Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Saat waktu itu


__ADS_3

Lentera-lentara menerangi atap bangunan sempit dan pengap. Sorot lampu kekuningan yang menerangi ruangan kecil tidak lebih dari 9m x 8m.


Seorang gadis bersandar di tali pembatas yang elastis, mengikuti lekuk tubuhnya yang tersandar lemas dengan memar merah di sekujur tubuhnya.


Tatapan matanya tertuju kepada satu lagi wanita yang tengkurap tak berdaya di lantai ring berbentuk persegi. Nafasnya terengah-engah, mulutnya dipenuhi air liur yang bercampur bercak merah.


Kedua lengannya mencoba menopang badan yang kini berusaha untuk bangkit berdiri.


Usaha nya sia-sia, mau sekuat apapun lengan dan jari nya mencengkram lantai, tenaganya sudah tidak mampu mengembalikan keseimbangan kedua kakinya.


Dibawah, orang-orang meneriaki kuat dan kencang, membuat telinga Gabril yang masih tertutup pelindung kepala terasa ingin pecah.


Tatapan wanita yang terbaring lemas kembali memusat, dibalik wajah penuh luka tersimpan rasa kesal yang amat keras, mulutnya yang robek perlahan membuka, mengucapkan kalimat kata terbatah-batah.


“Ka-kamu bohong, k..katanya kita bakal seri? Kamu tahu aku enggak punya tempat tinggal lain.”


Gabril hanya terpaku di sudut ring, dirinya memutar kepala. Melihat kerumunan orang yang menyorakinya kuat. kedua kaki nya yang menggunakan celana panjang dengan ujung lebar keluar dari ring besar.


Tanpa memperdulikan ucapan wanita tadi, Gabril berjalan lurus tanpa memalingkan pandangan nya dari lorong kecil yang terbentang lurus.


***


“Bravo..Bravo Gabril!” pria dengan lengan kekar dan jas serta topi bak koboy memandangi Gabril girang.


“Menang di ronde pertama, kamu pantas jadi rising star baru klub kita, Larisa bukan satu-satunya petarung wanita sekarang.”


Puluhan pujian dilontarkan, bukan hanya orang-orang didepan nya, website broadcaster tidak luput dari komentar membanggakan dan pujian akut untuk Gabril.


Meskipun dia berhasil menang, mendapat puluhan fans baru dibelakang dirinya, dan bayaran yang lebih besar. Gabril tampak tidak senang dengan itu semua.


Ekpresi gadis itu tidak menunjukan senyuman atau kebahagiaan hari ini, berbanding terbalik dengan hari-hari nya sebelum ini.


Rangkaian kata Larisa memenuhi benak kepalanya. Ingatan nya kembali membuka pertemuan mereka berdua sebelum pertandingan.


Mereka berdua sempat berbicara beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, “Kalau enggak bisa kalah, kita bikin seri aja?” Larisa menyatukan kedua jari-jarinya, gadis itu terlihat memohon kuat.


Kekalahan beruntun yang dialami hingga dirinya berada di 5 klasemen petarung membuat Larisa terjebak dalam posisi sulit. Dirinya sudah bukan satu-satunya wanita disini.

__ADS_1


Masuknya Gabril secara penuh membuat Larisa harus tampil bagus untuk tetap tinggal. Larisa selalu berusaha tampil sebaik mungkin, namun semuanya terasa hambar.


Gabril ternyata lebih bersinar, pendatang itu bisa menang 3 kali berturut-turut di minggu pertamanya. Menarik perhatian seluruh penonton dan membuat dirinya berada di urutan atas.


***


lapang luas yang dipenuhi anak-anak kecil yang sedang seru bermain sepak bola.


Cahaya matahari tidak akan seterik tadi, kulit gadis itu terpapar hangat dengan kilauan senja yang membasuh nya perlahan. Duduk di tepi lapangan dengan seorang pria yang tengah mengoceh tak berhenti.


Gabril menepati janjinya, sore ini dia membiarkan Akma berada disamping badan untuk sementara. Pria itu mengoceh pajang lebar dengan puluhan kata Italia yang sulit dimengerti.


Gabril hanya memandang kedepan, melihat derau debu yang melingkar menembus anak-anak yang di tengah lapangan.


Meskipun mereka berdua bukan satu-satunya murid SMA yang tengah duduk diam disana, beberapa murid SMA dari kelas lain juga tengah menikmati sore disini.


Gabril masih memasang telinga nya ketika Akma kembali mengoceh tanpa henti, JIKA OMONGAN AKU TULIS DI WORD, PASTI UDAH JADI NOVEL 460 HALAMAN. Gumam nya dalam hati.


