Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
New look, new way


__ADS_3

“Jadi Rio itu kakak kamu, kok enggak pernah bilang sih Viona.” Gabril duduk di sofa kecil yang lembut sembari membuka jaket varsity miliknya. Gadis itu tidak pernah mengira kalau pria menyebalkan di samping rumahnya adalah kakak laki-laki dari sahabat baik nya.


“Aku aja baru tau kalau tetangga baru yang dimaksud itu kamu Gabril.”


Viona menumpuk buku novel yang baru dia beli di sebuah meja kayu kecil, kamar yang kecil namun cukup rapi, dengan warna cat kuning terang benar benar membuat kamar ini tidak terasa kecil sama sekali.


Dari jendela kamar, Gabril bisa menyaksikan lalu lalang orang orang dan pedagang asongan yang lewat. Suara kendaraan yang melintas entah kenapa tidak mengganggu gadis itu.


“Nah ini dia.” Viona mengambil satu buku dari balik laci mejanya, buku yang dia taruh di atas meja saja sudah menumpuk banyak, dan Viona masih mempunyai buku yang memenuhi laci nya.


Gadis ini benar benar kutu buku. “Kita bisa cari caranya disini, pasti ketemu deh.” Ujar Viona sembari menunjuk bagian bab dari buku berwarna pink dengan judul Debt Collect.


“Kamu serius, kita bukan mau belajar lho.” Gabril terlihat meragukan cara Viona untuk menjawab pertanyaan nya, membaca memang kunci untuk semua jawaban, tetapi bagaimana caranya untuk memulai cinta? Apakah gadis itu harus membaca untuk itu?


“Fine, ini keliatan jadul, tapi percaya deh, buku ini punya semua yang kamu perlu, serius.” Viona penuh semangat, dengan cepat dia membolak balik halaman buku tebal itu, Gabril hanya memandangi nya tak kalah serius.


Mata Viona terhenti di satu halaman, mata gadis itu menyipitkan kedua matanya, mulut nya mengucapkan sesuatu dengan samar.


“NAH KAN KETEMU!!” teriak Viona keras sampai membuat Gabril melompat dari kasur.


“Maaf maaf, aku semangat banget soalnya.” Ujar Viona lagi lagi merapikan kacamata nya.Viona menunjuk ke sebuah bab berjudul memulai segalanya.


“Okeyy..kalau buku ini bilang, kamu harus tampil feminim atau sifat selayaknya wanita.” Viona menunjuk kepada sebaris kalimat di buku. “Aku kan emng wanita, kenapa harus punya kayak wanita lagi?”


Viona berdiri dari kasur nya, memasang badan nya tepat didepan Gabril yang tengah terduduk, menatap Gabril dari atas rambutnya hingga kakinya.


“Kamu kayaknya agak mmm…gimana ya, mungkin sedikit jantan.” Viona menaruh rangan mungil nya di bawah dagu nya bak seseorang yang sedang berfikir keras.

__ADS_1


“Kamu mukul Nina di hari pertama, kamu juga jadi satu satunya cewek yang bisa jatuhin tiang besar itu pas pelajaran voli, kamu bisa ngelwaan Nina and friends pas acara malam itu, dan kamu jadi bisa jatuhin Fahri pas pelajaran bela diri, kamu agak terlalu…you know, laki?”


“Itu biasa aja Vi, bahkan lebih baik, dulu aku bisa sampai mukulin anak laki di kelas.” Ujar Gabril dengan santai nya, gadis itu benar benar tidak sadar dengan sifatnya selama ini.


“Ok-oke ini gk bisa jalan, kamu…aduh gimana ya caranya.” Viona tampak bingung dengan sahabat nya sendiri, bagaimana caranya untuk mengubah sifat Gabril untuk sedikit lebih anggun, bahkan cewek yang disebut tomboy disekolah mereka tidak brutal seperti Gabril.


Gabril hanya terdiam duduk manis, dia ternyesum melihat sahabat nya sedang berputar putar, memikirkan cara tentang perasaan nya.


“Viona, kamu kok semangat banget sih, padahal ini perasaan cinta aku, kamu keliatan nya senang banget bantu aku.” Gabril melihat sahabatnya itu dengan kagum, dirinya belum pernah melihat orang seperti Viona.


