Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Masa lalu sang prajurit


__ADS_3

Hay pembaca, apa kabar? Semoga baik yah.


Author mau kasih info, yuk follow ig author biar kalian bisa dapet info lebih banyak seputar wiki, karakter, dan update.


Bisa dilihat di


@hibvii


Terimakasih dan Happy Reading


Gemuruh suara orang orang yang berdesakan sembari melempar uang milik mereka. Tumpukan orang orang itu meneriaki dua sosok wanita yang tengah bertarung di atas ring mma atau biasa disebut CAGE.


Dua wanita itu bergantian melayangkan pukulan, tendangan, dan saling membanting satu sama lain.


“Hajar muka nya ayo!!”


“Pukul dong jangan ngindar melulu.”


“Tendang dong tendang, gimana sih.”


“Eh itu awas woy, aduh, kalau kalah ilang nih


duit taruhan kita.”


Kamu benar, ini adalah tempat pertarungan ilegal, para penonton bertaruh dengan cara memilih salah satu fighter yang sudah dijadwalkan untuk tanding.


Para penonton memang didominasi oleh anak anak jalanan, preman setempat, pengamen, dan anak anak punk. Walaupun begitu, ada beberapa orang yang menonton pertandingan menggunakan jas kantor yang rapih.


“Sassi, mana head kick nya, keluarin dong.” Teriak seseorang di samping ring dengan lantang.


BUUKKK..


BUKKK..


BUUKK….


Wanita itu melayangkan pukulan pukulan keras nya kepada Sassi. Sassi menerima semua pukulan yang diberikan oleh lawannya. “Bagus Larisa bagus, hajar terus, jangan kasih jeda. Biar Sassi yang sombong itu kalah!” teriak seorang penonton.


Waktu pertandingan menyisahkan 40 detik lagi untuk babak pertama berakhir. Pertandinganl mma liar ini dibagi menjadi 3 babak atau ronde, fighter hanya dianggap menang jika dia berhasil membuat lawannya KNOCKOUT atau jika fighter berhasil membuat lawanya terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi.


Peraturan dalam pertarungan liar atau ilegal memang dibuat dengan semena – mena dan brutal, para petarung tidak dibekali peralatan keamanan sedikit pun, seperti pelindung kepala ataupun badan.


Kembali kedalam pertarungan, Sassi berhasil dibuat babak belur oleh Larisa dibabak pertama, Larisa terus menerus mengeluarkan pukulannya, Sassi membungkukan badanya dengan niat melakukan uppercut, melihat itu Larisa langsung meresponnya, posisi Sassi yang tengah membungkuk membuat kepalanya berada tepat di depan kakinya. Dengan cepat Larisa mendengkuli wajah Sassi.


BUFTT…

__ADS_1


Serangan itu telak, dengkul dari Larisa mengenai bagian pipi Sassi dengan sangat kuat, membuat Sassi tersungkur beberapa meter didepan Larisa.


“Huftt….huft…dia ceroboh banget.” Ujar Larisa.


Sassi mencoba bangun, dia memegangi wajahnya, tanda kalau gadis itu kesakitan.


Larisa kembali memasang kuda kudanya, bersiap untuk kembali memberikan memar kepada Sassi.


Mereka berdua kembali berhadapan, memutari ring berbentuk segi lima dengan sorak ramai para penonton.


Sassi dan Larisa melakukan pertarungan jarak pendek, dengan jurus bela diri mereka masing.


Gerakan lincah dan cepat dari Larisa berhasil membuat Sassi kewalahan, Larisa dengan sigap menangkis setiap serangan Sassi dan melakukan serangan balik dengan baik.


Melihat Sassi yang mulai oleng Larisa mengambil kuda kuda baru. Gaidis itu bergerak beberapa langkah kebelakang. “Aku butuh kakinya untuk memenangkan ini.”


Larisa perlahan menjauh dari Sassi, tanpa melepas tatapan matanya Larisa terus bergerak kebelakang sambil menunggu respon dari lawanya.


Geram Larisa terus menjauh, Sassi berlari dengan cepat kearah Larisa dan melayangkan tendangan dengan kaki kanannya. Larisa yang memang sudah menunggu hal itu ternyum lebar.


“Bingo.”


Belum sempat tendangan Sassi mengenai kepala nya, Larisa menangkap kaki kanan Sassi. “Sialan.” Ujar Sassi.


Sampai ditengah ring, Larisa mengangkat tubuh Sassi hingga melebihi kepalanya, dan,-


BUMPPP!!!....


Larisa membanting Sassi dengan sekuat tenaga hingga membuat ring tempat mereka bertarung berbunyi keras. “Kenapa kamu sangat ceroboh Sassi?” tanya Larisa kepada Sassi yang terbaring lemas.


