
Hari sudah menjelang siang ketika Gabril tengah berjalan di komplek perumahan yang masih asri, dirinya terkejut bukan main setelah sadar berapa uang yang dia habiskan untuk ongkos transportasi nya.
Dia menaiki 2 angkutan umum secara bergantian, mulai dari busway, dan kereta. Dengan uang nya yang terkuras sangat banyak hanya untuk sampai di perumahan ini, Gabril mengerutu sepanjang jalan.
Langkah gadis itu terhenti ketika dia melihat sebuah rumah besar dua lantai dengan mobil dan motor mahal yang terparkir di halaman nya. “Nomor 43, ini serius rumahnya, wow.” Gabril terkesima melihat rumah mewah itu lengkap dengan kendaraan dan pot pot tanaman yang tertata sejajar.
Pandangan nya teralihkan ketika seorang pria dengan kemeja hijau dan rambut undercut dengan arsiran warna kemerahan keluar dari pintu.
“Gab, ayo masuk.” Fahri mengibaskan tangan nya dan menyapu rambut nya yang sedikit berantakan.
“Eh iya iya.” Gabril menata kembali poni nya dan berjalan masuk kedalam rumah. Suasana tentram langsung menerpa badan Gabril, didepan nya berdiri dua orang laki laki dan perempuan paruh baya.
Gabril menghentikan langkah nya lalu perlahan membungkukan badan, memberi salam kepada orang tua Fahri, “Wahh kamu sopan sekali, cantik lagi. Serius kalian cuman temenan.” Ujar pria paruh baya itu dengan senyuman yang melekat.
“Fahri, mama enggak tau lho kamu temen wanita.”
“Mah, kami cuman ada kerja kelompok.” Fahri menaiki tangga dan berjalan masuk kedalam kamarnya, kedua orang tua Fahri mempersilakan Gabril untuk mengikuti Fahri dengan penuh rasa senang.
“Seriusan ini Fahri, kok sifatnya beda banget sama di sekolah, cara berpakaian nya juga beda 180 derajat, enggak, dia Fahri beringas yang ada di sekolah.” Gumam Gabril sembari melangkah menaiki tangga.
“Kita kerjain disini, kamar gue.”
Gabril kembali menata poni dan pakaian nya, dia kagum bukan main, luas kamar Fahri hampir menyamai ruang tamu di rumah nya, poster poster film dan foto foto kartun menempel dengan acak tetapi masih terlihat rapih.
“Fahri ternyata cukup childish.” Gabril memperhatikan poster yang menempel di dinding, Fahri tidak menghiraukan perkataan gadis itu, dia membuka laci dan mengambil beberapa buku pelajaran.
“Mana soalnya, ayo kerjain bareng.” Fahri mengambil pena dan perlahan menggoresnya di sebuah buku catatan.
Gabril mengeluarkan handphone nya dan membuka file pdf yang berisi 20 soal matematika, “Hmm..elo 10 soal gue 10 okeh?”
“Kok gitu, gue 5 soal sisanya elo.”
“Kok jadi banyakan gue sih, kan kita kerja sama, 10 soal lah.” Fahri menatap mata Gabril dengan alis turun naik, “Kan elo janji mau ngerjain semuanya waktu di sekolah, masih untung gue mau kerjain 5.”
__ADS_1
“Iya sih, tapi ayolah, biar cepet selesai Gab, gue juga ada kegia,-”
perkataan Fahri terhenti ketika dia melihat Gabril menguncir rambutnya, pesona gadis itu seketika bertebaran di seluruh kamar, Fahri terdiam, wanita yang berdiri didepan ternyata cukup cantik ketika dia tidak memakai seragam sekolah.
Gabril melepas dan memasukan jaket yang dia pakai kedalam tas, kaos polos berwarna abu abu dan rok panjang yang dia kenakan membuat pandangan Fahri tidak bisa lepas darinya.
“Kenapa? Ada yang salah sama muka gue?” ketus Gabril sadar kalau Fahri memperhatikan nya sedari tadi.
“Engg-enggak kok, elo keliatan beda aja.” Fahri langsung membuang wajah ny kembali ke buku catatan nya, perasaan yang belum pernah ia rasakan, jantung nya berdetup kencang tak karuan.
