
TRENGG…..
Sebuah guci dilempar dengan keras, disusul dengan suara gentakan dan bentakan dari balik pintu kamar, gadis itu berulangkali membalikan argumen kedua orang tuanya.
“Kalian berdua enggak usah atur atur aku ya! Aku udah nentuin gimana masa depan aku kedepannya!” bentak Sassi.
“Tapi kamu ini perempuan nak, pantes juga enggak perempuan punya sifat kayak gini ha? Dimana sopan santun yang udah kami ajarin selama ini.”
“Udah ilang, sejak mama sama papa pergi ninggalin aku di rumah tua itu.”
“Jangan ngebantah terus Sassi, dengerin apa kata papa kamu, tanpa kami berdua kamu bisa apa? Mau jadi gelandangan kamu sama anak anak jalanan yang beringas itu?”
“Aku lebih suka tinggal sama anak jalanan itu dari pada harus dengerin semua aturan aturan kalian berdua!”
BRAKK…
Sassi membanting pintu rumah dan berlari menjauhi kedua orang tuanya tanpa memperdulikan perkataan mereka.
Disaat itu juga seorang anak perempuan keluar kamar dengan perlahan sembari menatap kedua orang tuanya.
Dengan sifat dan wajah polosnya, Gabril kecil berjalan membuka pintu depan rumah, dia berdiri didepan pintu itu sembari melihat bayang bayang dari kakak perempuan nya.
“Kakak Sassi kenapa mah,pah? Kok kakak lari gitu aja?”
*************
Rabu – gerbang sekolah.
Pagi hari ini terasa lebih mencekam dari biasanya, semua murid murid yang melewati gerbang itu seakan akan sedang memasuki portal menuju dunia lain.
Ulangan harian akan mulai diadakan pagi ini, ulangan yang diawali dengan pelajaran kesukaan semua orang itu, MTK, menjadi salah satu alasan kenapa suasana hati dari setiap murid di pagi yang cerah ini berubah menjadi sedikit murung.
Gabril berjalan perlahan di area lapangan sekolah, dia berjalan perlahan sembari menikmati suasana sekolah yang sedikit suram pagi ini.
Gadis dengan rambut poni nya itu sedang memikirkan kejadian yang menimpa dirinya.
“Malem itu kenapa yah, enggak tau kenapa setiap kali pas pasan sama Fahri kok aku kayak bingung harus ngapain. Padahal aku sama dia juga enggak kenal kenal banget, harusnya cuek juga enggak masalah kan? Tapi aku enggak bisa cuek ya sama Fahri.”
“AWAS WOY, MINGGIR!!”
Suara teriakan dari salah satu murid di lapangan dengan keras, semua mata tertuju pada bola sepak yang melayang kencang dan berputar dengan hebat.
Bola itu jelas mengarah kepada Gabril, Gabril sadar dengan bola sekuat dan sekencang itu bisa membuat dirinya pingsan ditempat, tetapi alih alih menghindar, Gabril justru hanya diam dan menunggu bola itu menghampirinya.
__ADS_1
Suasana lapangan semakin ramai dengan teriakan teriakan, Gabril tidak peduli dengan hal itu, dirinya masih diam menunggu bola itu dan…
BUKKK!!!!
Gabril memutar badan nya dan menendang bola itu dengan kakinya yang menjulang tinggi keatas. Bola itu terpental kembali ke tengah lapangan tepat didepan orang yang menendang bola itu tadi.
Murid murid yang melihat itu hanya diam seribu kata, mereka baru saja melihat hal aneh di pagi hari mereka. Suasana lapangan yang ramai berubah menjadi sepi.
Tatapan tatapan mata mengarah kepada Gabril, dengan wajah bingung yang terpampang dengan jelas, sadar seisi lapangan mulai memperhatikan dirinya, Gabril tanpa basi berlari menaiki tangga yang terdapat di samping nya.
“Eh bro, itu seriusan anak cwek bro? muke gile, gimana caranya tuh orang nendang balik bola nya ke kita, perempuan lagi tuh orang.” Ujar Dony.
“Kok tanya gue bro, eh iye entu bukannya kelasan elo Fahri?” tanya haikal.
“Iye, emang ngapa?” jawab Fahri santai.
