
Kamar kos kecil yang hanya dibalut satu buah kasur lipat dan kipas angin mungil yang memutar kepalanya pelan. Dua orang gadis nampak berbicara didalam kamar sempit dan sedikit kumuh itu.
Gadis itu merapikan pakaian nya dengan cepat kedalam koper yang sudah terlihat koyak, beberapa sudah sedikit bolong sampai tumpukan baju bisa terlihat dari luar.
“Kenapa harus pindah?” gadis yang berdiri di depan pintu kos menyilangkan kedua tangan nya di dada dengan wajah sedikit mendonga keatas.
“I lost, the rules are clear right? Lo jatuh lo keluar. Lagian elo juga ngapain sih disini, bukan nya minggu depan di sekolah lo ada ujian Ra?”
“Yaa…mau bantuin aja, enggak boleh nih gue bantu?”
Gadis itu tersenyum lebar mendengar Ara. Baju sudah dikemas, kedua gadis itu pergi dan turun dari kos setelah mengembalikan kunci pintu.
Jalanan kota yang kotor, langit tertutup oleh jalan layang yang besar sehingga panas matahari yang sebenarnya menyengat tidak bisa mengenai mereka.
Rel kereta api yang terputus dan tertutup sebagian oleh pasir yang tertiup angin, di tembok besar yang menyangga jalan layang diisi oleh anak – anak kecil yang sedang makan dengan sangat lahap.
Orang orang hanya tertidur dengan alas seadanya, mengorek tempat sampah, tubuh mereka kurus mengering. Kedua gadis itu hanya memandang kedepan tanpa memperdulikan mereka semua.
“Sekarang gimana? Mau tinggal dimana, Larisa?” Ara memusatkan wajahnya, gadis yang berada di samping nya hanya terkekeh kecil.
“Nyari klub baru, apa susahnya.” Jawab Larisa santai.
Kedua gadis itu memang terpaut umur yang cukup jauh. Ara yang kini duduk di kelas 11/2 SMK dengan umur 17 tahun, sedangkan Larisa yang berumur 20 tahun.
“Kenapa harus nyari klub lagi, enggak capek apah berantem mulu, muka lo aja sekarang masih biru lebam gitu.”
“Mau gimana lagi, ijasah cuman SMA, mau daftar kerja enggak pernah diterima Ra.”
Ara termenung sekilas sampai mereka sampai di sebuah halte kecil dengan cat yang sudah mengelupas. “Coba aja tuh cewek enggak egois, mungkin gue gk harus pindah.”
Larisa mengusap wajahnya yang penuh memar merah agak kebiruan, gadis itu menghela nafas panjang, matanya menatap trotoar dengan tatapan kosong.
“Cewek?” Ara bertanya penuh penasaran, kilauan mata terlihat keluar ketika Ara menundukan kepalanya menghampiri wajah Larisa yang termenung di halte bus.
__ADS_1
“Iya, dia ada diperingkat 5 dan gue di peringkat 4, gue emang udah dipastiin kalah waktu itu, ilmu sama fisiknya emang bener – bener kuat buat ukuran anak smk.”
“Dia anak smk? Sepantaran gue gitu?”
“Iya, gue sempet ngomong sebentar sama dia sebelum kita fight, gue minta cewek itu buat ngalah satau seengaknya bikin pertandingan kita seri di malem itu aja.”
“Gue juga udah jelasin kalau gue bakal diusir kalau sampe kalah, jadi gue sedikit ngemis, mohon – mohon biar cewek itu ngalah buat kali ini aja. Tapi lidah enggak bertulang, dia bikin gue babak belur di 6 menit awal, dan dia ngebuat gue jatuh di babak pertama.”
Ara hanya terdiam bisu mendengarkan Larisa yang perlahan bangkit dan merapikan pakaian nya disaat sebuah bus terlihat dari kejauhan.
“Appearance never refelects a personality, makasih udah nemenin gue, elo temen terbaik gue sejauh ini, Ara.”
Larisa melambaikan tangannya tinggi kepada bus orange yang memelankan laju nya untuk berhenti. “Larisa, kita masih ketemu lagi kan?”
“Mungkin, gue bakal pindah jauh sih, ke klub yang bener – bener belum tau siapa gue, tapi bisa aja.”
