Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Gadis dalam gelap


__ADS_3

Sayatan malam yang dingin megerus Gabril hingga dirinya meringkuk sepanjang jalan, langit yang masih dibalut kegelapan tampaknya belum bisa menghilang.


Pandangan nya masih sedikit kosong menatap bangunan sekolah yang sedang dia masuki, atau dimasuki.


Dirinya sudah berjalan menyelusuri gedung tua ini hampir satu jam. Gadis itu tidak menemukan apapun selain hamparan kosong dipenuhi kegelapan. Langkah kakinya terhenti di lantai tiga didepan ruang kelas. Matanya memandang lantai bawah dengan tajam.


Ruangan cukup besar di lantai dasar masih bisa terlihat oleh mata Gabril, sinar rembulan yang samar cukup untuk menerangi sebuah lapangan cukup besar dengan ruangan panjang dan lebar di samping nya.


Gabril sedikit menoleh ke belakang sebelum memutuskan untuk turun, dirinya memastikan tidak ada orang yang diam diam memperhatikan dirinya. Langkah kakinya cepat menuruni anak tangga yang menjulang kebawah.


Hamparan lapangan tua dan termakan waktu, tumbuhan liar memenuhi seisi lapangan, tiang basket yang ada di ujung pun sudah patah dan tertumpuk berantakan.


Tetapi dirinya masih terpaku pada ruangan di samping nya, jendela yang lebar dan cukup besar membuat Gabril bisa melihat isi ruangan yang dipenuhi oleh buku-buku.


“Perpustakaan, cuman ini ruangan yang punya lampu.” Ujar Gabril sembari perlahan masuk kedalam. Dirinya mengeratkan genggaman tangan nya kepada tongkat kayu yang dia bawa dari lorong lantai 2.


Bilah kayu yang cukup panjang, Gabril sudah setengah mengangkat balok kayu itu sembari berjalan perlahan menyusuri ruang perpustakaan. Lampu nya masih menyala terang, berbeda dengan ruangan lain.


Perpustakaan ini masih cukup bersih, tumpukan buku yang sudah robek masih tertata rapih di rak sintesis. Lantainya meskipun kotor oleh ceceran tanah tetapi tidak sekotor ruang lain. “Ada orang yang bersihin.” Gabril melihat sekeliling.


Dirinya berputar di ruangan yang terbagi oleh rentetan rak buku tinggi yang membentuk jalan kecil. Langkah kakinya digerak pelan agar tidak ada orang yang mendengar langkah nya, tetapi dia salah.


Pandangan Gabril tertuju di balik jendela luar ketika bola matanya menangkap dua siluet hitam yang memperhatikan dirinya. Jantung gadis itu langsung berdetak kuat, dadanya naik turun diikuti nafasnya yang semakin tidak terarur.

__ADS_1


Gabril semakin erat memegang balok kayu, langkahnya maju mengikuti siluet hitam diluar ruangan yang mendekati pintu. “Siapa?” Gabril sedikit mengeraskan suara. Namun hanya kesunyian yang dia dapat.


Perlahan matanya menangkap bayangan yang semakin jelas, sosok tinggi dengan rambut terurai panjang. Gadis itu sudah siap untuk segala kemungkinan. Perlahan semakin jelas.


Gabril mengerakan semua tenaga nya pada balok kayu yang dia pegang, gadis itu akan mengayunkan nya dengan kuat, namun tenaganya hilang dengan cepat, matanya melebar menatap sosok perempuan yang muncul dari balik pintu.


Gadis tinggi dengan rambut panjang sampai pinggang, entah kenapa raut wajah Gabril terdiam, dirinya merasa familiar dengan wajah didepan. Entah kemana semua tenaga yang dia siapkan tadi, semuanya buyar.


Hanya beberapa meter lantai kosong yang memisahkan, gadis itu perlahan maju, mendekati Gabril yang masih menatap nya bingung. “Kamu…aku kenal kamu.” Gabril mundur seiring gadis didepan nya maju. “Iya, kita emang kenal, inget sama cewek yang kamu knockout kurang dari lima menit tahun lalu?”


Gabril langsung membuka pikiran dan ingatan di kepala, kening nya sedikit mengerut. Perlahan dia mendapat ingatan. Seiring Gabril semakin menjauhi gadis didepan yang berjalan menghampiri.