“Ett dah pake nanya, elo cek sono, tar die kenapa kenapa, kite juga yang repot.”
Fahri mengangukan kepalanya dan berjalan mengejar Gabril sembari merapikan seragam nya yang kusut dan kotor.
TRENGGG!!!
Bunyi bel masuk sekolah dengan suara kencang, para murid yang berada di lapangan dan koridor langsung berjalan masuk kedalam kelasnya masing masing.
Gabril melihat kelasnya yang sudah ramai, tidak ada yang memperhatikannya saat memasuki kelas kecuali dua sahabatnya, Viona dan Ara yang melambangkan tanganya.
Gabril membalas sapaan mereka berdua dengan ikut melambaikan tangan.
SRAKK...
Seseorang dari balik punggung menggenggam telapak tangan Gabril dan menariknya kebawah, dengan reflek yang bagus Gabril balik menangkap dan melilit tangan pria itu hingga membuatnya sedikit kesakitan.
“Eh eh eh, sakit sakit…” ujar pria itu yang ternyata Fahri.
Gabril sontak melepaskan lilitan tangannya dan membantu Fahri kembali berdiri.
“EHH…Maaf maaf, aku kirain orang jahat.” Ucap Gabril sembari merapikan rambutnya.
“Emang tampang muka gue kayak kriminal ya?”
“Yaa enggak sih, tadi cuman ref-,” Fahri tiba tiba memegang pipi Gabril dan mengelus – elus nya.
Perhatian seisi kelas langsung tertuju kepada mereka berdua, pria itu memegang wajah Gabril dengan kedua tanganya sembari mengusapnya dengan perlahan.
__ADS_1
Gabril seakan membeku dan tidak bisa berbuat apa apa, gadis itu hanya terdiam menatap kedua bola mata Fahri dengan tajam.
"Ehh..ini..kok gini..dia..dia lagi ngapain.”
PLAKK..
Tamparan kecil tangan Fahri menyadarkan lamunan Gabril, Fahri kemudian tertawa kecil sembari menatap Gabril.
“Elo gk papa kan abis kena bola tadi?” tanya Fahri.
“Engg..enggak kenapa napa, lagian juga tadi bola nya enggak sempet ngenain gue, udah gue tangkis duluan.”
Mendengar itu Fahri langsung menatap Gabril dengan tajam dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Gabril.
Kedua orang itu bertatap tatapan didepan kelas dan menjadi pusat perhatian murid yang lain, termasuk Nina dan teman temannya yang terlihat tidak menyukai hal itu.
TENGG TENGG TENGG..
Seorang guru ternyata tengah melihat mereka berdua sedari tadi, Fahri dan Gabril tentu kaget, tidak sadar kalau ada guru yang memperhatikan dia.
“Waduh waduh, pagi pagi udah ada yang pacaran aja niehh..” seru guru itu tertawa kecil.
Itu adalah pak Zen, guru olahraga kesukaan semua murid disekolah. Sambil tertawa tawa pak Zen mengitari Gabril dan Fahri yang memang berdiri didepan kelas.
“Kalian cocok banget sih, udah berapa lama jadian,” tanya pak Zen.
“Ehh kita enggak pacaran pak.” Jawab Fahri dan Gabril bersamaan.
Kedua orang ini langsung menatap satu sama lain, membuat pak Zen semakin tertawa.
“Tuh liat, jawabnya aja kalian bareng, masa iya kalian enggak jadian.” Seru pak Zen meledek.
Gabril dengan canggung langsung berlari ketempat duduknya, begitu juga Fahri yang berjalan menuju tempat duduknya, disisi lain pak Zen masih tertawa kecil melihat tingkah laku mereka berdua.
Wajah Gabril terlihat merah saat dia duduk, Viona yang melihat itu juga ikut meledek Gabril.
“Ciee..yang pipinya abis di pegang sama anak laki paling ganteng dan populer disekolah, pengen lagi ya hehe.” Ucap Viona menggoda Gabril.
“Ish Viona kok kamu ikut ikutan sih. Aku malu tau.” Seru Gabril.
Meskipun begitu, Gabril merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, jantungnya berdetup kencang, dia tidak bisa berhenti memikirkan tentang hal tadi.
Akankah wanita yang sedikit sableng seperti Gabril akan merasakan jatuh cinta?
__ADS_1