
Kubangan air yang mengisi ruang jalanan desa yang berlubang ada dimana-mana. Jalan menurun yang agak terjal di apit oleh hamparan sungai kecil yang mengalir cukup deras.
Gabril bisa melihat bayangan wajah dan rambut poni yang menutupi kening nya sampai menyentuh sedikit alisnya. Air sungai yang masih jernih bersih, tidak ada satupun sampah yang lewat dan menyapa Gabril.
Gadis itu memalingkan wajahnya kedepan, beberapa baris anak cowok dan seorang guru yang didampingi pak petani berjalan beriringan dengan hati-hati.
Tanah hijau penuh beberapa tumbuhan yang menjalar satu sama lain. Traktor kecil berulang kali mengelilingi hamparan padang hijau itu.
Gabril masih menaruh matanya kedepan, meski terkadang tatapan matanya menyorot wajah pria yang berada di tepi kiri jalan. Fahri.
Berharap Fahri akan membalas tatapan matanya meski hanya sebentar. Gabril masih mencoba mencuri perhatian pria itu untuk mengajaknya berbicara mengenai masalah yang dia bawa.
Namun harapan nya seakan sirna ketika Fahri bahkan tidak melirik kebarisan orang di belakang punggung nya, bahkan ketika Haikal dan Dony menyebut namanya berulang kali.
Viona dan Ara tengah berbicara asyik dibelakang, Gabril kembali memutar kepalanya kedepan ketika dia melihat Kanti yang menatapnya aneh.
***
Mereka sampai diperkebunan kecil yang terletak dibelakang gudang untuk menyimpan bahan pangan yang akan dijual. Pohon kecil yang ditempeli papan kayu bertuliskan nama buah yang menggantung cerah.
Guru yang menemani mereka berjalan pergi perlahan dan meninggalkan secarik kertas berapa halman kepada Fahri. “Kamu bagiin, tugas kalian cuman catet nama-nama buah sama sayuran yang ada disini.” Ucapnya datar.
Fahri membagikan lembaran kertas berisi baris tabel yang menjulur panjang kebawah. “Dia bakal ngomong gk ya?” gumam Gabril melihat Fahri yang berjalan mendekatinya membawa lembar kertas terakhir.
Dengan cepat Gabril merangkai kata-kata, setidaknya dia bisa melakukan percakapan kecil setelah beberapa hari terakhir.
Fahri menjulurkan tangannya dengan ekpresi datar, kedua matanya menatap Gabril biasa. Dengan lengan mungil nya Gabril mengambil lembaran kertas dan mulut nya sudah siap dengan rangkaian kalimat yang dirinya susun
.
“Fahri..soal malam itu, aku enggak ngerti maksud kam,-”
“Bukan sekarang.” Potongnya cepat membuat Gabril menutup kembali mulutnya dan menarik sisa kalimat yang hampir keluar.
Fahri belum ingin bicara dengan gadis itu untuk saat ini. Wajahnya tidak memberi ekpresi apapun. Gabril kembali termenung, lonjakan rasa bersalah kembali mengerumuni.
__ADS_1
Gabril berdiri dan mengambil keseimbangannya, menghirup nafas panjang sebelum berjalan memasuki ladang buah dan sayur didepan matanya.
Beberapa langkah sudah dia ambil sebelum lantunan suara yang tidak asing datang dan masuk telinganya samar. “Ciao bella, wajah kamu makin menawan setiap hari.”
Akma muncul dari balik punggung Gabril dan langsung menepuk-nepuk kepalanya pelan. Semburan malu menyebar masuk kedalam diri Gabril, kedua bagian pipi nya memerah terang dengan cepat.
“Minuscolo, mau nyatet tugas? Gue temenin.” Seru Akma mengandeng lengan Gabril masuk kedalam kebun.
Disisi lain Fahri melihat Akma dan Gabril yang terlihat sangat akrab. Pria itu membeku ditempatnya berdiri melihat Akma menarik Gabril masuk kedalam kebun.
*
“Bisa gk ngomong nya gk usah pake bahasa alien itu?” bentak Gabril menyilang kedua lengan nya.
“Attesa, bahasa aneh? Ini bahasa italia, lo harus belajar banyak buat ngerti bahasa ini.” Akma menyisir rambut tebalnya dengan jari-jari tangan nya.
Gabril memajukan bibir bawahnya dan menghela nafas panjang pasrah, dirinya kembali bertemu dengan pria aneh dengan nama yang panjang, Akma Albyandra Ararya.
Akma melangkahkan kakinya bak seorang pangeran kerajaan, lengan kirinya dilipat ke belakang punggung dan satunya lagi memutar-mutar buah yang menggantung.