“Larisa, kamu Larisa.” Gabril memandang semakin tajam, gadis didepannya adalah Larisa masa lalu nya di klub fighting ilegal. “Aku masih memorable ternyata, kirain udah enggak ada yang inget semenjak K.O waktu itu.”


“Kamu tahu kan, waktu itu aku udah mohon banget, ngemis ke kamu biar hasil tanding kita seri. Tapi kamu lebih mentingin popularitas.”


Gabril kini dipenuhi keringat dingin, wajahnya pucat mendengar lantunan kata Larisa. “Aku diusir, ditendang sana sini, tidur dijalanan sampai mungut makanan dari tempat sampah sama sisa restoran malam itu. Disaat kamu lagi ngerayain kemenangan bareng mereka.”


Larisa kembali menatap Gabril, kali ini tatapan nya tajam, mulutnya menyeringai seperti bisiskan ular, desis kaki pelan mengangkat , alis Larisa turun membentuk garis kerut yang menyesuri alis mata.


Tanpa basa basi. Larisa berlari kencang mendekati Gabril, lengan Gabril langsung memasang badan sigap. Cengkraman nya kembali menguat dan meletakan balok kayu di atas kepalanya.


Kejadian nya berlangsung cepat, Larisa mengantam wajah Gabril tepat sebelum balok kayu mengenai dirinya, Gabril terpental mundur beberapa langkah, alunan nafas Gabril kembali menegang, rambut poni nya berserakan di atas kepala.

__ADS_1


Helai rambutnya sedikit menutupi mata namun Gabril masih bisa mengeles dari pukulan beruntun yang dilontarkan Larisa. Gabril menunggu waktu yang tepat, sesaat sebelum Larisa kembali melontarkan tinjunya, Gabril dengan cepat mendahului dengan menyeret balok kayu yang dia pegang sedari tadi.


BRUKK….Tepat menghantam dagu Larisa dengan kuat, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan berjalan mundur dengan langkah yang tidak beraturan.


“Sialan.” Geram Larisa sembari mencoba berdiri dengan kedua kaki yang mulai oleng. Gabril tidak membuang waktu, dirinya akan terluka jika membiarkan orang didepan nya kembali bangkit.


Gabril memasang langkah sebelum melompat ke arah Larisa yang masih linglung.


Kedua lengan nya mengangkat balok kayu tadi tinggi, beberapa centi, Gabril mengayun balok kayu itu dengan kuat sampai menciptakan alunan suara angin yang terbawa.


Terlambat! Tanpa dia sadari satu buah kursi tengah melayang menuju dirinya dari arah samping. Hampir balok kayu itu mendarat di pucuk kepala Larisa namun Gabril terhempas ketembok setelah tersambar keras kursi yang dilempar tadi.


Tubuhnya terbaring lemas, dirinya terhempas dan mencium dinding ruangan. Tatapan matanya samar dan buram. Bayangan seorang pria berlari menopang Larisa dan perlahan berjalan keluar.


Gabril mencoba berdiri, mengejar keduanya, namun kesadaran nya perlahan hilang, sayup matanya hanya bisa menangkap sedikit cahaya lampu yang remang. Ketika dirinya melihat ke arah pintu, bayangan itu menghilang dengan Larisa yang ikut bersamanya.


Rasa nyeri kerap muncul di berbagai bagian tubuh, gadis itu kini hanya merintih kesakitan. Kursi alumunium yang dilempar tadi hancur menyisahkan potongan bagian yang terlepas, kursi itu dilempar dan mengenai Gabril dengan sangat kuat.


Gabril masih memegangi perut nya, dirinya merintih kesakitan di ruangan sepi penuh buku dan kegelapan total diluarnya, dirinya tidak mengira kalau orang yang dia kalahkan tahun lalu kini kembali dalam kehidupan nya.


Larisa dan siapa pria yang menopang nya keluar, meninggalkan Gabril sendirian didalam perpustakaan, kepalanya cukup berat saat memikirkan Larisa, namun Akma dan Ara masih belum jelas keberadaan nya. Ditengah kesepian Gabril mengeluarkan jeritan kesakitan.


Mulutnya memerah seiring waktu dengan lumuran darah tipis yang keluar dan menetes pelan dari dalam mulut, sembari menekan dan memutar lengan nya Gabril berharap ada seseorang yang melihatnya keluar, dan bisa menolong dirinya.

__ADS_1


__ADS_2