
Semburan AC yang mengeluarkan kumpulan udara dingin sudah memenuhi ruangan. Gadis itu tengah memakai pakaian putih dengan ujung lobang tangan dan kaki yang terbuka lebar.
Dengan tangan mungil nya perlahan dia mengikat sabuk hitam pekat panjang yang mulai dililitnya di bagian pinggang. Gabril menguncir rambut pirang panjang nya kebelakang.
“Udah siap belum?” suara lembut Sassi berjalan manis memasuki telinga ketika langkah kakinya perlahan menuruni sekumpulan anak tangga.
Gabril mengangguk pelan sembari membalut kedua lengan nya dengan kain putih tipis yang sudah terlihat kusam dan kotor oleh debu.
“Kakak begitu aja?” Gabril menatap pakaian Sassi yang menggunakan rok hitam dan panel kotak – kotak berwarna hijau.
“Emang nya kenapa? Toh yang mau latihan kan kamu.”
Sassi mengeluarkan motor matic yang terparkir di lantai satu tempat GYM. Jam baru menunjukan pukul 5:20, langit – langit masih ditutupi awan tebal dan kabut bertebaran di seluruh kota. Hawa dingin di luar ruangan jauh lebih menusuk dibanding AC yang menyala didalam.
Kedua gadis itu menyusuri jalanan kota yang masih sepi pengunjung, lampu jalan berbaris di samping kanan dan kiri, cahaya redup dan berkelip.
Beberapa orang terlihat tengah berlari dengan baju olahraga mereka, beberapa lagi sedang bersantai duduk di warung makan sambil menyeruput teh hangat.
“Nanti kamu pulang jam berapa, biar kakak jemput entar.” Sassi menatap spion motor nya. “Enggak enggak, nanti aku pulang sendiri aja.” Cetus Gabril cepat.
Gadis itu memang terkadang kesal dengan sikap Sassi yang masih saja memperlakukan dirinya selayaknya anak kecil yang butuh perhatian banyak.
“Yaudah, tapi kamu jangan mampir kemana – mana, pulang nya jangan malem malem ngerti?”
“Kenapa sih kak, kayaknya takut banget deh, aku udah gede bukan lagi anak baru lulus sd kak, apa yang mau ditakutin.?”
“Nanti kamu digondol orang.” Jawab Sassi dengan wajah datar. Gabril tertawa kecil melihat kekhawatiran Sassi. Lagian orang mana yang mau ngegondol gadis satu ini.
***
Putaran roda ban terhenti didepan sebuah bangunan besar mirip hangar pesawat. Setelah cukup lama menempuh perjalanan kedua gadis itu sampai di tujuan nya.
__ADS_1
Klub bela diri taekwondo setempat, beberapa orang dengan penampilan mirip seperti Gabril sudah berdatanga, duduk di tangga pintu depan dan sudah ada yang mulai latihan dengan teman – teman nya sendiri.
“Kakak tinggal dulu ya, inget lho Gabril, jangan kemana – mana kalau udah pulang, langsung balik kerumah!” Sassi memberikan pelindung kepala berwarna biru kepada Gabril yang terlihat tidak menghiraukan perkataan Sassi.
Gabril berjalan menyusuri halaman depan yang luas ketika Sassi sudah menjauh dengan motor nya. Beberapa anak tangga dan halaman luas yang polos tanpa hiasan memang sengaja dibuat agar orang – orang bisa berlatih diluar.
Lambaian tangan terlihat dilempar untuk Gabril di sepanjang jalan, gadis itu mempunyai banyak teman.
“Waw… cinderella udah dateng aja nih, tumben banget dateng pagi.” Seru Gabril kepada seorang wanita yang sedang sibuk mengambil peralatan latihan, Isabel.
“Mending bantuin deh, dateng – dateng udah cari masalah aja.” Cetus Isabel tanpa memalingkan wajah.
Isabel menjabat sebagai sahabat dekat Gabril dari pertama mereka berdua masuk kedalam klub taekwondo. Kulit sawo matang lengkap dengan rambut berwarna kuning agak putih membuatnya dikagumi dan selalu didekati oleh kumpulan pria.
