
Aroma aroma kesenangan terasa memancar keluar dari setiap orang di kelas, ulangan matematika yang horor itu sudah berhasil mereka lewati. Meskipun tidak yakin mendapat nilai bagus, tetapi para murid tidak memperdulikan itu, YANG PENTING UDAHAN!
Jam menunjukan pukul 10:20 pagi, suasana yang sedikit ricuh mengelema di lapangan sekolah, pelajaran olahraga yang sedang berlangsung bersama pak Zen membuat hati setiap orang di kelas bahagia bukan main.
Kapan lagi bisa menghirup udara bebas disaat orang lain masih duduk belajar didalam kelas sampai jam pulang sekolah.
Gabril dan Viona seperti biasa juga hanya berbicara berdua disaat murid lain tengah sibuk membawa peralatan olahraga kedalam lapangan.
“Heyy berduaan aja nih, hati hati lho, nanti kalian jatuh cinta lagi” ujar Ara sembari memberikan 2 botol air mineral.
Gabril memutar kedua bola matanya, pasrah. “Bukan aku, si Viona mungkin yang bakal suka sama aku.”
Viona tersedak mendengar perkataan Gabril, gadis polos itu memusatkan pandangan nya kepada dua orang gadis didepan nya dengan wajah bingung.
“Hahaha…Lihat Viona, kalian mungkin bisa jadi pasangan yang cocok.”
Disela waktu, pak Zen datang dengan sekantong sarung tangan, Gabril merasa familiar dengan sarung tangan itu, dia memperhatikan sarung tangan berwarna merah itu dengan seksama.
Sampai sebuah lembaran buku besar menghantam kepala nya.
BUKK..
“Hey..sakit tau,-” ucapan nya terhenti ketika Gabril mendongakan kepalanya keatas langit, disana berdiri sosok pria berbadan cukup kekar dengan rambut undercut berarsir warna putih di beberapa helai. Itu Fahri.
“Jangan kebanyak bengong, nanti kesambet lo.”sahut Fahri sembari menjulurkan sebuah buku berwarna hijau yang besar.
“Nih buat gue?”
“Hahh?..itu buku absen, cari nama lo terus tanda tangan, kurang kerjaan banget gue ngasih buku ke elo.” Ujar Fahri dengan canggung.
meskipun nada bicara anak ini kasar, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan sifat canggung nya ketika bertemu Gabril.
Gabril menaruh pulpen di atas buku dan menggores nya sedemikian rupa hingga terbentuklah sebuah coretan aesthetic yang disebut sebagai tanda tangan.
Fahri langsung mengambil kembali bukunya dan pergi tanpa sepatah katapun, Gabril lagi lagi merasakan perasaan yang aneh ketika berhadapan dengan Fahri, jantung nya tidak bisa berhenti berdetak.
BUKK…
__ADS_1
Sepasang sarung tangan dilempar mengenai kepala Gabril, (lagi.)
“Jangan kebanyakan bengon, nanti kamu kesambet lho Gabril.” Ujar pak Zen sembari ternyesum jahat.
Viona dan Ara tertawa lepas melihat hal itu, “Makanya, jangan kebanyakan bengong Gab” ledek Ara melihat teman nya tertimpa dua barang di satu waktu.
“Okeh anak anak untuk pelajaran kali ini adalah seni bela diri, tentu sebagai anak sekolah kalian harus bisa membela diri kalian sendiri jikalau ada sesuatu yang mengancam kalian, oleh karena itu kita akan belajar dasar bela diri agar kalian setidaknya paham bagaimana caranya memukul dan menghindar.
Para murid bersamaan memakai sarung tangan mereka masing masing, dan duduk berbaris di tengah lapangan sekolah yang cukup luas.
“Okeh, jadi kalian akan berpasangan, laki laki sama perempuan, yang laki akan memegang bantalan, dan yang perempuan tugas kalian memukul bantalan ini, semakin kuat pukulan dan tendangan kalian, nilai kalian juga semakin bagus.”
“Nah kalau untuk laki laki, semakin kuat kalian nahan pukulan nya, nilai kalian juga bakal bagus, jadi ayo mulai.”
Pak Zen memanggil satu persatu untuk melakukan praktek, bantalan berbentuk persegi itu memang terlihat tebal, apalagi yang menahan nya adalah anak cowok, pastinya akan susah bagi murid perempuan. Namun tidak untuk Gabril.
