
“Gab..Gabril awas ishh…” lantunan suara sedikit ketakutan, Viona mundur beberapa langkah ketika Gabril menyodorkan nya satu ekor belut besar berwarna hitam yang dikelilingi lumpur.
“Inikan Cuma belut Viona, masa takut sih?” gelak tawa Gabril tak berhenti keluar ketika melihat ekpresi Viona yang mengkerut. Gadis berkacamata itu benar-benar tidak menyukai hewan licin.
Siang hari terasa terik, hamparan padang rumput luas yang dibalut dengan genangan air dan lumpur tipis dibawahnya, semua orang kini tengah bergelut dengan licin nya tanah dan terik panas matahari.
Kegiatan hari ini dilangsungkan di sawah desa, berbeda dengan daerah kemah yang dingin dan sejuk, sawah besar ini sama sekali tidak terdapat pepohonan besar yang menutupi sinar matahari.
Hanya topi caping lebar yang menempel di kepala mereka, baju tipis dan celana pendek. Bergiliran memutari sawah, menarik rumput-rumput, dan membajak.
Gabril masih memandangi Fahri disela-sela waktu, sifat dingin pria itu kembali menyelimuti sekujur tubuhnya. Mereka berdua masih belum bicara dari malam itu.
Tatapan sinis Fahri terkadang menatap kedua mata Gabril sekilas, Gabril tahu kalau pria itu benar-benar marah kepada dirinya, tetapi Gabril masih kebingungan dengan alasan Fahri.
Dia mengatakannya terlalu cepat, ekpresinya yang mendadak berubah membuat Gabril lebih terfokus melihat wajah Fahri dan mencoba untuk tidak melepas kontak mata alih-alih mendengarkan kata-katanya.
Ditambah dirinya yang langsung berlari menjauh setelah itu, membuat ingatan nya buyar dalam semalam, terbesit ide untuk bertanya dihadapan nya langsung.
Tetapi Gabril sudah bisa melihat ending nya.
Fahri bisa saja tidak menghiraukan dirinya bahkan ungkapan kekecewaan malam kemarin akan kembali dia dengar siang ini.
***
Panas terik matahari semakin menjadi-jadi, pukul tiga belas lewat lima, semua murid berteduh di saung kecil yang sudah disiapkan di area sawah.
Gabril melepas alas bot besar dan topi caping miliknya, gadis itu benar benar menerima semua pancaran sinar matahari, kulitnya memerah dibeberapa bagian.
Gabril merebakan separuh badan nya, untunglah saung yang dia pilih sepi pengunjung, tidak ada murid lain yang beristirahat disana, Viona dan Ara tengah mengantar beberapa hasil padi kepada penduduk desa sebagai program sekolah.
__ADS_1
Membuat Gabril bisa bebas mengguling kesana kemari menghilangkan rasa pegal nya tanpa harus memikirkan orang disekitar.
Keheningan padang sawah dengan suara belalang yang meraung kecil, suasana sempurna untuk istirahat itu seketika sirna ketika suara lelaki yang cukup berat menyapa Gabril yang tengah tiduran tentram.
“Lagi istirahat? Gue boleh duduk disini sebentar?” Gabril sudah memikirkan kata-kata pedas untuk memaki orang yang menganggu waktu istirahatnya.
Gadis itu bangun perlahan dari berbagai khayalan yang sedang dia rasakan, mata dengan alis hitam pekat miliknya terangkat keatas. Sesosok pria dengan rambut acak-acakan berwarna silver bercampur hitam tengah duduk menyila dan memandangi dirinya yang baru membuka mata.
Gabril menatap mata pria didepan yang berwarna orange gelap setengah pudar, dirinya teridiam cukup lama, “Makhluk ini persis mirip kayak pangeran tampan yang baru aja nyelametin putri kerajaan dari gunung berapi”
Gabril menelan kembali segudang kada pedas yang sudah dia siapkan agar orang yang menganggunya cepat pergi, tapi sekarang dia mau orang ini berlama-lama.
“Mau ngapain? Masih ada saung lain kan?” Gabril sedikit ketus, meskipun berbanding terbalik dengan ekpresi wajahnya yang perlahan memerah.
“Emangnya kenapa, gue maunya disini, enggak masalah kan.” Pria itu langsung masuk dan duduk tepat disamping Gabril, berjarak sangat dekat.
