
Kedua mata itu terus berkedip melawan sayu, menutup dan mendengarkan suara asing yang melewati telinga berulang kali.
Alisnya menurun pelan hampir mengenai bola mata.Kedua tangan menopang dagu, segelas cokelat panas yang tadinya penuh uap kini hanya tersisakan aura hangat yang akan hilang sebentar lagi.
Gabril termenung didalam tenda kecil miliknya, bagaimana bisa guru itu mengacaukan niatnya untuk berduaan dengan Fahri. “Tenda anak laki dan perempuan akan dipisah, anak perempuan menggelar tenda nya di tepi tepi danau, dan anak laki – laki yang sudah memasang tenda disana segera pindah.”
Kalimat itu terulang – ulang didalam kepalanya, semuanya udah sesuai rencana, tinggal eksekusi, ungkapan kesal ingin rasanya diteriakan didepan wajah guru – guru yang dari tadi mundar mandir di depan tenda.
“Ciee yang gk jadi ngedate.” Viona muncul entah dari mana, wajahnya yang penum senyum berlawanan dengan raut wajah Gabril, bibir nya akan jatuh kebawah sebentar lagi.
“Enggak usah sampe kesel gitu kali, kita juga masih lama disini.” Viona mencoba membuat sahabatnya merasa sedikit lebih baik, tetapi wajah datar tanpa ekpresi masih ditempelnya.
“Huaaa….tadi kesempatan emas tau gk sih, kenapa coba kita harus pisah daerah tenda, lagian juga apa salahnya kalau tenda perempuan digabung sama tenda anak cowok?” Gabril mengacak – acak rambut poni nya yang terikat cepol.
“Better think of another way.” Viona mengambil buku dari tas foldable kecil yang dia angkut sedari tadi. “Buku enggak bisa ngasih jalan buat masalah ini Viona.”
Viona tidak mengubris perkataan gadis didepan nya, tangan nya membolak – balik halaman kertas dengan cepat, Viona seolah tidak membaca halaman nya.
“Viona udah, kamu enggak bakalan ne,-”
“JACKPOT!!” ucapan Gabril terpotong oleh suara Viona yang memenuhi seisi tenda.
“Liat? Ketemu kan.” Wajah Viona benar – benar memberi tahu kalau buku yang dibawa olehnya menyimpan semua cara yang akan mereka butuhkan. Membaca jendela dunia.
“Okeh Gabril, disini tertulis cobalah untuk melewati kelas orang kamu sukai untuk melihat dirinya.”
“Really Vi?...ya ampun, itu cara kuno Viona, masa iya kita mau lakuin itu.” Gabril menggeleng kuat, meminta Viona untuk memikirkan cara lain.
Viona kembali kedalam buku, pupil nya bergerak cepat memutari seeluruh bagian di bola matanya.
"Gimana caranya mahkluk ini bisa baca segitu cepet nya.” Gumam Gabril dalam hati kebingungan melihat Viona yang bisa dengan cepat membaca lembaran halaman.
__ADS_1
Mulutnya bahkan tidak terbuka seperti orang kebanyakan, walaupun bacanya dalem hati, senggaknya mulutnya pasti terbuka disaat – saat tertentu.
Viona tiba tiba menutup buku tebal di tanganya, menatap Gabril dengan senyuman yang aneh, EVIL SMILE yang biasanya terlihat di wajah Gabril kini berpindah di wajah Viona.
Viona menata kembali kacamata yang tercantol di wajahnya, tersenyum lebar hingga gigi putih mungil nya nampak dengan jelas.
“Ughh..kenapa gadis itu tiba tiba jadi serem gitu?” Gabril memandangi sahabatnya dengan pundaknya yang sedikit naik.
***
Suasana hutan dimalam hari tidak semenyeramkan di film atau cerita horror yang biasanya tayang di televisi. Kilauan bola lampu kecil berbaris dengan tali yang menggantung mengikuti alur pepohonan.
Kegelapan sama sekali tidak terlihat, bahkan danau yang luas itu diisi oleh beberapa lentera terang yang terapung bebas. Langit yang hitam pekat ditempel oleh kilauan samar bintang dan bulan yang menatap bumi.
Jam baru menunjuk pukul tujuh lewat lima, murid – murid dari sekolah ramai berjalan ria mengeruminu berbagai area di tempat kemah.
