
Derau daun berjatuhan menampar kepala Gabril perlahan. Dirinya kini berjalan sendirian, tanpa teman didalam rindang nya hutan di desa.
Akma memang masih berada di depan nya, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Pria itu hanya terus melangkah pelan, mengoreksi kakinya melewati tanah licin curam yang basah. Tetesan air yang turun dari dedaunan membasahi baju mereka berdua.
“Disini.” Aka berhenti, mengarahkan senter miliknya ke samping kanan, menerangi bangunan luas di tengah hutan.
Gabril membuka matanya lebar, dirinya menatap tempat gelap yang kini disenter Akma.
Bangunan kecil seperti gedung sekolah satu lantai, dikelilingi pagar besi tebal dengan lapangan luas dipenuhi tumpukan bangkai mobil rusak yang berkarat hitam.
“Yakin? Itu kayak bangunan enggak keurus. Kita mau uji nyali disitu?” ketus Gabril perlahan mundur menjauhi Akma. Namun dirinya terhenti, bukan karena Gabril ingin masuk kedalam, namun lengan nya ditahan oleh Akma dengan pegangan yang kuat.
Mereka berdua melakukan kontak mata nyaris 10 detik. Akma kembali mengambil ponsel nya dan menghubungi Ara. Namun hanya keheningan.
“Kita masuk aja, siapa tau Ara didalem.” Akma meyakinkan Gabril dan perlahan berjalan, namun Gabril masih terpaku diam, sepatu miliknya yang kini kotor oleh lumpur dan tanah menempel kuat. “Enggak, apansih Ara pake kesini segala, kalau ada siapa-siapa gmn? Kita udah jauh banget lho dari rumah warga. Bahkan area kemah.”
“Terus lo mau balik lagi? Kita udah mau sampe, non avera paura!”
Gabril membuang nafas pasrah, dirinya memang tidak mau memasuki gedung didepan nya yang terlihat seperti tempat rongsokan mobil.
Namun Gabril juga sadar kalau untuk sampai disini butuh perjuangan, lumpur lengket, semak belukar, dan waktu yang sudah membuang tenaga nya. Jam menunjukan pukul sebelas lewat dua belas. Sudah hampir larut malam.
Dengan terpaksa Gabril melangkahkan kakinya maju menyusul Akma yang sedari tadi menunggu dirinya. Gesekan gerbang besi tua dan basah menimbulkan suara serak kasar. Tumpukan mobil yang menjulang tinggi menutupi rembulan yang menyinari keduanya.
Rentetan alur jalan terlihat seperti gang kecil, namun ini bukan Tumpukan tumpukan mobil itu disusun menjalar hingga menimbulkan jalan kecil untuk dilalui. Bahkan persimpangan kecil, mereka bisa tersesat jika melupakan jalan.
__ADS_1
“Lewat sini, pasang tanda di mobil samping lo, biar kita enggak nyasar.” Akma memberikan pita berwarna kuning cerah yang kemudian ditempel Gabril di kaca spion mobil. Pantulan kaca mobil memerlihatkan wajah nya yang kini kusam, tataan poni rambutnya juga sudah berantakan.
Akma mengarahkan senter nya menunjuk jalan ke arah kanan, deretan mobil disana memang luas dibanding jalan tapak disebelah kiri.
“Yakin lo kesini, Ara aja masih belum bales chat nya kan?” Gabril bertanya dengan wajah penuh rasa penuh penasaran. “Kita cari, lo mau diem disini aj? Gerimis nya makin gede.” Ujar Akma santai.
Gadis itu tidak memiliki pilihan lain, hanya Akma yang bersama dirinya sekarang, dia tidak bisa melakukan banyak hal selain mengikuti Akma. Pria itu bertingkah seolah tahu semua jalan yang dibuat oleh tumpukan mobil itu.
Kegelapan semakin menyelimuti ketika Gabril dan Akma semakin masuk kedalam, perlahan hanya cahaya senter yang bisa mereka andalkan. Cahaya lampu di gerbang tidak bisa menembus masuk.
Gabril berkali-kali membuka menu aplikasi chat di ponsel nya, melihat profil Ara berharap ada balasan. Namun balasan yang ditunggu tidak kunjung datang. Semuanya gelap!
Bola mata Gabril terkadang memutar kebelakang, melihat tumpukan mobil yang sudah mereka lalui, namun semuanya hampir tidak terlihat, hanya bayangan kecil yang muncul sesaat lalu pergi.
Langkah keduanya kembali terhenti, jalan setapak yang mereka lewati kini terpisah. Ada dua pilihan jalan didepan keduanya, mengarah ke kanan dan tetap lurus. Akma memandang Gabril sebelum menyorot jalan ke arah kanan dengan senter terang miliknya.
