Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
You know about love, Viona?


__ADS_3

Suasana tentram memenuhi bagian ruangan, angin yang menerpa badan gadis itu membuatnya semakin nyaman berada di perpustakaan kota, jejeran buku yang berwarna warni dengan aneka judul membuat setiap rak buku menjadi sangat menggoda.


Ingin sekali rasanya membaca semua buku – buku itu, Viona tidak bisa berhenti menggerakan mata cantik nya, dia melihat ke segala arah dan mengambil beberapa buku kemudian ditaruh di tas belanja nya.


“Itu enggak kebanyakan, kamu yakin bisa baca itu semua Viona.” Gabril kebingungan, bagaimana tidak, Viona sudah memasukan 12 buku novel yang tebal.


Membayangkan dirinya akan menghabiskan sebagian dari hidupnya hanya untuk membaca semua buku itu.


“Aku bisa nyelesain satu buku dalam dua hari lho, kalau segini mah masih kurang sebenernya, lihat tuh aku aja belum mampir ke gendre fantasi, ayo Gabril.”


Viona menarik lengan Gabril dan berlari kecil di lorong perpustakaan yang diapit oleh dua rak buku besar.


Niat mereka berdua yang ingin membeli buku sejarah berubah dan menjadi pemburuan novel.


Gabril dan Viona menjelahi seluruh ruangan perpustakaan kota, perpus ini lebih besar dari penampakan gedung nya yang berada di pinggir jalan.


Viona dengan rasa senang nya mengambil 3 buku lagi, tanpa melihat judul dan membaca blurb, gadis itu langsung memasukan nya kedalam tas, gadis ini benar benar maniak buku.


*******


Pukul enam sore, suara debas kendaraan yang cukup keras dijalanan besar itu, “Maaf ya Gabril, aku kelewat senang, jadinya kita cuman dapet 1 buku sejarah, aku malah belanja novel disana.” Viona mengangkat tas belanja nya dengan senyum.


“Santai aja, jadi…kita udah dapet bukunya, kapan nih kita bikin tugasnya, guru sejarah itu ngerepotin banget soalnya.”


“Kalau aku kapan aja bisa.” Viona membanggakan betapa banyak waktu luang yang dia miliki.


Lampu lampu jalan mulai menyala disaat langit yang tadinya orange itu sudah semakin gelap, lampu lampu kendaraan dan orang orang yang berkerumun di pinggir jalan.


Mereka berdua bergabung dengan lautan manusia di jalanan pusat kota, angin malam mulai tiba membasuh kerumunan orang orang yang baru selesai bekerja.


“Kita lewat jalan kecil aja ya Gabril, ramai banget.”


Gabril mengangguk beberapa kali, mereka berdua perlahan keluar dari kerumunan orang orang dan berjalan menuju jalan yang lebih kecil di samping mall besar.


Hanya ada lalu lalang beberapa kendaraan dan tukang makanan disana, jelas suasana yang lebih tentram membuat keduanya merasa sedikit nyaman.


“Viona, mau tanya boleh?”


“Tanya apa, boleh boleh aja.” Viona mengeluarkan beberapa novel nya dan melihat beberapa lembar halaman.

__ADS_1


“Menurut kamu kalau aku cinta sama orang yang baru ketemu wajar gk sih?”


Viona menaikan kedua alisnya, mengunci tatapan nya kepada Gabril, “Hihihi…” Viona tertawa kecil saat mendengar perkataan sahabatnya itu.


“Kok kamu ketawa sih, aku nanya serius lho.” Gabril mencoba mempertegas pertanyaan nya. “Engg-enggak maaf, lucu aja, Gabril yang biasanya cuek tau tau nanya tentang cinta.”


Viona kembali tertawa, dan merangkul Garbril dengan erat. “Yaaaa….wajar aja sih, kalau yang aku pernah baca di instagram, manusia bisa jatuh cinta kalau mereka kontak mata selama 5 detik. Coba bayangin deh kalau aku bisa tatap tatapan sama Tom Cruise, bisa aja kita pacaran.”


Ujar Viona yang kemudian tertawa terbahak bahak.


“Ak-aku punya perasaan sama Fahri, me-menurut kamu gimana Viona.”


BRUKKK!!!


Tas belanja Viona terplantin jatuh ketanah, tawa Viona yang sedari tadi dia tunjukan mendadak hening, wajah kaget Viona jelas tampak.


Viona memegangi kedua pipi lembut Gabril dengan tangan nya. “Ka-kamu serius Gabril? Kamu enggak becanda kan.”


“Ya enggak lah Vi, makanya aku tanya kamu, aku minta saran.” Gabril melepas perlahan tangan Viona yang memegangi wajahnya.