Berbeda dengan Gabril yang selalu ditakuti bahkan dijauhi karena sifat kasar nya yang cukup ekstrem untuk ukuran wanita oleh semua anak laki di klub taekwondo.
“Bel, kesini sebentar deh.”
“Ngapain, aku lagi sibuk ah, kalau pelatih nya dateng alatnya belum siap nanti aku kena sembur lagi.”
“HAHH???...kamu mau kabur lagi?” seru Isabel lantang.
“Suttt..jangan kenceng – kenceng teriaknya nanti ada yang denger.”
Isabel mengusap kepalanya hingga rambut kuning nya sedikit berantakan. “Minggu ini aja kamu udah dua kali absen lho Gabril, masa kamu mau absen lagi hari ini, yang ada pelatih nya bisa ngehubungin kakak kamu nanti.”
“Duhh pliss ya Bel, kamu kasih alesan apa gitu, bener deh, minggu depan aku full hadir.”
“Enggak kamu harus masuk.”
Gabril mencoba membujuk sahabatnya, rayuan manis ala buaya lokal, mengiming imingi hadiah, sampai ajak traktir. Namun semuanya gagal, Isabel memang bukan tipe orang yang mudah termakan rayuan.
__ADS_1
“Pokoknya harus masuk, enggak mau tahu.” Isabel berjalan meninggalkan Gabril yang masih mencoba membujuk dirinya agar diperbolehkan tidak ikut latihan.
Isabel adalah salah satu dari pemimpin klub yang bertugas mendata murid yang mengikuti latihan, dengan Isabel yang sudah bersahabat dengan Gabril cukup lama terkadang membuat Gabri bertindak seenaknya.
“Boleh ya, kali ini aja Bel penting banget, minggu depan aku full hadir deh.” Namun kata – kata manis Gabril terhenti ketika Isabel kokoh dengan pilihan nya.
***
Jam menunjukan pukul sembilan, murid – murid yang tadinya berkumpul di halaman depan kini berkerumun memasuki gedung, mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa.
Isabel masih sibuk dengan lembaran kertas di hadapan nya, lengan nya mencoret kertas putih dengan berbagai daftar nama dan tanggal.
Dirinya hendak berdiri ketika sesuatu menganjal pikiran nya. Gabril tidak ada di dalam ruangan.
Dirinya sontak langsung berdiri mencari sahabatnya baiknya keseluruh penjuru tempat. Kamar mandi, lapangan, aula, sampai, ruangan ganti.
Dirinya terhenti ketika melihat loker Gabril, secarik kertas ditempel menggunakan lakban cokelat di beberapa bagian. Tulisan kecil yang sedikit berantakan namun masih bisa terbaca.
Kamu orang paling baik deh, aku pergi sebentar aja kok Bel, nanti aku tepatin janji aku minggu depan yah, salam sahabat terbaikmu gabril.
Isabel menghela nafas panjang setelah membaca lembar kertas itu, Gabril benar-benar nekat lari dan tidak ikut latihan hari ini. Dirinya hanya bisa pasrah melihat tingkah Gabril.
Tanpa lama Isabel kembali dan menulis ulang daftar kehadiran dan memasukan Gabril didalam nya. Meskipun gadis itu sudah mencoba tegas, namun idealisme nya selalu saja dirobohkan oleh senyuman dan janji manis dari Gabril.
“Kenapa aku harus mengenal gadis itu, kadang baik banget kadang juga nyebelin minta ampun.”
Diluar gedung Gabril berlari kencang melewati lorong-lorong sempit penuh sampah. Melewati kumpulan orang yang sedang berdesakan.
“Enggak boleh telat, enggak boleh telat.”
Pintu kecil yang diapit dua bangunan besar dibukanya kasar, berlari sekuat tenaga mengikuti alur jalan yang berkelok cepat.
__ADS_1
Ujung ruangan, puluhan orang langsung memandangi Gabril ketika dia keluar dari sudut jalan kecil didalam bangunan yang terlihat tua itu.
Orang orang dengan cepat bergerak melebar memberikan jalan untuk Gabril. Ring tinggi berbentuk kotak, tali tali tebal sebagai penyangga dengan seorang wanita yang sudah berdiri didalam nya.