
Kelopak mata dibuka pelan seiring terpaan kekosongan masuk kedalam. Dirinya kembali tidak sadarkan diri setelah melalui beberapa jam di bangunan kosong.
Gadis itu menyusuri pelan hamparan dinding disebelah, masih dengan tekstur kasar dan cat yang mulai pudar mengelupas. Gabril tersadar dan melihat sekeliling.
Dirinya masih berada di perpustakaan, entah berapa lama dirinya pingsan. Kepalanya terasa semakin nyeri, beberapa kali Gabril mengusap kening nya diikuti gosokan di bagian matanya.
***
Pukul satu dini hari, Fahri menahan kumpulan teman dibelakang sebelum dirinya membuka pagar besi yang menghalangi jalan. Pria itu memperhatikan sekitar. “Yakin disini?” Akma sayup bertanya.
“Jejak tanah nya hilang disini, lo juga liat itu jejak dua orang. Siapa lagi kalau bukan Gabril sama Akma?” Fahri menegaskan sembari pelan membuka pagar agar tidak menimbulkan suara. Hamparan bangkai mobil menyambut mereka semua penuh kesunyian.
“Gila, ngapain tuh anak malem-malem kesini sama Akma.” Nina menyeringai dibalik Kanti. Semuanya melangkah pelan. Genangan air dan lumpur menempel di alas kaki masing-masing.
Sorotan senter menyinari kumpulan lorong yang dibuat dari tumpukan mobil yang ditumpuk tinggi. Akma dan Doni berulang menatap Viona, Kanti, dan Nina yang berjalan dibelakang.
Tidak seperti Fahri yang yakin dan memasang badan kuat, Akma dan Doni kini bergetar ketakutan sepanjang jalan. “Bisa gk sih engggak usah nempel?” Fahri mendorong Doni yang mengekor di balik punggungnya. “Eh Ri, lo enggak ngeri atau apa gitu? Kita belum pernah jalan sampe sini lho, gimana kalau yang punya tempat ini marah terus ngapa-ngapain kita semua.”
“Lebay, masa kalah sama anak cewek. Liat noh Viona aja anteng dari tadi, jalan di belakang pula.” Ketus Fahri.
“Jangan bikin malu lah Don, ada Kanti sama Nina itu.” Haikal sedikit tertawa melihat Dony yang gemetar ketakutan.
Lorong lorong mobil mereka lewati bersama, mengikuti ikatan pita yang menempel di body mobil bekas. “Pitanya ilang disini, pasti Gabril atau Akma yang ngiket pita tadi biar enggak kesesat.” Fahri mengarahkan senter menerangi dua lorong gelap didepan mereka.
“Berarti Gabril sama si Akma juga enggak tau soal bangunan ini dong? Jadinya mereka nandain jalan pakai pita.” Nina menurunkan alisnya. “Iya, mereka enggak tau.” Kanti pelan membuka pintu masuk besar di depan wajahnya.
Bangunan bertingkat mirip sekolah dengan cat hijau yang sudah pudar dan mengelupas menyisakan titik noda. Fahri mendahului Kanti dan menyorot lorong gelap berantakan dengan bangku dan meja yang menutupi jalan.
“Jangan ada yang manggil nama Gabril sama Akma.” Fahri berdesis dengan raut wajah tegang. “Kita engggak tau ada siapa aja disini, semuanya tetep nempel, jangan ada yang jalan duluan sama ketinggalan.”
“Ka-kamu kenal Akma k..kan Nina?” Viona sedikit terbatah-batah saat menanyakan hal kepada Nina, itu wajar mengingat dirinya selalu menjadi korban kegaduhan Nina. Namun entah kenapa malam ini Nina sama sekali tidak terlihat beringas seperti hari sekolah biasa.
Gadis itu nampak lebih baik dan juga perhatian, bahkan dia sangat antusias ketika mendapat kabar tentang Gabril.
“Kenal, dia primadona sama kayak Fahri, cuman Akma lebih promotis enggak kayak Fahri yang dingin.” Seru Nina sembari tersenyum kecil kepada Viona.
