
Kilauan lampu besar yang menghiasi atap bangunan mengeluarkan pancaran nya untuk menerangi mereka berdua, tidak jarang Gabril menyipitkan matanya ketika kilauan lampu itu membasuh wajah nya.
Suasana yang tadinya cukup seru kini perlahan berganti, setelah kedatangan Oscar mereka berdua kembali terlihat canggung, Fahri tidak mempermasalahkan tentang pelukan itu, namun perkataan nya.
Pria itu masih mempunyai berbagai pertanyaan didalam kepalanya, namun Fahri jelas tidak bisa mengucapkan nya dan bertanya langsung kepada Gabril.
Gadis itu seolah olah memiliki harta karun yang terkunci erat didalam dirinya, entah hanya masalah waktu atau dirinya sendiri yang akan mengutarakan nya.
*******
Mereka berdua sampai didepan toko peralatan, sebuah pintu masuk yang sangat besar sehingga puluhan orang bisa keluar masuk tanpa harus mengantri membuat Gabril takjub.
Dirinya tida menyangka kalau toko itu akan sebesar ini, warna latar tembok yang putih bersih dihisasi oleh arsiran warna merah dan hitam, sederhana, namun entah kenapa campuran warna itu membuat Gabril takjub, mereka berdua perlahan menaruh kaki kaki nya memasuki ruangan toko, rak rak tinggi menjulang dengan berbagai alat alat kemah yang ditata dengan sangat rapih.
Gabril tidak bisa menurunkan kepalanya, gadis itu selalu mendongakan wajahnya melihat ujung dari rak besar yang kini mengapit nya dari sisi kanan dan kiri.
Bagaimana bisa pelanggan itu mengambil barang yang ada di atas sana. Gumam gadis itu dalam hati , beberapa barang memang dipajang di bagian atas rak, kumpulan besi panjang, kotak perkakas besar, membentuk barisan di atas ra kayu berwarna coklat tua.
“Kalau ada yang mau beli, biasanya diambilin pegawai pakai tangga.” Cetus Fahri dengan santai.
“Ehh??..” Gabril menatap Fahri dengan wajah penuh kebingungan, bagaimana caranya pria satu ini bisa mengetahui hal yang sedang dia pikirkan. “Kamu dari tadi ngeliat ke atas mulu, kamu bingungkan gimana cara ambil barang nya kalau ada yang mau beli.”
Gabril tertawa lepas melihat ekpresi dari pria disamping nya, perasaan nya benar, Fahri memang menjadi pribadi yang berbeda diluar lingkup sekolah, Fahri ternyata lebih friendly dari kelihatan nya, meskipun sifat sok dingin nya terhadap Gabril masih saja diperlihatkan.
“Gabril….kamu udah pernah punya pacar?” Fahri perlahan menatap Gabril dengan wajah yang bergerak kaku. Gabril membuka matanya lebar, pipi nya yang sedikit gembul mulai memerah pelan pelan.
APAA.. DIA NANYA GITU? Kata kata itu berulang berteriak didalam kepala Gabril, “Umm…belum, belum pernah.” Gabril refleks merapikan rambut poni nya, gadis itu langsung memperhatikan penampilan nya saat Fahri menjawab pertanyaan Fahri.
__ADS_1
“Laki laki tadi si-siapa kamu, saudara? Eee maaf kalau aku nanya itu.” Kata terbatah batah, Fahri memberanikan diri untuk mengeluarkan pertanyaan pertanyaan yang berada didalam kepalanya.
“Kamu penasaran ya ada cowok ganteng yang tiba tiba meluk aku.” Gabril mengeluarkan evil smile nya menggoda Fahri.
“Ehh..enggak kok, aku cuman pensaran aja, dia kayaknya kenal banget sama kamu, itu aja.” Fahri menjawab canggung, gadis didepan nya berhasil membuat dirinya tersipu malu.
“Namanya Oscar, dia temen kakak aku pas kami berdua tinggal GYM, dia baik tapi kadang juga sableng, dia ajarin aku banyak hal seputar umm ya olahraga.”
