
Gabril masih merogok kantung sweater nya dengan sebuah mobil yang berada di didepan wajah cantik nya itu perlahan pergi menjauh.
Dia merapikan lembaran lembaran kertas berwarna itu dan menghitung nya dengan lantunan samar, keluhan gadis itu bisa dilihat dengan jelas.
Perlahan Gabril memasukan bibir merah merona kemudian menggigit nya, kedua matanya memutar pasrah, bagaimana bisa tarif kendaraan menuju daerah ini begitu mahal.
Dia sudah kehilangan uang jajan nya untuk minggu ini, rasa kesal jelas membara dihati gadis itu, tetapi mau bagaimana lagi, hanya mall besar ini yang menjual peralatan camp untuk acara sekolah nya.
Gabril memutar badan nya dan berjalan memasuki gedung yang dipanggil sebagai THE CITY MALL itu, berada di pusat kota, memiliki interior dan dekorasi serta struktur bangunan yang futuristik nan canggih.
Sudah cukup untuk membuat barang barang yang ada didalam nya mempunyai harga yang tinggi.
Kerumunan orang tidak terlalu ramai di bagian depan mall, karena ini hari selasa, Gabril sengaja pergi di hari biasa untuk menghindari kerumunan dan antrian.
Lagi pula, harga barang barang biasa naik saat WEEKEND, pergi di hari kerja adalah pilihan yang bagus.
“Okehh…sekarang aku cuman perlu masuk kedalam, beli tenda, senter, sama alat masak, habis itu keluar dan enggak usah ngelirik benda apapun.”
Gumam Gabril mencoba mengingatkan dirinya sendiri, mau bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang wanita, dia tentu tidak ingin membeli barang diluar list belanja nya.
Kondisi dalam mall seperti biasanya, deretan tas dan baju menyambut Gabril dengan sedikit bisikan samar, BELI AKU!
Masih berjalan menelusuri koridor mewah dan besar yang dipenuhi aneka ragam orang dan barang eksotis sampai sebuah tangan lembut memegang pundaknya.
“Lagi ngapain kamu disini?” suara lelaki yang agak berat masuk kedalam telinganya, Gabril menoleh pelan, dengan kedua tangan nya yang sudah mengepal seolah siap memberikan pukulan ringan.
Tetapi tanpa butuh waktu lama, kepalan tangan itu membuka kembali ketika dia melihat wajah seorang lelaki tampan dengan rambut undercut sedikit kemerahan.
Fahri tiba tiba spawn dibelakang gadis itu, dengan kemeja biru lengkap dengan celana bahan hitam dan sepatu putih bersih.
Gabril mundur beberapa langkah, memandangi wajah Fahri yang semakin hari seakan bertambah tampan. “ Kamu sendiri ngapain?”
__ADS_1
“Ak-aku mau beli peralatan camp” Fahri terlihat masih canggung berbicara dengan gadis didepan nya, Fahri mencoba berjalan perlahan meninggalkan Gabril, meskipun batin nya berbica sebalik nya, AJAK GADIS ITU JALAN BARENG.
Gabril mengekor dibelakang, mencoba mencari topik, gadis itu mencoba mencairkan suasana, dia tidak ingin suasana canggung terus menyelimuti mereka berdua.
Gabril memainkan rambutnya, berfikir keras untuk memulai pembicaraan, tapi semuanya berubah ketika Fahri mulai melontarkan beberapa kalimat pembuka.
“Kamu kesini naik apa tadi?” Fahri menatap Gabril dengan penuh gairah. “Taxi online, habisnya naik apa lagi, kalau naik busway atau kereta ongkos nya bisa lebih mahal.”
“Pantesan, kamu keringetan gitu, mau beli minum, aku yang beliin ayo.” Fahri menarik tangan Gabril halus, disisi lain Gabril membuka matanya lebar, dia berusaha menyapu keringat nya segera.
“Sial sial, kenapa harus keringetan di kondisi kayak gini, huftt bikin malu aja.”
Mereka berdua berhenti di salah satu toko yang ada di pojok ruangan, toko minuman itu memang tidak terlalu mencolok, tidak terlalu besar dan hanya ada beberapa kursi didepan nya.
Fahri melepas genggaman tangannya dan memesan dua es teh di cup berukuran sedang, Gabril yang menunggu di salah satu bangku masih sibuk berkaca dan merapikan penampilan nya.
Gadis itu menguncir rambutnya yang panjang menjadi satu,
Telinga nya perlahan terlihat disaat Gabril menyisir rambut hitam nya dengan kedua tangan nya, poni tebal nya yang berayun hingga sedikit menutupi alis nya.