Membuat api unggun, berkumpul dibawah pohon tinggi yang rindang, dan makan bersama didepan tenda mereka yang bersautan satu sama lain.
Gabril berjalan melewati riuhnya orang orang yang kalah dengan banyak tenda yang berjejer. Viona perlahan mengikuti Gabril dari kejauhan.
“Pokoknya kamu ke tenda Fahri sekarang, tunjukin kalau kamu emang mau ngobrol sama dia walaupun rencana kalian buat masang tenda sampingan batal.”
Viona menerangkan dengan antusias sebelum dia menarik badan Gabril keluar tenda dan sedikit memaksa nya berjalan menuju tenda milik Fahri.
Meskipun sedikit tidak suka tapi entah kenapa Gabril setuju dengan itu, Viona memiliki semacam sihir.Tenda besar berwarna orange bergaris hitam yang sangat mencolok.
Sampai disana Fahri ternyata hanya sendiri, duduk dengan bangku lipat kecil dan bermain handphone dengan satu cup mie instan yang berserakan dikolong bangku nya.
Niat Gabril seketika hilang disaat itu, hanya beberapa langkah dari tenda milik Fahri. Viona dari kejauhan memajukan kepalanya berulang kali, memberi isyarat untuk Gabril.
Gabril berjalan mundur perlahan, dirinya menggeleng kepada Viona yang mengumpat dibalik pohon besar, satu persatu langkah Gabril menjauh dari sana dan dia gagal.
__ADS_1
Iya gagal, Fahri menoleh kearah samping tepat dimana Gabril sedang berdiri dan melangkah mundur perlahan. Dengan lugunya Gabril justru melambangkan tanganya tinggi alih alih lari.
“Duh..kok aku malah ngelambai sih.” Gumam Gabril dengan bibir nya yang perlahan tertarik keatas.
Fahri tersenyum lebar ketika melihat Gabril yang berdiri tidak jauh dari tenda miliknya. Tidak punya pilihan Gabril akhirnya menarik semua rasa gugupnya dan berjalan menghampiri Fahri.
Rasa gugup menyelimuti kedua orang itu, meskipun mereka berdua pernah bertemu sebelumnya, namun seakan Gabril dan Fahri baru saja pertama kali berhadapan.
Fahri bangkit dari kursi lipat kecil miliknya dan mengambil sebuah karpet kecil dari balik tenda, karpet yang tidak besar namun cukup untuk menjadi tempat ngobrol untuk dua orang.
Gabril sesekali mengalhkan pandangan matanya menuju Viona yang tengah duduk manis dibawah pohon besar, Gabril menaikan lagi pundaknya, gadis itu bingung bagaimana memulai pembicaraan.
Viona hanya mengacungkan jempol nya tinggi dan kembali membaca buku yang dia gandeng dari tenda, Viona akan benar benar meninggalkan dirinya bersama dengan Fahri.
“Yahh..aturan guru itu ngebuat kita gk bisa sampingan.” Fahri melontarkan senyum kecil sembari menuankan the hangat kedalam gelas plastik.
“Seenggaknya anak perempuan sama laki masih dibolehin masuk kedalem daerah masing masing selama belum masuk jam tidur.”
“Hihihi..iya, btw dua temen kamu kemana, Haikal sama Dony?”
“Kan udah bilang tadi, tuh dua orang lagi sibuk buat konten.”
Sial…Gabril mulai kehabisan ide, dia kembali memutar otaknya, ngomongin apa lagi nih, masa iya cuman diem dieman sih.
Semua pikiran itu terhenti sesaat ketika Fahri berdiri tepat didepan nya, pria itu menyilangkan kedua tangan nya didepan dadanya kokoh, “Kamu….ah enggak papa.”Fahri kembali duduk dan menaruh segelas the hangat dihadan Gabril.
“Dia mau ngomong apa tadi, aduh..penampilan aku ada yang salah? Apa gimana?” Gabril panik dibalik senyum yang terpapar di depan wajahnya.
“Gabril, mau tanya sesuatu boleh?” Fahri menegakan badannya sigap, kedua bola matanya mulai menatap Gabril dengan serius, senyuman samar yang tadi terlihat kini hilang entah kemana.
Gabril menganguk pelan, bersiap dengan kata – kata yang akan keluar dari mulut Fahri yang kini menatapnya tajam.
__ADS_1
“Kamu dulu pernah berurusan sama…..Para berandalan - berandalan itu di ring tinju?”