam hati dan tampak akan sulit untuk disuruh pergi.
Pagi terlihat suram, awan gelap yang melewati dan memandangi area kemah. Tebal selimut yang menutupi setengah badan nya tidak bisa menghalau angin dingin yang menyeruduk masuk kedalam.
Gabril mengambil handuk kecil, mengelap wajahnya perlahan mencoba membuat wajahnya sedikit segar, jari nya memberanikan diri mengaet resleting dan membuka nya perlahan.
Terbesit dipikiran nya respon orang – orang ketika melihatnya nanti, dia tidak tahu apakah orang lain memperhatikannya saat dirinya berlari dengan tangisan yang tertutup lengan malam hari itu.
Sinar matahari perlahan menembus masuk kedalam tenda ketika dibukanya resleting tenda itu lebar – lebar. Pohon tinggi menjulang yang dikelilingi burung kecil yang berkicau sesaat.
Tidak ada satupun orang yang memandang nya saat keluar meskipun disana sudah banyak orang berjalan melewati gadis yang sudah mengeluarkan setengah badan nya.
Tenda biru disampingnya sepi tanpa aktivitas, Viona sepertinya sudah bangun dan keluar lebih dulu.
Matanya melirik danau besar di belakang tenda nya, tatapan itu jelas tertuju pada kumpulan anak laki-laki yang tengah berkumpul disana dari kejauhan.
Gabril berjalan pelan menuju pusat perkumpulan untuk melihat papan pengumuman apa yang dipajang untuk hari ini. Namun niatnya sirna ketika dia melihat Viona terduduk diam menyandar pohon besar dibelakang nya.
__ADS_1
Dirinya terlalu panik sehingga tidak melupakan Viona yang ikut menemaninya malam itu.
“Kamu ngapain Vi disini?” kalimat lemas nan halus Gabril memasuki kedua telinga Viona yang tengah setengah tertidur. “Gabril..maaf maaf aku enggak lihat ada kamu.”
Viona merapikan kacamatanya kembali ke tengah sembari mencoba mencari keseimbangan.
“Lagi nunggu pengumuman kegiatan, tadi aku manggilin kamu dari luar tenda, tapi gk ada yang jawab, makanya aku duluan.”
Gabril mengangukan kepalanya pelan sebelum melepas sandal tipisnya dan menjadikan nya alas duduk.
“Soal semalem, aku minta maaf main kabur gitu aja ninggalin kamu.”
Viona bisa melihat wajah Gabril kembali mengkerut ketika mengatakan kalimatnya, dirinya pasti mengalami perasaan sakit ketika mengingat kejadian semalam.
Sebenarnya gadis berkacamata itu ingin sekali menanyakan kabarnya dan apa yang Fahri katakan hingga membuat sahabatnya menangis segitu jadi.
Namun dia menahan semua pertanyaan ketika melihat Gabril menyapa nya dengan wajah sembab dan hidung nya yang jelas sangat merah.
Dibalik saung kecil sepasang mata diam – diam mengamati Gabril dan Viona dari kejauhan, mata dengan warna kuning terang menatap kedua gadis itu.
“Eh lo ngapain disini Ra?”
Telunjuk Ara dengan cepat menempel di mulut orang yang menyapanya dengan nada suara cukup keras.
“Suttt…suttt.. jangan berisik, bikin kaget aja.”
“Kamu ngapain disini…. Ara? Really? Nguntit Gabril sama Viona?”
“Kanti pleaseeee jangan ganggu aku.”
Wanita dengan rambut pixie cut dengan warna ungu dibeberapa bagian. Ara mengenalnya, panggil saja Kanti.
“Kamu kurang kerjaan deh Ra, ngapain coba nguntitin mereka berdua, mending temenin aku liat papan kegiatan.” Kanti memiringkan kepalanya. “Kamu duluan aja, nanti aku nyusul.”
__ADS_1
Ara tidak melepas pandangan dari Gabril dan Viona yang tengah duduk berbincang menghadap danau, gadis itu mengetahui sesuatu, kemunculan nya menahan lengan Viona agar tidak mengejar Gabril jelas bukan kebetulan. Apa dirinya juga diam – diam mengamati Gabril malam itu?