Gabril mengambil bangku dan duduk bersebelahan dengan Fahri, meja yang cukup besar lengkap dengan sederet novel yang berbaris di pojok ruangan.
Mereka berdua saling bertukar pikiran, mencoba berbagai rumus, dan menghitung bersama. Satu persatu soal matematika telah terselesaikan, meskipun berbeda sifat, mereka berdua ternyata memiliki team work yang bagus.
********
Beberapa jam sudah mereka lalui, Gabril tidak bisa menyembunyikan rasa penat nya setelah menjawab soal soal tadi, meskipun dia hanya menjawab 5 soal, tetapi Fahri memberikan 5 soal yang sulit, pria itu cukup licik.
“Selesai, akhirnya.” Fahri beranjak dari tempat duduk nya dan meregangkan badan.
Fahri mencuri pandangan beberapa kali, ini pertama kalinya ada seorang wanita cantik masuk kedalam kamarnya.
“Lho kok sepi, orang tua lo kemana?” ujar Gabril sembari menuruni tangga.
“Kerja, kalau jam segini mereka berdua kerja, kalau libur sekolah palingan gue cuman main komputer di kamar.”
“Lo aneh banget sih.” Gabril menatap Fahri dan memiringkan kepalanya, sungguh pose bertanya yang membuat pandangan Fahri seakan terkunci.
“Ane-aneh kenapa, biasa aja.”
“Kalau di sekolah tuh, lo kayak brandalan tau gk, baju dikeluarin, sering bolos kelas, makan diem diem, tapi sekarang lo beda banget.”
“Sama aja.” Fahri langsung meninggalkan Gabril menuju motor nya, Gabril dibelakang hanya tersenyum kecil, melihat teman nya yang bersikap sangat aneh.
__ADS_1
Fahri masih menyalakan motornya, pria itu tersenyum beberapa kali, raut wajah nya memerah tampak jelas, melihat Gabril yang memainkan rambut poninya membuat Fahri tak kuasa menahan pandangan nya.
“Gabril, ay-ayo gue anter.” Ajak Fahri canggung, “Kenapa? Gue bisa sendiri, lagian juga uang gue masih cukup.” Gabril meneruskan langkah nya.
“Ayolah, gue anterin aja, udah sore juga, gk baik anak cewek pulang kemaleman.” Fahri memberikan sebuah helm.
“Hihi…kamu baik juga, yaudah.” Gabril mengambil dan memakai helm yang diberikan oleh Fahri, “Hah..gk salah, dia bilang kamu, anjir se-seriusan.” Fahri tidak bisa berhenti gemetar, jantung nya berdetak semakin tak karuan, perasaan apa ini.
Mereka berdua kemudian berboncengan keluar dari komplek perumahan, dua orang itu terlihat akrab diatas motor, Gabril beberapa kali melontarkan pertanyaan di sepanjang jalan.
“Badan lo kok geter sih, hati hati ish.” Gabril menepuk pundak Fahri. “Maaf, motor nya ini.” Fahri mencoba menenangkan dirinya.
“Eh iya gue mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja, yang keras tapi, berisik disini soalnya.”
Gabril menyenderkan kepalanya di salah satu pundak Fahri, “Makasih banyak yah, udah mau bantuin gue.”
“Iy-iya, santai aja, la-lagian gue juga salah.” Fahri merasakan kelembutan disaat Gabril bersender di pundak nya, tidak ada beban, Fahri nyaman dengan hal itu.
Gabril berusaha menguatkan perasaan nya, sejak pertama kali bertemu, Gabril memang sudah memiliki perasaan terhadap Fahri, meskipun perasaan itu samar.
Gabril tidak ingin melewatkan kesempatan ini, kapan lagi dia berboncengan dengan pria yang menjadi idaman semua wanita di sekolah nya.
Begitu juga Fahri, dia berharap Gabril terus menempelkan dahi manis nya itu, mereka berdua memiliki perasaan yang sama, meskipun dengan sifat yang berbeda.
Pesan Author.
Hay para pembaca, kalian bisa follow instagram author di :
@hibvii
Biar kalian jadi orang pertama kali tau kalau novel KNOCKOUT VS LOVE up chapter baru.
__ADS_1
Di sana juga ada wiki seputar karakter dan dunia dari KNOCKOUT VS LOVE.