
MAU NGAPAIN?
Pesan chat Gabril diam membeku, balasan Akma tidak pernah datang, pria itu menghubungi Gabril sedari perpisahan mereka di sore hari itu.
Tanda tanya penuh dilontarkan, Gabril berdiri tepat di persimpangan jalan tempat tadi sore. Malam hari dengan lampu jalan tinggi menjulang.
Letaknya berjauhan satu sama lain, membuat beberapa sudut jalan masih sangat gelap disaat sinar lampu tidak bisa mencapai sana.
Gadis itu menolehkan kepalanya ke berbagai penjuru, memperhatikan orang-orang yang lewat pukul sembilan lewat lima.
Jari nya mengetuk layar ponsel yang tidak begitu besar. Menunggu balasan dari Akma yang seakan menghilang.
Gabril tidak ingin melakukan nya, keluar malam di pedesaan sudah bisa membuat dirinya mendapat hukuman berat jika sampai diketahui, apalagi kalau mereka semua sampai tahu ada Akma disana.
Namun Gabril seolah tidak bisa menolak, spam pesan, telepon, dan Akma yang memohon dengan pesan suara membuat gadis itu tidak tenang.
Ketika hendak melempar handphone miliknya dan menutup mata tanpa memperdulikan pesan dari Akma, dia tidak bisa. Ponsel nya seakan dibombardir oleh ratusan notifikasi.
Membuatnya tidak nyaman, dan akhirnya sekarang dia berdiri disini. ARA BILANG DIA BISA BANTU GUE, ASALKAN GUE BANTUIN DIA BIAR BISA KETEMU TEMEN LAMANYA DISINI. Itulah pesan nya.
Gabril mencoba berfikir logis, kenapa tidak besok pagi atau siang? Kenapa harus di malam hari. Kenapa enggak dari kemarin? Berbagai pertanyaan masuk kedalam pikiran Gabril.
Namun semuanya sirna ketika ponsel nya berdering samar, Ara menelpon dirinya ketika dia hendak terlelap didalam mimpi. Ara memintanya, memohon dirinya dan membujuk untuk menerima ajakan Akma.
Perlahan pemikiran nya berubah, bukan karena Akma, namun kali ini Ara yang memintanya langsung. Ara adalah anak yang pintar, punya popularitas, pandai membangun jaringan pertemanan, ketua osis dan eskul lain, tidak ada alasan untuk Gabril menolak alasan nya.
Ditambah gadis itu sudah cukup lama berteman dengan Ara. Dan juga Ara adalah satu satunya orang yang tidak menjauhi Viona sebelum dirinya masuk ke sekolah.
Gabril bangun dari kasur putih pendek didalam kamar, mengganti pakaian nya cepat dan mengambil jaket tebal di gantungan belakang pintu.
Gabril merangkak, langkah kakinya maju pelan-pelan, mencoba menghindar dari suara decitan dengan lantai lengan nya menutup pintu kamar, matanya menatap ruang tamu.
__ADS_1
Tidak ada Viona, gadis yang akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi dalam membaca buku novel nya sudah terlelap didalam kamarnya, hanya ada Kanti.
Dirinya terbaring di sofa ruang tamu yang cukup panjang dan empuk. Lengan kanan nya menyingkap menutupi wajahnya, kedua kakinya menaiki tumpukan tas di ujung sofa.
Gabril mengendap-endap ketika dirinya mendekati Kanti. Gadis dengan rambut yang lebih pendek dari Viona itu tertidur sangat lelap. Hanya alunan nafas yang bergerak dari perut nya.
Kini Gabril ada di halaman, langit yang gelap sedikit membuat matanya tidak bisa melihat hal didepan. Lampu remang yang hanya menyinari sebagian kecil rumah tanpa penerangan di jalan sempit yang diapit deretan rumah.
Langkah nya terus bergerak maju hingga dirinya diam dan berhenti di bawah sinar lampu jalan. Menunggu pesan masuk dari Akma ataupun Ara.
Sesuatu menarik perhantiannya, siluet hitam tinggi terlihat berlari kecil menghampiri Gabril, bayangan nya semakin jelas seiring siluet itu mendekat.
Pria jangkung yang memakai sweater hitam tebal dengan penutup kepala berlari sambil memegang ponsel yang masih menyala. Gabril melayangkan kedua lengan nya, dia mengenali pria itu, Akma.
“Lama banget sih?” Gabril melipat kedua tangan nya, menatap Akma yang mengambil nafas sembari mebungkuk.
“Tadi anak yang masih bangun, jadinya lumayan susah buat keluar.”