“Makasih juga, semoga lo baik – baik aja disana, jangan lupain gue.” Ara tersenyum lebar dan sedikit memiringkan wajah nya, Larisa hanya terdiam melihat sahabat nya yang tengah berdiri menunggu dirinya menaiki bus.
“Goodbye Ra.” Larisa mengangkat kaki nya menaiki tangga kecil di belakang pintu bus yang sudah kelihatan tua itu, memutar pandangan nya masuk kedalam sampai Ara tidak terlihat.
***
Kisruh suara berisik dari lantai dasar dengan suara peralatan dan musik yang diputar kencang benar – benar mengganggu Gabril kesulitan belajar.
Hari minggu membuat tempat GYM tiga lantai ini sangat penuh, semua alat olahraga sedang dipakai, kumpulan orang dengan otot tangan dan perut yang kekar serta besar sedang memainkan beberapa barbel besar.
AC yang menyembur dingin dan suara bicara serta musik besar membuat Gabril melempar buku paket tebal yang sedang dia baca beberapa menit lalu.
“Gila nih tempat, enggak bisa tenang sedikit apa, emang nya enggak liat ada cewek lagi belajar?” cetus kesal Gabril memandangi seluruh orang orang yang melewati kasir tempat dia duduk dengan kerutan alis tajam.
“Siapa suruh belajar disini, kenapa enggak pindah ke kamar atau perpus kota?” nampak pria dengan kemeja berwarna biru pekat yang nyentrik dengan celana pendek bergambar pohon kelapa, tidak lupa kacamata hitam yang terpajang di atas rambut.
“Nih lagi manusia pake dateng, mau ngapain?” Gabril menyipitkan kedua matanya menatap Oscar yang sedang seru menyeruput segelas es kelapa segar.
__ADS_1
“Jangan galak – galak, Bull minta daftar member yang udah bayaran.”
Gabril membuka laci meja disamping nya dengan kasar dan mengambil bebeapa lembar kertas putih dengan coretan angka yang menempel dengan berantakan.
“Nah gitu dong, naikin tuh bibir jangan memble mulu.” Oscar merapikan rambut kuning kemerahan nya sebelum mengambil lembaran kertas yang terpapar di meja kasir.
“Udah enggak ada urusan kan, sana pergi.”
“Gabril, tadi gue kebetulan lewat daerah patingan,-” Gabril dengan cepat mengangkat kepalanya tinggi, mulut nya sedikit terbuka hingga Oscar bisa melihat deretan gigi putih mungil nya.
“Si Isabel nanyain, kapan elo balik lagi ke klub.”
Gabril termenung sesaat, mengusap kening dan menyisir rambut ikal nya dengan jari – jari lengan nya. “Lo tau sendiri kan gue diem – diem ikut begituan dari Sassi, ditambah sekolah juga lagi banyak tugas.”
“Iya juga, tapi seengaknya elo kesana sebentar, ngejelasin ke geng lo disana, apalagi lo fighter andalan nya kan.”
Gabril menghela nafas panjang, menjalani dua kehidupan mulai membuat dirinya kelelahan, ditambah dirinya sudah masuk terlalu dalam di arena tinju itu yang membuat gadis itu kesulitan keluar.
Hanya masalah waktu sampai Sassi mengetahui semuanya, semua tentang ring yang dia sangat sukai dahulu kala kini mendadak pudar dari hati nya.
Keinginan untuk menjadi nomor satu disana sudah hilang, ditambah dirinya yang kini duduk di kelas 11/2 smk. Praktek kerja atau magang juga akan dia jalani.
Keinginan nya satu persatu pudar semenjak pertandingan terakhir, wanita yang terkpar lemas di dalam rin, kejadian itu membayangi isi kepalanya sampai saat ini.
AUTHOR NOTE
Gimana nih yang setia baca cerita Gabril? Semoga makin betah ya lama - lama disini.
Author mau kasih tau kalau buat kalian mau dapet info update chapter terbaru atau wiki seputar novel Gabril, bisa follow ig author di:
@hibvii
Yuk buruan follow biar kalian jadi makin update yaa.
__ADS_1
Terimakasih buanyak buat kalian yang udah baca Novel Gabril.
Happy Reading guyss :)