“Nih minum, enggak usah bilang makasih, abis minum baru kita masuk ke toko peralatan nya.” Fahri masih mencoba memperlihatkan sifat dingin nya dihadapan Gabril.
“Eh iya Fahri, kamu ikut kamping di tahun sebelumnya kan, disana kayak gimana sih.” Tanya Gabril dengan wajah penasaran, Gabril harus tahu tentang kamping ini lebih banyak mengingat acara ini akan diadakan seminggu bahkan dua minggu.
“Kayak kamping biasanya, gimana sih, ya tidur di tenda, jelahin pegunungan dibelakang desa nya.”
Gabril tersenyum kecil melihat pria didepan nya masih saja bertingkah sok keren, toh dengan sifat nya yang kayak gitu justru membuat Gabril semakin terkesima dengan Fahri.
Keseruan mereka berdua yang menjadi satu satunya pelanggan di toko itu seketika padam ketika seseorang bersuara bariton memanggil Gabril.
“Is that the little girl who follows her sister everywhere?” seseorang dengan suara tenor menyapa Gabril dari kejauhan.
__ADS_1
Sesosok pria dewasa dengan badan sedikit kekar dan tinggi melambaikan tangan nya, pria yang mengenakan kaos oblong dengan celana pendek dan sandal nya terlihat sederhana namun tetap tidak menghilangkan esensi mewah dari pakaian yang dia pakai.
Gabril bangkit dari kursinya dengan wajah berbintang, senyuman lebar menghiasi bagian bawah wajah Gabril. Sebaliknya, Fahri menatap pria itu dengan tatapan dingin, dia terlihat tidak senang dengan kedatangan pria itu.
“OSCARR!!!!” Gabril melambaikan kedua tangan nya dengan sangat antusias, gadis itu sangat bergairah.
“Gabril, little Gabril, udah lama banget, berapa tahun.” Oscar memeluk Gabril sekejab, “Lama, lama banget, elo keliatan tua banget ya sekarang.”
“Tapi gue masih lebih muda dari Bull, haha…”
Ditengah suasana nostalgia Gabril dan Oscar Fahri berdiri dan menatap keduanya, Oscar yang meyadari Gabril sedang bersama seorang pria melepas perlahan pelukan nya.
Hanya dengan melihat gestur tubuh Fahri, Oscar sudah paham kalau pria itu terlihat tidak suka dengan keberadaan dirinya.
“Yoo bro, sory nih ganggu kencan nya, gue bukan siapa siapanya Gabril, gue kenal Gabril pas dia masih kecil, jangan salah sangka oke?”
“Enggak santai." Ujar Fahri dengan wajah tanpa ekspresi, tidak banyak bicara dan kembali duduk dikursi.
“Sassi gimana, masih galak kaya dulu?”
“Masih sama, cuman beda sedikit, eh iya kok elo bisa disini, sendiri?”
“Gue disuruh Bull buat nyari alat olahraga, alat alat di GYM udah mulai rusak, jadinya mau diganti, btw elo masih bisa fight kan, skill lo enggak nurun kan, belakangan anak anak jalanan itu pada dateng nyariin elo, katanya club mma pada kangen.”
Kedua bola mata Fahri langsung menatap Oscar dengan tajam, perkataan Oscar benar benar membuat kepala Fahri langsung diserbu berbagai pertanyaan. “Fight? Club mma? Anak jalanan?
“Bisa dibilang turun sedikit, semenjak pindah, gue gk pernah ikut tanding lagi, cuman beberapa kali mukulin temen sekolah.”
“Masih gila kayak dulu lo, Yaudah Gabril enggak enak sama temen lo tuh nungguin, we’ll meet again later, titip salam buat Sassi.” Oscar perlahan menghilang dari tatapan Gabril dan Fahri.
“Temen kamu?” belum sempat Gabril menoleh, Fahri sudah berdiri dibelakang dirinya. “Enggak kok, dia temen kakak aku, dia yang ngasih kakak sama aku buat tinggal di GYM nya.”
__ADS_1
“Kamu pernah tingga,-” Gabril mendorong Fahri menuju tempat peralatan kamping sampai dia tidak bisa melanjutkan pertanyaan nya itu.
“Sebenernya kamu itu dari mana Gabril, apa yang dimaksud pria tadi, anak jalanan, club, Bull, mereka siapa?” gumam Fahri, pria itu memiliki segudang pertanyaan tentang gadis yang sedang bersama nya.