“Hmm…kalau inimah masih gampang, aku udah biasa lakuin ini di GYM setiap pagi, nilai ku pasti sempurna nanti.” Gumam Gabril.
“Ara dan Haikal.”
“Ehh anak laki, nanti lo pura pura mundur ya pas gue mukul.” Bisik Ara kepada Haikal dengan senyum jahat nya.
“Ishh, nanti gue beliin mie ayam komplit di kantin deh, yah.”
“Bener ye, yaudah deh lumayan dapet makan siang gratis.” Ujar Haikal tertawa.
Mereka berdua pun melakukan prakter dengan mulus, Haikal sedikit mundur ketika Ara melayangkan pukulan nya sesuai dengan perjanjian, mie ayam berbicara disini.
“Dony dan Viona”
“Nina dan Raka”
“Andre dan Arsya”
“Okeh ini yang terakhir, hahaha..Gabril dan Fahri, kalian ini emang ditakdirkan selalu bersama ya.” Ledek pak Zen.
Gabril dengan cepat berdiri dan maju kedepan barisan, disana sudah ada Fahri yang siap dengan bantalan di tangan nya.
__ADS_1
“Gabril, kamu jangan kuat kuat, nanti pacarmu luka lho.” Seru pak Zen sembari tertawa lebar.
“Lo tahan yak.” Seru Gabril sedikit berteriak.
“Apaan sih tuh cewek, sok akrab banget sama Fahri.” Ketus Nina yang tengah duduk di barisan.
Fahri sudah siap, dia memusatkan tenaga nya di bagian tangan nya, meskipun dia tahu wanita ini tidak akan bisa membuatnya goyah.
Berbeda dari yang lain, Gabril tidak memukul dengan keadaan berdiri, gadis itu memasang kuda kuda rendah, menatap bantalan itu dengan serius, membayangkan wajah seseorang yang dia tak sukai ada disana.
Gabril menempatkan kaki kiri nya didepan, dengan kedua tangan nya yang berada didepan dada nya. Setelah siap, Gabril dengan cepat maju mendekati dan melompat kearah Fahri, saat hendak mendarat, Gabril melayangkan kaki nya dengan kuat dan tepat mengenai bantalan itu.
PUSHH..
Fahri terjungkang kebelakang dengan cukup kuat, pria itu tidak mengira kalau tenaga perempuan didepannya itu bisa sekuat ini, orang orang yang menyaksikan terdiam keheranan. Termasuk pak Zen.
Fahri yang terjatuh mencoba berdiri dan mengembalikan keseimbangan nya. “Apa apaan, bisa bisanya gue jatoh sama nih cewek, aduh malu maluin banget sih Fahri.” Bisik Fahri.
Gabril kembali memasang kuda kuda nya tanpa mengatakan sepatah kata kepada Fahri, melihat nya Fahri kembali menguatkan pijakan nya.
Sesi kedua, Gabril menatap kembali bantalan itu dengan tajam, sedikit ancang ancang dan…
BUKKK..
Gabril memutar badan nya dan kembali melayangkan tendangan kuatnya tepat mengenai bantalan itu dengan kuat, membuat pertahanan Fahri lagi lagi hancur dan membuat dirinya terjatuh kembali.
“Anjirr, kuat banget dia.” Seru Dony kaget melihat teman nya terjatuh.
“Gila gila, anak baru entu dari mana sih sebenernya, die kok bisa sih ngebuat Fahri jatoh, kite yang anak cowok aja enggak bisa lho.” Bingung Haikal.
“Oke oke cukup, Gabril dan Fahri kalian kembali ke barisan.” Uar pak Zen sembari menulis di papan kecil yang dia bawa.
Gabril menatap mata Fahri dengan ekpresi puas nya, Gabril berjalan kembali masuk kedalam barisan dengan senyum senyum kecil yang menempel di wajahnya.
“Siapa sih tuh cewek, bisa bisanya dia jatuhin gue.” Gumam Fahri kesal sembari berjalan masuk kedalam barisan.
Disisi lain Ara memperhatikan Gabril dengan kedua matanya, Ara masih bertanya tanya bagaimana bisa Gabril begitu kuat untuk ukuran wanita dengan penampilan yang 11 12 dengan Viona.
__ADS_1
Rasa penasaran dalam diri Ara mulai bermunculan, dari mana gadis itu berasal?