Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Gabril kecil


__ADS_3

“Heehh???....Ada anak kecil nyariin aku?” Sassi menaruh setengah tangan nya di balik kepala, hari ke 7 nya bekerja di tempat GYM benar benar membuat hidup nya berubah.


Dia bisa bebas dari kekangan kedua orang tuanya, melakukan hobi nya, benar benar membuat gadis itu kegirangan saat bekerja disana.


“Mana saya tau, dia pakai seragam putih biru, perempuan, anak SMP kayaknya.” Bull mengarahkan ibu jarinya menunjuk pintu GYM yang besar, bayang bayang seorang perempuan kecil bisa terlihat samar.


Sassi berjalan meninggalkan kasir nya, sembari menguncir rambut panjang hitam dengan balutan warna orange miliknya hingga membentuk semacam ekor.


Tangan nya yang tidak terlalu besar perlahan menggeser pintu, bayangan samar itu terlihat semakin jelas, nampak seorang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas yang menempel di pundaknya.


“GABRIL!!!” Teriak Sassi dengan kencang, tatapan matanya dengan mulut merah manis nya terbuka lebar, Sassi membungkuk dan memandangi Gabril.


“Kok kamu bisa kesini, mama sama papa udah tau, kamu kok tau kakak tinggal disini?”


“Aku tanya sama orang orang kak.”


“Kamu mau ngapain kesini Gabril, nanti kalau mama sama papa tau kamu bisa diomelin lho.” Gabril tidak mengubris perkataan Sassi, dengan polos nya gadis kecil yang baru saja masuk kelas 7 itu masuk kedalam GYM.


“Waaww, kak Sassi keren yah, tinggal di tempat ini, lihat deh itu.” Gabril berlarian menelusuri bagian bagian GYM, dia tak bisa menyembunyikan rasa takjub nya dengan tempat yang baru saja dia kenali.


Sifat kekanak kanakan nya masih bisa terasa, Gabril menyapa semua orang yang tengah berolahraga, lambaian tangan mungil nya dan senyuman manis nya benar benar tidak bisa ditolak.


Para pengunjung GYM memberikan respon baik kepada Gabril, beberapa dari mereka membalas sapaan nya, bahkan pengunjung perempuan terkadang menggandeng tangan Gabril.


Meskipun begitu Sassi tetap merasa tidak nyaman, melihat adik nya berkeliaran seperti itu.


“Gabril, kamu jangan ganggu kakak yah, serius, kamu ngapain kesini.” Sassi bertanya dengan penuh harapan.

__ADS_1


“Aku cuman mau lihat kak Sassi ajah, rumah jadi semakin sepi pas kakak lari waktu itu, mama sama papa kerja dari pagi sampai malem, bibi pembantu dirumah juga enggak asik.”


“Tapi kakak enggak bisa pulang Gab, kakak tinggal disini sekarang.”


“Kalau gitu aku aja yang pindah kesini.” Ujar Gabril dengan wajah lugunya, Sassi jelas tidak akan memperbolehkan adiknya itu untuk tinggal bersama disini, dirinya tidak akan bisa mengurus adiknya disaat gadis itu mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan.


“Gabril, kamu enggak bisa pindah kesini, kamu masih kecil, mendingan kamu pulang ajah yah, kakak anter.”


Niat Sassi untuk membawa adiknya itu pulang kerumah sirna dengan cepat, Gabril mengeluarkan ekpresi sedih nya, mata anak itu mulai berair, bibir nya yang cantik itu ditarik masuk kedalam mulut, kedua tangan nya bersender didepan dadanya, itu pose memohon.


Meskipun Gabril tidak melontarkan permohonan nya agar diperbolehkan tinggal, dia bisa membuat kakak perempuan nya itu berpikir dua kali untuk menyuruh nya pulang.


“Kamu bisa rawat dia disini enggak?” suara serak terdengar dari balik punggung Sassi, sosok pria dengan kulit sawo matang dan lengan kekar tengah berdiri didepan mereka.