__ADS_1
Nina ternyata sangat manis ketika senyum muncul di depan wajahnya berbanding terbalik raut wajah menakutkan yang biasa dilihat Viona didalam kelas.
***
Fahri dan yang lain berdiri diam menatap ruang kelas didepan mereka, kedipan cahaya hijau terang yang sedikit menerangi ruangan. Hanya ruangan itu yang memiliki lampu terang disaat ruang lain hanya disiisi oleh kegelapan.
“Enggak ada orang, kosong, cuman ada tali panjang didalem.” Haikal menatap Fahri penuh kebingungan, mereka semua sudah mengelilingi bangunan sekolah ini cukup lama, tetapi tidak bisa menemukan satupun tanda kehidupan.
Fahri menghela nafas panjang, urat di badan nya yang sedari tadi keluar hilang seketika, pria itu lemas setelah pencarian malam yang panjang.
“Enggak ada orang didalem sini, Gabril sama Akma juga enggak keliatan. Ini udah jam setengah dua pagi, kita bisa kena masalah kalau keta,-”
“AAARRGGGG!!”
Perkataan Haikal terhenti ketika suara jeritan seorang wanita terdengar cukup kencang di atas mereka. Tatapan mata tajam langsung menatap satu sama lain, Viona langsung memeluk erat Nina dan Fahri mengeluarkan tongkat besi dari balik jaket tebal nya dan menggemgam erat.
Nafas terguncang kuat, suara perempuan tadi sedikit dikenal. “Lantai dua, buruan di lantai dua!” Kanti berlari cepat mencari tangga di antara lorong gelap didalam kelas.”
***
Tetesan air mata keluar deras dari balik wajah, menatap orang yang memegangi tubuhnya agar Gabril tidak bisa lari menjauh, Ara. “Penghianat lo, bisa bisanya lo ngelakuin ini.”
Ara menatap Gabril tanpa ekpresi, hanya hamparan wajah datar yang diperlihatkan. Larisa membuka penjepit dan membiarkan Gabril tersungkur jatuh menghantam lantai dengan keras.
“Ara temen deket gue, dan karena lo kita kepisah.” Larisa berjalan lemas mendekati Gabril yang sedang memegangi lengan kirinya. Merah dan sedikit membiru. Gabril meringkut kesakitan.
BRAKKK!!!
Lontaran papan kayu tebal tepat menghajar kepala, pengelihatan seketika berbayang diikuti aliran darah yang mengalir tipis. Gabril tidak bisa berbuat banyak. Yang dia bisa hanya meringkut serapat mungkin dan menahan rasa sakit yang terus diberikan oleh Larisa.
Ara hanya diam melihat, tatapan matanya terkadang tertutup ketika Larisa menghajar Gabril dengan berbagai alat didalam ruangan, bangku, penggaris, balok kayu.
Ara terlihat tidak tega melihat teman nya merintih kesakitan, tetapi kenapa dirinya masih diam berdiri disana, apa hubungan nya dengan Larisa sudah sedalam itu.
“Kita ketemu pas kamping pertama, gue enggak sengaja ngeliat Ara waktu itu, dia lagi ngumpulin herbal didekat gedung sekolah ini. Waktu itu gue masih belum punya uang buat nyewa rumah, karena apa? Karena lo ngeluarin gue dari klub waktu itu!”
__ADS_1
BRAKKK!!!....Larisa kembali memukuli Gabril dengan balok kayu di lengan nya. “Semenjak itu gue sama Ara bisa balik kontakan pas ada acara kampin. Ara selalu cerita tentang kehidupan nya di sekolah, mulai dari awal sampe akhir, dan disaat dia cerita kalau ada anak baru di kelas yang langsung jadi jagoan sekolah, gue udah kenal itu siapa.”
Gabril menyipitkan matanya hingga nyaris tertutup rapat, gadis itu berfikir keras. Ara dan Larisa sudah merencakan kejadian malam ini dari jauh hari. Gabril sedikit kaget mengetahui hubungan orang yang sudah dia anggap sebagai sahabat sama seperti Viona. Bisa melakukan hal sekejam ini.
