
“GILAA!!...ENAK BANGET!” Ara mengjingklak kegirangan setelah mengunyah beberapa potong roti. “Ini seriusan kamu yang buat Viona?”
“Yaa enggak sepenuhnya sih, buatnya bareng sama abang.” Viona tidak mengira kalau Rio akan membawa puluhan bungkus roti untuk dibagikan kepada teman temannya.
Tahun lalu Rio terlihat bermalas malasan mengikuti kemah sebagai pendamping Viona, namun sekarang dia sangat senang, berdua dengan Sassi tangan nya memberikan roti – roti yang lembut dan manis kepada semua orang yang keluar dari bus.
Viona berjalan perlahan meninggalkan area parkir, mereka sudah sampai di tempat kemah. Himpunan pohon menjulang tinggi hingga menyentuh langit, rerumputan dan bunga yang tumbuh liar.
Kicauan burung nan asri diikuti tupai yang melompat kesana kesini, Viona benar benar menikmati view alam disekeliling nya sampai Gabril menepuk pundaknya dengan kencang.
“Ka-kamu seriusan enggak muntah….Viona?” wajah Gabril sedikit pucat, lengan nya menahan mulut nya tampaknya akan mengeluarkan kembali isi lambung nya.
“Aku kira kamu enggak mabuk kendaraan lho Gabril.”
“Awalnya sih eng-enggak, di pintu jalan tol tadi baru tuh kerasa, pengharum sialan.”
“Mau aku bilang ke kakak kamu apa gimana?”
“Enggak usah, nanti yang ada Sassi malah borehin minyak kayu putih di badan aku, udah kelas 3 SMK, malu.”
Gabril meneruskan langkah kakinya disaat kedua tangannya bergantian memegangi kepala, perut, dan mulut nya.
Suasana hutan masih begitu hijau, minim kendaraan, hanya ada beberapa sepeda motor bebek yang lewat, jalanan dengan aspal yang sudah mulaai rusak, terkadang seekor kerbau bahkan sapi berbaris rapi melewati jalan.
***
Mereka sampai di lokasi kemah, lapangan yang cukup luas dibalut hamburan rumput liar tumbuh di tanahnya yang coklat pekat, danau biru yang luas diisi oleh perahu kayu yang nampak kecil jika dipandang dari atas.
Beberapa bangunan kecil bersejejer di bagian kiri, lengkap dengan lampu, bangku serta meja dan beberapa snack digantung di tongkat bambu.
__ADS_1
Kemah ini bukan kemah sungguhan, bayangan Gabril tentang kemah dimana dia akan tinggal di pedalaman hutan tanpa penghuni sirna. Tempat ini lebih mirip seperti caffe bertema alam yang bertebaran di kota.
Gabril duduk di salah satu bangunan yang ada disana, semacam warung kecil. Dia duduk untuk menghilangkan rasa mual yang sedari tadi masih memeluknya erat.
“Sialan, kenapa enggak ilang ilang sih.” Gumamnya kesal.
Kepalanya perlahan tertunduk nyaris menyentuh meja, memejamkan mata, kedua tanganya semakin erat menekan perut.
DRUKK…
Sebuah tangan memukul meja tempat Gabril menaruh kepalanya. Getaran itu sontak membuat dirinya naik pitam, bisa bisanya orang menggebrak meja disaat dirinya tengah berusaha menghilangkan rasa mual.
“APAAN SIH MA,-” bentakan nya terhenti, Gabril menelan kembali kata katanya ketika dia melihat orang yang duduk didepan nya. Pria paling cakep disekolah yang lagi pakai jaket tebal dengan label bertuliskan ARTICOLO PIU COSTOSO, siapa lagi kalau bukan Fahri.
“Kamu kenapa? Dari tadi kayaknya diem aja, kalah sama Viona tuh lagi asik muter muter bareng Ara.”
Gabril memandangi Fahri sekejap, “Sial..kenapa harus ngebentak sih tadi..aduh…” gumam Gabril penuh penyesalan.
“Ahh ini…tadi cuman mual aja, gara – gara pengharum ruangan rasa jeruk itu di bus, plus macet.”
Fahri tertawa kecil mendengarnya, wanita dengan sifat agak sableng ini juga bisa mabuk kendaraan. Fahri merogok isi tas dengan ukuran yang lumayan besar.