“Emm..aku seneng aja bisa bantu sahabat aku, lagian kan, ini pertama kalinya ada orang selain kak Rio yang masuk nemenin aku ngobrol di kamar. Kamu sahabat aku yang pertama lho, sebelum kamu aku belum pernah tuh yang namanya keluar bareng, sendirian terus.”


Viona mengatakan kalimat nya dengan sedikit terisak tangis, dirinya selalu sendirian selama ini, tidak ada teman, hanya kakaknya Rio yang terkadang mendengar ceritanya.


“Makasih banyak ya, udah mau bantuin aku, kita bakal sama sama kok, kamu enggak usah takut, lagian kalau ada yang berani apa apain kamu, biar aku hajar dia.” Seru Gabril sampai melompat lompat mencoba menghibur sahabatnya itu.


*******


Mentari bersinar memasuki ruangan, sinar hangat membasuh badan dengan derai nya menjadi teman untuk melakukan berbagai aktifitas.


Suara riuh pejalan kak dan orang orang yang menjajakan dagangan, suasana sekitar rumah sangat sempurna! Namun tidak dengan kamar Viona.


Kamarnya dipenuhi baju baju yang berserakan, Viona hanya berdiri membelakangi jendela nya yang menghadap keluar, gadis itu berpose bak juri fashion yang siap memberika penilaian pedas nya.


“Kalau ini gimana, aku nyaman pakai ini.” Gabril memutar badan nya, memperlihatkan bagian baju dan jaket yang dia pakai.


“Masih kurang deh, coba jangan pakai jaket, pake kemeja itu deh.”

__ADS_1


“Huftt..ini udah ganti baju yang ke 39 lho.” Gabril memajukan bibir nya sembari pergi ke ruang ganti di kamar Viona.


Tidak lama, Gabril keluar dari ruang ganti, celana bahan yang sedikit lebar dengan kemeja berwarna hijau dibalut garis-garis hitam.


“Enggak-enggak, aku gk mau pakai ini, aku jadi keliatan…sedikit nerdy?”


“Coba kemeja nya enggak usah dikancing.”


Gabril membuka kancing kemeja hijau nya, perlahan penampilan nerdy Gabril hilang seakan dimakan udara, walaupun dengan pakaian yang sama.


Gabril terlihat sangat berbeda, tanpa jaket tebalnya, hanya kemeja tipis. “Bingo!!..ini keren banget deh, Fahri pasti bakal notice kamu. Di acara kamping sekolah nanti.”


Gabril tersenyum lebar ketika dia melihat pantulan dirinya di cermin, membayangkan acara kamping sekolah yang diadakan beberapa hari kedepan.


“Oh iya Viona, kamping sekolah itu kayak gimana?” tanya Gabril penasaran diikuti mata nya dan melebar dan kedua tangan nya yang menopang kepalanya di meja.


“Kita kamping kayak biasa, lokasi nya di pinggir kota, desa Murahmangun. Tidur pakai tenda, nyanyi, jalan jalan di gunung.” Viona menjelaskan sembari melipat baju baju yang berserakan di lantai.


Viona tahu banyak tentang berbagai kegiatan sekolah, dia sudah dua tahun disana, pengetahuan nya tentang lingkup itu jelas sangat membantu Gabril beradaptasi.


“Kamu tahu gk, di acara kamping itu, kita juga bisa ajak orang luar lho, kayak kakak, orang tua atau kerabat.”


“Berarti aku harus ajak Sassi? Arghh wajib ajak ya, aku gk mau dibawelis disana, kalau Sassi ikut pasti aku gk dibolehin ini itu, huftt.” Gabril mengusap wajahnya pasrah.


Setelah memikirkan caranya semalaman penuh, mereka berdua Viona dan Gabril akan memanfaatkan kegiatan kamping itu untuk mengungkapkan perasaan nya.


Tidak ada yang tau bagaimana rencana mereka berdua tapi yang pasti, Gabril dan Viona yakin apa yang mereka rencanakan akan berhasil.

__ADS_1


__ADS_2