“Jadi gimana? lo mau bantuin gue kan?” Akma memasang wajah melasnya, mata nya berkaca-kaca dengan alis yang sedikit terangkat.


Gabril memandangi mata Akma yang biru cerah dengan arsiran putih di rambut hitam nya.


Gabril menghembuskan nafas panjang seolah ada beban berat di menumpuk di pundaknya.


“Tapi gue bingung gimana, gue dari kemarin Cuma disuruh nyabutin rumput di sawah sama keliling desa pas subuh.


Nanti isi kertas gue cuman sekedar nyabutin rumput sama ngeronda?”


“Lo kan dari kemarin banyak kegiatan Gab, ngambilin buah, panen, dekorasi balai desa, masih banyak lagi deh, jadi pliss bantu gue ya.”


Gabril menyingkap kedua tangan nya, keringat perlahan keluar. Siang tadi semua murid diberitahu kalau di akhir kemah akan ada penilaian kegiatan.


Semua murid akan membuat deskripsi kegiatan yang dilakukan selama kemah. Akma memang hanya melakukan sedikit hal, pria itu hanya mencabuti rumput sawah dan patroli subuh.


Sedangkan Gabril punya lebih banyak, namun dirinya juga bingung. Dia tidak bisa membantu Akma disaat deskripsinya belum selesai.


“Enggak bisa, gue aja belum selesai.” Jawab Gabril tegas. Meskipun penolakan Gabril sudah jelas dan tidak bertele-tele. Akma masih merayu gadis itu dengan kata-kata puitis dan pujian nya yang bisa membuat cewek-cewek disekolah terbang melayang.

__ADS_1


Namun rayuan itu tidak mempan untuk seorang Gabril, gadis itu tetap kuat dengan kata-katanya. “Udahkan nemenin nya? Gue mau balik, Viona sama Kanti lagi nungguin dirumah.


“Sei bello. Bantu gue yah. Pliss enggak usah detail banget, inti kegiatan nya aja.”


Gabril beranjak bangun, kedua kakinya menopang badan yang tidak terlalu besar. Berjalan perlahan meninggalkan Akma yang masih mengekor dibelakang.


“Akma, janjinya udah selesai kan, gue udah nemenin sama dengeris puisi-puisi keren milik lo. Kenapa masih ngikutin sih?”


Akma menyisir rambut tebalnya dengan tangannya yang agak pucat. Pria itu tidak mengatakan apapun selain memandangi wajah Gabril.


“Bidadari surga.” Ujarnya pelan. Gabril menghela nafasnya pasrah, “Enggak ya enggak, Akma.”


Gabril mempercepat langkahnya menjauhi Akma. Sampai di persimpangan kecil gadis itu berbelok menuju jalan sempit yang sudah tidak rata.


Kepalanya memutar kembali, Akma kini terdiam di ujung persimpangan dan masih menatapnya dengan tajam. “Nanti gue bakalan kasih sesuatu yang indah buat lo, wahai malaikat cantik.” Teriak nya kuat hingga membuat orang-orang yang tengah duduk santai melirik kedua manusia itu.


***


Pintu rumah masih terbuka, cahaya senja masih menerangi Gabril walaupun lampu di atas teras belum menyala.


Gabril perlahan masuk kedalam dan melihat dua orang yang berbeda sifat 180 derajat tengah asik berbincang didepan laptop.


“Gabril kamu lama banget sih. Udah sore banget lho.” Viona melepas jari nya dari tombol keyboard. “Abis pacaran sama Akma?” tambah Kanti.


“Sia-siapa yang pacaran sama tuh orang?” seru Gabril cepat, dari mana Kanti tahu kalau dirinya bersama Akma sore ini.


Gabril duduk diantara kedua temannya. Menyelip dan melihat layar laptop yang sudah penuh oleh rangkaian kata dan foto yang tertata rapih.


“Kamu udah nyelesaian tugas nya Viona? Pengumuman nya aja baru dikasih kemarin malam lho.”


“Ini laptopnya Kanti, aku minjem buat liat materi apa aja yang dia tulis hihi..” Kanti membusungkan dadanya bangga, gadis itu sudah menyelesaikan hampir 70 halaman hanya dalam satu hari.


“Gue emang ahli kalau urusan beginian.” Lagi-lagi Kanti mengangkat kepalanya tinggi.


Perhatian Gabril teralihkan ketika handphone miliknya menampilkan notifikasi chat masuk.


...NANTI MALAM, JAM DELAPAN GUE TUNGGU DI DEPAN POS JAGA....

__ADS_1


__ADS_2