“Sekarang lo selesai, perbuatan lo dimasa lalu bener-bener ngebuat hidup gue ancur berantakan. Dan lo harus ngerasain semua kepedihan yang udah gue tanggung, CEWEK BANGSAT!”
Larisa mengayun tinggi balok kayu besar dari atas kepala. Gadis itu mengerahkan semua tenaga yang dia punya. Gabril yang terbaring lemas hanya bisa menunggu balok kayu itu memecahkan kepalanya.
Dirinya sudah tidak bisa bergerak, darah sudah mengalir dimana mana. Kulitnya memerah dan membengkak. Gabril pasrah menunggu balok kayu itu membawa jiwanya.
BRUAKKKK!!!!!.....
Kesunyian segera terasa, bunyi keras balok kayu yang menghantam tengkorak kepala nyaring. Ujung nya patah ketika mendarat. Wajah gadis yang terkapar di lantai itu hilang, matanya setengah terbuka, mulutnya masih memperlihatkan gigi putih yang kini dibalut olesan darah tipis.
“SIALAN!” Kanti mendobrak pintu dan memberikan pukulan kuat di badan Larisa. Larisa terdorong kebelakang cukup jauh dengan air liurnya yang keluar seiring langkahnya mundur.
“CEPETAN BEGO, BAWA GABRIL NYA!” seru Kanti tanpa memalingkan tatapan nya dari Larisa. Viona dan Nina berlari mendekati Gabril yang terkapar lemas tanpa gerak dan detak jantung.
Nina menatap Ara yang kaget dengan kehadiran teman teman nya. Gadis itu hanya membisu melihat tatapan Nina dan Fahri. “Enggak waras lo, gk nyangka gue lo sebusuk ini. Liat nanti abis lo sama gue.” Nina mendesis menatap Ara dan perlahan membawa tubuh Gabril keluar ruangan kelas yang berantakan. Disisi lain Kanti masih memukuli Larisa yang tergeletak tanpa henti.
Kanti menggunakan kedua kepalan tangan bergantian menghajar wajah Larisa yang kini sudah tidak jelas. Pukulan kuat disaat Kanti mendobrak masuk cukup untuk membuat Larisa kembali kehilangan pandangan nya.
“Pegangin Ara cepet!” bentak Fahri kepada Haikal dan Doni. Ara hanya diam dan tidak melawan sama sekali ketika Haikal memegangi tangan nya. Raut wajah gadis itu penuh penyesalan.
“Kanti udah! Urusin Gabril dulu!” Seru Fahri kepada Kanti yang masih menghajar Larisa. “Sebentar, nih cewek enggak bisa dibiarin gitu aja!”
Fahri menarik tubuh Kanti kuat hingga gadis itu sedikit terlempar. “Keluar! Dia biar gue aja yang urus. Bantu Viona sama yang lain. Panggil semua guru sama pengawas!” wajah geram Kanti memudar seiring melihat raut wajah Fahri yang menatapnya tajam.
***
Jam dua pagi yang seharusnya sepi kini menjadi ramai, kilau lampu mobil ambulan dan polisi berbaris disepanjang jalan. Area kemah dipenuh orang orang yang terbangun dari tidurnya. Viona berteriak di sepanjang area kemar membangunkan semua guru serta siswa yang tertidur pulas. Tatapan kengerian mereka terlihat jelas ketika melihat Gabril yang dipenuhi darah di kepala. Matanya masih setengah terbuka, mulutnya sedikit menganga mengeluarkan sisa nafas yang ada didalam tubuh.
Isak tangis Sassi terdengar begitu keras, air matanya membanjiri pipi manis yang sekarang memudar. Penduduk desa memenuhi lapangan kemah. Polisi yang berisik membuat semua penduduk desa terbangung.
Viona memeluk Nina kuat, Kanti tertunduk sembari mengepal lengan nya, Haikal mengusap wajahnya pelan, Dony menghela nafas panjang. Petugas medis menggelengkan kepala, mengangkat kedua lengan nya menjadi simpul silang. Fahri terjatuh lemas, tangisan Sassi semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
“Kita datang terlambat, anak ini mengeluarkan darah terlalu banyak dari dalam kepalanya…. Gadis ini sudah tewas.”