“Mukanya enggak usah panik gitu, gue bukan predator kayak sebelah.” Ujar pria itu santai sembari menyeruput minuman kaleng di genggaman tangan nya.
“Lo diem aja, enggak kaget atau apa gitu?” pria itu memasang wajahnya didepan Gabril. “Ke-kenapa harus kaget?”
Pria itu menarik kembali wajah putih pucat nya, menaruh lengan di dagu bak orang yang sedang berfikir. “Tau gue?” Gabril kembali dibuat heran dengan pertanyaan pria disamping nya.
Apa-apaan nih orang. “Lo kenapa sih? Kalau enggak ada urusan plus cuman mau ganggu mending minggat sana!” Gabril kembali merentangkan badan dan menutup matanya.
Hawa pria itu masih bisa dirasakan, dia tidak mengangkat kedua kakinya, alisnya menurun seiring matanya melihat Gabril yang tengah terbaring santai.
“Lo kok masih disini sih?” Gabril kembali duduk.
“Sebentar, kalau dilihat lebih deket, elo mirip kayak SNOW WHITE, cuman rambut nya panjang.”
__ADS_1
Gabril menoleh perasaan campur baur. Apa barusan pria itu memanggil nya cantik? Tanpa sadar gadis itu mengangguk malu-malu, kata-kata pria itu terdengar begitu positif di telinga miliknya.
“Perfetto, finalmente confessi.” Ya tuhan bahasa apa lagi itu. Sudah tiga kali Gabril mengusap kening nya dihadapan pria ini.
“Kenalin nama gue Akma Albyandra Ararya dan nama lo?” Akma menagakkan dadanya dengan kedua tangan nya tolak pinggang, pria ini benar-benar memilik sisi eksotis.
“Ya ampun, namanya ribet banget, gimana cara jabarin nya coba, depan nya huruf A belakang nya juga huruf A, tapi namanya cocok sih sama mukanya, enggak kayak Rio.” Gabril menggrutu didalam hatinya.
“Oke dan nama lo?” Akma kembali mengulang pertanyaan nya ketika gadis didepan nya hanya terdiam menatap dirinya.
“Oh maaf, gue Gabril.” Gabril menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan lamunan nya.
“Gabril? Pendek tapi indah, dalam bahasa keagaman artinya pemberi kabar baik, tapi biasanya nama itu dipakai untuk anak laki-laki.”
Akma berbicara dengan pandangan penuh menatap atap-atap saung, pancaran pesona nya kembali keluar, Gabril terpukau melihat Akma yang bisa menejermahkan arti namanya tanpa harus membuka website google.
Gabril terperangah, tak percaya mendengarnya. Gabril mencoba menepuk-nepuk pipinya berusaha mengembalikan jiwanya yang terbang setelah mendengar kata-kata Akma.
“Persona divertente, lo cantik, seru, gemesin, apalagi rambut poni lo itu, gue demen banget ngeliatin nya, andaikan diri lo adalah sebuah planet maka gue rela menghabiskan setiap malam hanya untuk ngeliatin lo.”
Ucap Akma puitis sembari menjulurkan sebuah minuman kotak dengan ukuran besar. “Lo bakal bersinar, gue selalu siap disamping elo, jadi jangan khawatir kehilangan gue.”
“Ap-apa? Kehilangan apa? Buat apa juga gue harus takut kehilangan elo, kita kenal aja belum satu jam.”
“Sekarang belum, tapi nanti lo bakal ngejar-ngejar gue.” Akma menurunkan kedua kakinya dari saung dan berjalan perlahan meninggalkan Gabril yang masih terpaku diam.
“Ya tuhan, salah apa diriku sampai harus ketemu sama orang aneh kayak dia.” Gabril mengusap-usap wajahnya cepat, pria tadi benar-benar membuat perasaan nya naik turun.
Kata-kata puitis aneh yang keluar entah kenapa membuat Gabril terkesima dan kegirangan bukan main didalam dirinya, meskipun gadis itu selalu terlihat tidak suka kepada Akma, namun perasaan nya berkata sebaliknya.
__ADS_1
Gabril tidak bisa berhenti memikirkan Akma yang bahkan sudah tidak terlihat dari saung tempat dia beristirahat.
Tetapi pesona Akma masih mengelilingi Gabril dan seolah membuat gadis itu membuat folder khusus didalam memori otaknya tentang Akma.