Gabril memotong perkataan nya disaat dia ingin mengucapkan sesuatu, dia tidak bisa memberikan semua cerita masa lalunya kepada Fahri.
Meskipun Gabril memiliki perasaan yang berbeda dengan nya, tetap saja untuk saat ini Gabril tidak ingin ada yang mengetahui kehidupan lamanya terlalu dalam.
Membuat Fahri mengetahui jika dirinya adalah seorang fighter ilegal jelas akan membuat pria yang dia cintai itu menjauh, apalagi kalau hubungan nya dengan para anak jalanan itu terbongkar.
“Kamu pernah tinggal di GYM? Really?”
Gabril berlari kecil menuju rak besar di tengah ruangan toko, lipatan tenda dengan aneka warna berbaris rapih, Fahri masih melangkahkan kakinya pelan.
“Kayaknya Gabril masih belum mau bilang semuanya.” gumam Fahri dalam hati, dia memutuskan untuk menahan kembali semua pertanyaan nya, dia tidak ingin Gabril sadar dengan rasa penasaran nya.
Mereka berdua mulai melirik satu persatu tenda yang ada didalam rak, Fahri melihat tenda tenda itu dan memikirkan warna serta pondasi yang bagus, berbanding terbalik dengan Gabril.
Gabril tidak melihat kualitas tenda didepan nya, matanya terfokus pada list harga yang tertera, mengingat seratnya uang yang dia bawa membuatnya harus memilih tenda yang paling murah.
Dengan uang terbatas dia harus bisa membeli semua peralatan kemah nya. Gabril mengambil tenda yang berada di rak bawah, ukuran nya tidak terlalu besar dan warna putih bersih yang memang standar.
Dengan kisaran harga seratus ribu, sementara Fahri mengambil tenda besar dengan warna orange dengan gradasi hitam dan harga yang mahal tentunya, limaratus ribu.
__ADS_1
Gabril menelusuri semua rak yang ada disana, mereka berdua mengambil barang sesuai list yang dia buat. Dirinya terkadang merasa iri dengan Fahri.
Gimana enggak, pria itu mengambil barang kemah disana tanpa melihat harganya, seolah olah uangnya cukup untuk memborong semua barang disini.
“Okeh, tinggal senter ya?” Gabril mengecek belanjaan nya dengan seksama, Fahri mengarahkan jari jemarinya menuju rak yang berada di dekat kasir, mereka berdua mulai berjalan perlahan sampai suara asing membuat langkah mereka terhenti.
“Widih, ketemu dua manusia dengan paras yang cantik nan tampan tengah kencan di sebuah toko kemah yang besar.”
Suara perempuan yang familiar terdengar dari belakang mereka berdua, Ara tiba tiba muncul dan mengtakan hal sok puitis berulang kali.
“Ciee, lagi kencan ya?” Ara melontarkan senyuman kepada Gabril dan Fahri.
“Eng-enggak, kita kebetulan ketemu tadi, jadi sekalian bareng.”
“Lagian orang waras mana yang kencan di toko kemah, gila lo.” Tambah Fahri.
“Gue gabung ya, sekalian bareng, gk ganggu kan ya.” Ujar Ara lagi lagi disertai senyuman manis nya, rambut ikal agak keriting membuatnya terlihat lebih cantik dari penampilan nya di dalam sekolah.
“Boleh dong masa enggak, ayo, kita berdua mau ambil senter disana.” Ajak Gabril mendorong pundak Ara diiringi tawa riang keduanya, kecuali Fahri.
Pria itu langsung berjalan tanpa menghiraukan Ara dan Gabril, kemana sifat sopan nya tadi, dia kini berubah menjadi Fahri yang kita lihat di sekolah, pendiam, tidak pedulian, dan cuek.
Dugaan gabril benar Fahri, pria itu memang bersikap berbeda ketika berdua dengan nya, dia sopan, baik, dan sedikit periang ketika berdua dengan Gabril.
Namun semua itu tiba tiba berganti menjadi sikap cuek dan ingin ny ketika Ara bergabung.
Gabril tahu kalau Fahri juga memiliki perasaan yang sama dengan yang dia rasakan, gadis itu tidak boleh menyianyiakan ini.
__ADS_1