“Momento di andare, kita harus jalan sekarang, waktunya enggak banyak.”
***
Mereka berdua berhenti di jalan kecil tengah sawah, hawa dinging masih bisa menyelinap masuk kedalam kulit mereka walaupun jaket dan sweater tebal sudah dipakai.
Gabril bisa melihat saung kecil yang dia tempati saat sedang istirahat dari kegiatan di sawah, saung yang nyaman tadi kini terlihat sedikit menyeramkan, tanpa lampu membuatnya terlihat seperti bangunan kosong yang sudah lama tidak dihuni.
Gabril memandangi Akma, kepalanya bak kebingungan, dirinya membagi kedua matanya dengan ponsel dan lingkungan sekitar. “Kita ngapain kesini? Ara nya dimana?”
“Itu dia, gue lagi nunggu Ara, yang tau tempatnya dia, gue cuman ikutin arahan tuh orang.” Ujar Akma tenang, meskipun kepalanya berulang kali memutar.
“Lo kenapa mau ikut Ara? Bukan nya kalian berdua enggak saling kenal?” Gabril menatap Akma tajam, tatapan sinisnya memenuhi wajah gadis itu. “Kata siapa? Gue udah kenal udah lama, dari kelas 11.”
__ADS_1
Gabril lagi-lagi diam membisu. Dirinya menggigit bibir nya sembari memikirkan perbuatan nya malam ini.
Aku kan ngebantu, lagian juga yang minta Ara kan ? Kalau nanti kenapa-kenapa kan ada Ara, murid sekelas dia mungkin engga dapet hikuman berat, pasti aku dibela nanti.
Gabril membangun sugesti dalam kepalanya, mencoba bersikap normal, namun rasa takut nya juga bisa membuat pendirian gadis itu hilang dengan cepat.
Hentakan jantung nya mendadak cepat, ponsel keduanya berbunyi seiringan. Gabril dan Akma sontak membuka ponsel mereka, pesan dari Ara.
Keduanya menatap satu sama lain sebelum kembali memandang ponsel. “Kita jalan ke kaki gunung? Itu jauh banget lho. Ini juga udah malem, gelap disana?” Gabril menatap heran Akma yang juga kebingungan.
ADA TEMPAT PEMBUANGAN DISANA, TEMEN AKU ADA DISANA. AKU TUNGGU DI GERBANG YA.
Gabril menghela nafas panjang, kini dirinya harus berjalan menyusuri barisan pohon di malam hari yang gelap. “Jalan pelan-pelan aja, gue bawa senter. Tetep dibelakang gue cantik.” Akma mengelus rambut Gabril sebelum dirinya berjalan menaiki gundukan tanah.
Gabril mengekor dibelakang, dirinya menyalakan ponsel tanpa memalingkan nya dari aplikasi perpesanan yang masih dibuka. Tetesan air yang jatuh dari daun membasahi keduanya sedikit.
Tanah gelap dan basah membuat Gabril dan Akma tidak bisa berjalan dengan cepat, deretan tanah yang licin dan tidak jarang merembes masuk kebawah bisa membuat kaki mereka berdua terjebak cukup dalam.
Beberapa hewan masih ada disekitar, beberapa melompat dari pohon ke pohon, menghalangi bulat bulan yang masih terlihat walapun tertutup sebagian oleh dedaunan dan ranting kayu.
Tetesan keringat membuat Gabril sedikit tidak nyaman, meskipun udara disekitarnya sangat dingin. Akma masih berjalan menuntun nya melewati alur hutan yang tidak rata, menuruni permukaan curam, dan memanjat memakai akar pohon yang menjalar keluar.
“Ngeras aneh enggak sih? Akma. Kenapa Ara minta kita berdua buat nemenin dia, bukannya dia lebih enak kalau sama Kanti?” Gabril memecah keheningan sementara yang kemudian disambut oleh sinar senter kecil Akma yang menyorot wajahnya.
“Gue juga ngerasa gitu, cuman karena gue udah temenan lama sama dia plus sifat tuh cewek yang kadang enggak jelas, yaa…gue ngerasa biasa aja. Lagian bukan sekali ini aja dia malem pas acara kemah sekolah.”
Gabril membuka matanya lebar setelah mendengar baris kata terakhir dari kalimat Akma. Ara sudah pernah melakukan hal ini, bertemu teman lamanya, sebelum ini juga begitu.
Akma langsung membisu setelah baris kata terakhir, fokus mengarahkan senter nya menyinari jalan basah dan becek di depan mereka.
Gabril sedikit bergumam, pertanyaan lagi-lagi terlewat di kepalanya. “Siapa temen lama Ara?”
__ADS_1