“Tunggu sebentar, aku beneran kaget lho, Fahri?”


“Aku tau sih, emang agak gimana gitu rasanya, tapi bener deh, pas aku boncengan sama dia habis ngerjain soal mtk itu, Fahri itu keliatan beda banget.”


“HAHH!!..KAMU UDAH NAIK MOTOR BERDUAAN SAMA DIA??” teriak Viona kencang hingga membuat beberapa orang menoleh kearah mereka berdua.


“Sory sory, aku-aku kelewat kaget tadi.” Viona merapikar rambut dan menata kembali kacamata silver miliknya.


“Makanya itu, aku bingung harus gimana, cara jalanin ny, wong aku enggak pernah punya perasaan cinta sama cowok sebelum ini.”


Viona memejamkan matanya, dia menahan langkah kakinya agar berhenti, “Gimana kalau kamu kerumah aku sekarang.” Ujar Viona sambil mengangkat kedua tangan nya tinggi.


“Mau ngapain kerumah kamu?” tanya Gabril.


“Kita pikirin disana, di rumah kebetulan cuman ada abang aku, lagi pula besok libur toh.”


Gabril kembali menganguk ketika dia melihat Viona yang sangat bersemangat setelah mendengar ceritanya.


“Okedeh, tapi aku izin dulu sama kak Sassi, nanti tuh orang bisa nelponin melulu kalau enggak aku kabarin.”

__ADS_1


*****


Perjalan panjang mereka berdua arungi layaknya duo pahlawan super, mereka berdua berhenti di sebuah toko roti kecil yang tampak familiar.


“Ini dia, meskipun keliatan kayak toko roti, tapi ini rumah lho, kamar sama ruang tamunya ada di lantai dua, ayo masuk.”


Viona berjalan memasuki toko roti dengan ceria, Gabril mengekor dibelakang Viona, aroma harum dari roti – roti yang baru diangkat dari sebuah oven.


Seorang pria tengah mengeluarkan talenan talenan penuh roti keluar dari oven di dalam toko, “Hay toko yang harum aku pulang."


“Kamu pulang nya kok agak telat Vi, macet ya?” tanya pria dengan pakaian berwarna kuning coklat lengkap dengan topi besar dan tinggi seperti koki di film film ratatouille, film tentang tikus yang jago masak itu.


“Oh iya, ini ada temen aku kak, dia mau nginep disini malem ini, boleh kan.”


“Ya boleh dong, emngnya temen kamu yang man,-” ucapan pria itu terhenti ketika dia melihat Gabril yang berdiri dibelakang Viona.


“Lho Gabril, kamu kok kesini?” sosok pria yang tengah membuat roti itu ternyata Rio, pemilik toko roti disebelah rumah Gabril.


“Hah? Harusnya gue kali yang nanya, elo kok disini, buntutin gue?” Viona melihat kakak lelaki nya dan sahabat perempuan tampaknya sudah kenal satu sama lain.


“Ini rumah saya Gabril, teman yang dimaksud Viona itu kamu rupanya.” Rio tertawa sembari melepas sarung tangan dan topi besar nya.


“Kakak kenal sama Gabril?” tanya Viona.


“Kakak? Jadi orang itu kakak kamu Viona?” Gabril menaruh tangan nya di samping pinggang nya lengkap dengan wajah kesal bercampur bingung.


“Ini yang kakak pernah cerita ke kamu lho, tetangga yang baru pindah di sebelah toko roti kakak yang di stasiun.” Ujar Rio menjelaskan.


“Ohh yang waktu itu kakak bilang gadis dewasa yang cantik sama adik perempuan nya yang galak itu.” Seru Viona.


“Hah? Gadis dewasa cantik? Maksud lo kakak gue, Sassi? Dan adiknya yang galak? Bener bener nih orang."


Rio hanya tertawa dan kembali menghias roti yang terjejer di atas meja, “Saya hanya bercanda sama Viona waktu itu Gabril hehehe..maaf saya sebut kamu galak.”


“Awas aja lo ya kalau sampe deket deket sama kakak gue.” Ancam Gabril sembari memperlihatkan kepalan tangan nya.


Viona dan Rio tertawa bersamaan, tidak lama Viona menggandeng tangan Gabril dan berlari kecil naik ke sebuah tangga melingkar menuju kamar Viona.


Rio tersenyum lebar melihat adiknya sangat senang dan ceria saat memasuki kamar bersama Gabril.

__ADS_1


“Viona tidak salah memilh sahabat.” Ucap pria dengan kacamata dan rambut tipis miliknya.


__ADS_2