Ingin mengakhiri pertandingan, Larisa mengambil tangan kiri Sassi dan menjepitnya dengan kedua kakinya sembari memutar badan dan melilit tangan milik Sassi.


“SII…SIALAN, ARGHHH!!.” Teriak Sassi kesakitan.


Tidak kuat dengan kuncian Larisan, Sassi menepuk – nepuk lantai ring, tanda kalau dirinya sudah tidak bertarung.


TENGG…TENGG…


Bel dibunyikan, tanda pertarungan telah berakhir. Larisa dengan keringat dan beberapa memar diwajahnya melepas kunciannya.


“kam..kamu itu kuat, ta..tapi sayang, huftt..kamu enggak bisa ngebaca gerakan lawan, dengan skill kayak gitu, kamu enggak punya harapan buat jadi rank 1 disini.” Seru Larisa.


Sassi kesakitan hanya bisa terdiam, melihat lawannya mendapat uang taruhan dan merayakan kemenangan nya.


**************

__ADS_1


Pukul 03.00


Sassi berjalan mengendap endap menuju rumahnya, dia berjalan memutar, menghampiri bagian samping rumah. Dirinya kemudian mengambil tangga besi kecil yang berada di tanah.


Sassi membuka tangga itu kemudian menaikinya keatas, sampai disebuah pipa kecil. Gadis itu memegang pipa kecil yang panjang dengan kuat dan perlahan.


Ini adalah satu satunya jalan masuk untuk dirinya sehabis melakukan pertarungan, bergelayutan dan memanjat sebentar, Sassi membuka jendela kamarnya yang sengaja tidak ia kunci.


Perlahan dia masuk kedalam kamar dan menutup kembali jendela kamarnya.


“Argghh, tangan kiri…parah tuh perempuan, ngunci tangan nya kenceng banget, aduh mana besok,-“


“Besok apa?” seru seseorang dibalik kegelapan kamar, Sassi sontak kaget dan melompat ke kasur miliknya.


Sosok itu kemudian menyalakan lampu kamar, dan terlihatlah paras wajahnya, itu adalah ibu dari Sassi.


“Mama! Bikin aku kaget aja ish.”


“Abis dari mana kamu?”


“Emm tadi…aku….emm…” Sassi kebingungan.


menjawan. “Abis berantem ditempat itu lagi?” seru ibu Sassi.


“Udah berapa kali sih Mama sama Papa bilangin, kamu jangan ketempat itu lagi, jangan kesana tapi kamu masih aja kesana, buat apasih?”


“Ma aku tuh kesa,-“


“Buat cari uang? Emangnya uang yang dikasih sama mama enggak cukup? Sampai kamu rela babak belur begini biar dapat uang.”


“Ma dengerin aku dulu.”


“Harusnya kamutuh kasih contoh yang baik buat adik kamu, Gabril sekarang mau ujian kelulusan smp, coba bayangin kalau dia tau kelakuan kakaknya begini, yang ada nambah beban pikiran dia.”


Kesal degan ibunya Sassi membuka dan melempar jaketnya dan langsung melempar diri ke kasurnya. “Sassi, kamu itu kami didik dari kecil bukan untuk jadi petarung jalanan itu, mama sama papap biayain sekolah kamu tuh biar kamu pinter, biar ka,-“


“Biar aku warisin perusahan mama sama papa yang gede itu kan? Aku gk mau dan enggak akan mau sampai kapanpun buat masuk ke perusahaan sialan itu.”


“Sassi! Kalau enggak masuk kesana kamu mau jadi apa? Orang miski, gelandangan?”


“Aku udah nentuin tujuan aku ma, aku udah tau masa depan aku mau jadi apa, aku bukan anak tk yang harus mama atur kesana kemari!!...aku enggak mau disamain dengan gadis gaids yang mama panggil anggun itu, sampai kapanpun!”


Ibu Sassi terdiam sebentar, dia mengeluarkan air mata dan keluar dari kamar sembari membanting pintu kamar. Sassi yang juga kesal dengan perlakuan orang tuanya hanya bisa diam didalam kamarnya.


“Memangnya salah ya kalau aku enggak bisa jadi anggun kayak gadis lain, kalau aku suka beladiri, aku ini beda dari mereka, kalau mereka itu princess yang lemah lembut, aku ini bukan kayak gitu, aku lebih suka hidup diluar istana, masuk kedalam goa dan hutan, bertarung dengan mereka demi bertahan hidup, itu lebih membuat aku senang dari pada duduk manis di kursi dan harus punya tatakrama.”

__ADS_1


__ADS_2