“Ya tuhan, lo ngapain sih ngikutin gue terus, enggak ada kerjaan lain apa?”
Akma meletakan kedua lengan nya di pinggang dan tertawa kencang.
BRAKK..
Buku tebal menghantam wajah penuh pesona Akma dengan kuat hingga membuat pria narsis itu terjungkang ke tanah.
“Hehe..buku dari Viona akhirnya berguna.” Gumam Gabril sembari menaruh evil smile nya menatap Akma yang masih duduk di tanah.
“Udah sana pergi, gue mau nyelesain tugas dulu, kalau tugasnya udah selesai, baru deh lo gangguin gue kayak apaan juga terserah!”
Akma langsung berdiri antusias. “SERIUS? HAHAHA..Gue bisa ngabisin senja indah gue bareng gadis imut nan cantik ini disamping gue, molto bello.”
Akma menghampiri Gabril yang masih menatapnya heran, pria itu menggapai lengan imut Gabril dan menaruh buku tebal yang barusan dia lempar sambil berbungkuk seperti seorang raja yang memberikan mahkota emas kepada putri.
__ADS_1
“Kita ketemu lagi nanti, Gabril.” Akma berjalan menjauh perlahan dengan senyum lebar di wajahnya. Pria itu secara blak-blakan menunjukan kalau dia menyukai Gabril, kata-kata indahnya membuat jantung Gabril berdetak kencang walaupun gadis itu menyembunyikan nya.
***
Jari besar dengan tumpukan gelang aneka warna tengah mencorat-coret lembaran tabel panjang dengan sangat teliti. Bola matanya bergerak kekanan dan kekiri cepat.
Berbanding terbalik dengan dua orang temannya yang sedang asik merebakan badan di kursi bale yang terbuat dari bambu.
“Enggak usah buru-buru banget lah, mending kita nikmatin suasana kebon buah yang adem ye gk Don?”
“Yoii.. Kemon lah Fahri, kerjain tugasnya nanti aje dulu, kita rebah dulu sebentar, enggak ada pengawas ini.” Tambah Dony.
Fahri menatap kedua temannya yang sedang menggeliat di kursi bambu yang cukup lebar. “Terserah, kalian berdua juga nanti palingan nyontek punya gue.”
Dony dan Haikal melempar senyum lebar mereka satu sama lain, mereka bedua memang selalu mencontek tulisan Fahri di akhir waktu pelajaran, dimanapun itu. Bahkan saat ulangan, mereka bertiga selalu sibuk melempar kertas kecil yang dilipat sedemikian rupa ke meja Fahri.
“Eh Fahri, sory kalo gue kepo, elo sama Gabril lagi berantem?” Haikal menghampiri Fahri perlahan.
“Biasa aja, kenapa nanya gitu?” Fahri menghentikan jari nya yang sibuk mencoret lembaran kertas. “Akhir-akhir ini lo keliatan jarang ngobrol sama tuh cewek, biasakan kalian berdua suka ngobrol.”
Fahri diam sesaat, pria itu memalingkan pandangan nya kembali ke secarik kertas dan papan jalar yang dia senderkan di paha milik nya. “Masalah sedikit, bukan apa-apa.”
“Cerita ke kita, kan kita udah soib iya gk?” seru Dony melempar langkah kakinya bergerak.
“Dari pada lo berdua kepoin urusan gue sama Gabril, mending lo bantu gue. Lo tau gk siapa cowok kelas sebelah yang gabung ke kelompok kerja kita tadi, kulit pucat sama rambut ny hitam arsir putih?”
Haikal dan Dony memandang satu sama lain sebelum kedua orang itu menaruh lengan mereka di dagu masing-masing. “Lo tau Kal?” Haikal hanya terdiam.
RAMBUT ARSIR PUTIH, KULIT PUCAT. Kalimat itu berputar putar di dalam kepalanya untuk beberapa lama, Fahri dan Dony menatap Haikal tanpa berkedip, pria itu sedang serius mengingat.
30 detik berlalu, Haikal mendongakan kepalanya keatas menatap rimbun batang dan daun pohon yang menghalangi sinar matahari siang masuk.
“Akma.. Akma Albyan..enggak tau, pokoknya si Akma, anak kelas sebelah, cowok narsis, pengikut ceweknya ada dimana-mana, kayak Fahri cuman lebih blak-blakan."
“Narsis, seleb sekolah?” tanya Dony penasaran.
__ADS_1
Fahri diam menatap kedua temannya, orang yang bersama Gabril tadi, entah kenapa Fahri memikirkan orang itu, Akma.
Akankah Fahri bersimpati kepada Gabril. Atau dirinya diam diam masih menempatkan Gabril di hatinya?