“Kita harus tetep bareng, kalau kepisah gimana? jadi makin repot! Lagian kenapa enggak teriak aja sih? Panggilin si Ara atau enggak ya tungguin balesan chat dia.” Gabril terbatah-batah mengeluarkan kalimat dari dalam mulutnya.
Gadis kini ketakutan, dirinya memang sudah biasa menghajar orang-orang, namun situasi sekarang berbeda. Gadis gemetar setengah mati ketika mendengar lantunan Akma yang akan meninggalkan dirinya sendiri.
“Gue ngecek sebentar, lo liat tuh jalanan nya, isinya air semua.”
“Enggak Akma! Aku ikut. Enggak mau tau!” Gabril menempal erat di balik punggung Akma yang kini berjalan perlahan. “Huftt..tetep dibelakang gue, jangan jauh-jauh!” Gabril mengangguk kuat.
Akma berhati-hati melangkah, memastikan genangan yang dia injak tidak terlalu dalam hingga membuat kakinya terjebak. Gabril menginjak bekas langkah Akma yang cepat terhapus genangan air kecoklatan yang bercampur tanah.
“Jangan cepet-cepet Akma, tungguin ish.” Gabril mengekor dibelakang. Entah kenapa langkah Akma perlahan semakin cepat, dirinya lihai melompati genangan air dan mengembalikan pijakan nya pas di tanah.
__ADS_1
Gabril masih kesusahan dibelakang, disusul Akma yang perlahan semakin jauh, pria itu terlihat sudah mengetahui letak jalan ditempat rongsokan ini.
Gabril merasa aneh, semakin jauh Akma berjalan menjauh, meskipun gadis itu berulang kali meneriaki Akma untuk menunggunya, namun Akma sseolah tidak mendengar.
Itu terus berlanjut sampai tidak ada lagi penerangan, gelap gulita memeluk Gabril dari berbagai sisi. Akma menghilang. Cahaya senter didepan nya lenyap tanpa sebab. Meninggalkan Gabril yang kini terdiam bisu.
Lengan nya gemetar hebat, keringat membasahi ramput nya meskipun cuaca nya dingin. Matanya masih terpaku kedepan, menunggu Akma yang diharap segera datang.
5 detik, 10 detik, 15 detik. Tidak ada siapapun, hanya kesunyian dan kegelapan dilingkupi tetesan air gerimis rintik-rintik. “Akma…Akma.” Sayup Gabril perlahan. Dirinya ingin sekali membuka ponsel namun entah kenapa jari jari nya sangat berat.
Lima langkah diambil gadis itu, perlahan didalam gelap dirinya melihat sekilas siluet hitam berdiri didepan nya. Siluet itu berdiri tidak jauh, dia seperti Akma tetapi raut wajah nya tidak jelas. Siluet hitam itu berdiri seolah memandangi Gabril.
BRUKKK!!!
Lengan besar muncul dari balik punggung Gabril dan melilit leher miliknya, kejadian itu berlangsung sangat cepat, seseorang mencekik nya dari belakang. Gabril berontak sejadi-jadinya.
Dirinya ingin mendorong orang itu mundur, namun tenaganya jauh lebih kuat, lilitan nya semakin kuat, suara teriakan Gabril kini menjadi serak, suaranya tidak terdengar meskipun gadis itu mencoba berteriak.
Kepalanya terkunci, tidak bisa menoleh sedikitpun, cekikan yang melilit lehernya sangat kuat. Nafasnya perlahan habis, kerongkongan nya tersedak. Gabril masih mencoba melepas lilitan lengan besar itu dengan sisa tenaga yang dia punya.
Rasa kaget nya benar-benar membuatnya tidak berdaya. Di tengah kegelapan total dirinya sedang berjibaku dengan seseorang yang tidak dia ketahui.
Mata Gabril perlahan lemas tidak karuan,dirinya menatap langit dengan bintang yang bersinar hampir redup ketika awan malam menutup.
Gadis itu perlahan kehabisan nafas, keseimbangan nya pudar. Gabril terjatuh lemas dengan kencang hingga ambrukan badan nya menimbulkan cipratan genangan air yang bisa membasahi sekujur tubuh.
Gadis itu tidak sadarkan dirinya meskipun kedua matanya masi terbuka sedikit, perlahan lengan besar itu menarik nya menuju kegelapan total. Tubuh Gabril yang diseret pelan menimbulkan jejak di tanah dan genangan air. Tubuhnya menghilang dalam gelap.
__ADS_1