Lengan nya sibuk mencari sesuatu dari dalam sana. “Nahh ketemu.” Fahri mengeluarkan sekaleng minuman soda. “Minum, nanti mual nya lama – lama ilang.”
Rasa mual Gabril semakin menggejolak membuatnya tidak tidak banyak bicara. “Makasih.” Fahri perlahan mengangkat kaki – kakinya dari bawah meja.
“Oh iya Gabril, kamu nanti pasang tendanya disamping tendaku aja, disana, lahan paling pojok yang dekat danau.” Fahri merapikan barang bawaan nya dan bergegas pergi sebelum Gabril menahan lengan nya.
“Emangnya kenapa?” tanya Gabril.
__ADS_1
“Biar ada temen ngobrol aja, si Haikal sama Dony lagi sibuk bikin konten di instagram, jadi nanti palingan aku ditinggal sendiri.” Fahri beranjak pergi dengan cepat setelah beberapa kata keluar dari mulut nya.
Perlahan warna hijau yang memenuhi wajah Gabril berganti menjadi warna merah agak kemudaan. Fahri benar – benar mengajak dirinya untuk berkemah bersama.
“Pasang tenda disamping dia, terus nanti ngobrol berduaan gitu?” hayalan mulai memenuhi kepala Gabril, dirinya tiba tiba merasa sangat senang sampi sampai rasa mual yang sedari tadi bersamanya seakan pergi menjauh.
Gabril lantas bangun dari kursinya tanpa rasa mual yang mengandeng perut nya. “Viona, Viona harus tau soal ini!” Gabril memutar cepat kakinya menyusuri jalan terjal dengan hamparan tanah tidak rata.
Disisi lain Fahri sudah ada di lokasi dimana dia akan mendirikan tenda, Haikal dan Dony terlihat sudah menunggu kedatangan pria itu sejak lama.
“Gimana, dia mau gk?” Haikal menaikan kedua pundaknya.
“Mau lah, siapa dulu yang ngajak.” Fahri menurunkan tas berat dan peralatan lainnya. “Ajib bener, jadi nanti kite berdua ngapain nieh pas elu beduaan sama tuh cewek, kite gk mau jadi nyamuk juga yang cuman ngeliatin elu beduaan ama si Gabril.” Saut Dony menaikan alis matanya bingung.
“Kayak yang udah kita rencanain, nanti lo berdua jalan kemana kek, foto atau buat video ya pokoknya cari kesibukan lah pokoknya, pas waktu mau malem baru dah tuh balik lagi.”
“Ebuset jadi kite disuruh kelayapan sampe sore?” Dony membuka jaket nya dan menggantinya dengan sweater tipis. “Ya elah Don, gapapa kali, kan kita juga sekalian bantuin si Fahri, kapan lagi liat Fahri beduaan ama cewek, wong biasa juga kan Fahri sering bantu kita pas ulangan.”
Dony menganguk kuat sembari melayangkan jari jempol nya. “Okelah kalo begitu, asal kalo udah punya cewek jangan sampe lupa sama kita kita pada ye gk Kal?”
Fahri hanya mengeluarkan wajah datar tipis nya dan melempar rangkaian besi panjang kecil kepada kedua teman nya itu. “Udah, sekarang bantuin gue buat tenda, baru abis itu gue juga bantuin masang tenda elo bedua.”
Haikal dan Dony mengambil rangkaian lain nya dan mulai sibuk dengan tenda nya, lengan Haikal mulai menghubungkan satu besi ke besi lainya hingga membentuk bentuk segita yang cukup luas.
Fahri melebarkan sebuah teral besar dan mengikat nya di setiap ujung besi yang ditancapkan di tanah.
Baik Fahri atau Gabril sama sama memiliki rencana untuk acara kemah ini, Fahri dengan Haikal dan Dony sementara Gabril dengan sahabatnya Viona.
Entah bagaiman rencana mereka berdua akan dilakukan, namun Fahri dan Gabril memiliki momentum yang pas untuk mengutarakan perasaan aneh yang sudah tersimpan didalam diri mereka.
__ADS_1
Meskipun usaha Gabril untuk itu akan sedikit sulit mengingat Fahri mempunyai puluhan penggemar wanita yang masih saling sikut untuk mendapatkan perhatian Gabril.
Meski pada akhirnya perhatian justru mendarat kepada seorang gadis pindahan yang baru saja dia kenal.