Bull dalam diam memperhatikan Sassi yang dari tadi terlihat bingung, siapa sangka orang dengan wajah yang bisa dibilang sedikit seram itu mendengarkan percakapan mereka berdua.


“Ehh,-” Sassi bingung sekaligus kaget saat Bull bertanya, dirinya mengira kalau Bull tidak akan mengijinkan seorang anak kecil tinggal di tempat GYM milik nya.


“Eh enggak Bull, aku mau anter dia pulang kok. Maaf ya adiku ini sedikit buat masalah disini.” Sassi mencoba meyakinkan Gabril agar mau pulang kerumah nya.


“Kalau kamu bisa, saya bolehin adik kamu itu tinggal disini.”


“Ehh..ini beneran?” Sassi terheran sekali lagi dengan sifat Bull, sudah dua kali dia keheranan ketika melihat sifat Bull kepadanya, dengan perawakan yang layaknya pegulat profesiona, Bull ternyata memiliki sifat yang sangat lembut, berbeda 360 derajat dengan wajahnya.


“Iya, kalau saya liat, adik kamu itu pengen banget bareng sama kamu Sassi, lagian pengunjung itu juga seneng sama adik kamu.”


Gabril kembali memandang Sassi dengan mata penuh cahaya, “Tuh kak, kata om itu boleh kok.” Gabril mencoba membujuk kakak perempuan nya.

__ADS_1


Disisi lain Sassi juga ingin bersama adiknya, tapi membawa adik perempuan nya tinggal di tempat seperti membuat dirinya tidak yakin bisa mengurus nya dengan baik.


Selama ini memang Sassi selalu menjadi teman main Sassi dirumah. Ketika orang tua mereka bekerja, Sassi selalu mengajak Gabril bermain, entah itu pergi mengitari taman atau mengajak nya pergi ketempat hiburan dan mengerjakan PR nya di malam hari.


Sassi sangat mengetahui bagaimana keadaan Sassi setelah dirinya memutuskan lari dari rumah, gadis kecil itu pasti sangat kesepian.


“Kalian bicarain dulu aja, saya mau ke atas dulu.”


“I-iya Bull, terimakasih banyak yah.”


Bull melangkahkan kaki nya bergerak menuju tangga di ujung ruangan, meninggalkan Sassi dan Gabril yang masih berhadapan di lantai bawah.


“Kamu yakin Gabril, kalau kamu tinggal disini, kamu enggak bisa sarapan enak kayak di rumah lho, disini juga kamu juga enggak bisa ketemu mama sama papa, yakin nih?”


Sassi kembali mempertanyakan keyakinan Gabril, adiknya hanya mengangguk dengan senyum manis nya, meskipun adiknya bilang sudah siap, tetapi dirinya tidak bisa percaya begitu saja.


Gabril hanyalah anak kecil yang baru lulus sekolah dasar, Sassi tahu kalau anak sepantaran nya memang seharusnya menghabiskan waktunya dirumah, belajar dan bermain.


Namun melihat keadaan dirumah yang suram juga membuat dirinya memiliki alasan untuk membawa Gabril.


“Yaudah boleh, tapi nanti kamu bantuin kakak buat bilang ke mama sama papa yah.”


“Asyikkk!!!..bisa main bareng kak Sassi lagi. Kakak tenang aja, nanti aku bantuin ngomong sama mama.” Ujar Gabril sembari melompat kegirangan.


Sekarang Sassi harus menyusun kata kata mutiara untuk memberi tahu kedua orang tuanya, tentu orang tua mereka tidak akan semudah itu membiarkan Gabril tinggal dan besar di tempat GYM.


Namun dengan Gabril yang tinggal dengan dirinya, Sassi bisa merawat Gabril tanpa harus mengekang kemauan nya, seperti kedua orang tua yang selalu mengatur kehidupan gadis itu.

__ADS_1


“Yaudah sekarang kamu ikut kak Sassi ke atas, kakak harus bilang sama om tadi kalau kamu mau tinggal disini, bareng kakak.”


Sassi menggeser kedua kakinya menaiki tangga dengan Gabril yang mengekor nya dibelakang.


__ADS_2