
Remang remang kesunyian berkeliling mengerumuni dua orang gadis yang bersender menikmati malam di teras rumah, rumah yang tampak sederhana dengan cat putih yang tercoret oleh kumpulan noda.
“Gimana?” Gabri mengusap hidung nya, memikirkan hubungan nya dengan Fahri yang semakin tidak jelas akan mengarah kemana, sikap bodoamat pria itu semakin menjadi belakangan ini.
Gadis itu tidak mengetahui dimana letak kesalahan dirinya, itu membuat Gabril sedikit kebingungan untuk memulai dari bagian mana.
Viona balik menatap kedua mata Gabril, hembusan angin malam yang dingin mengusap kulit mereka berdua. “Aku juga bingung Gabril, masalah nya enggak jelas sekarang, tau-tau dia marah gitu.” Usak Viona sebelum melepas dan memakai kacamata nya berulang kali.
Gabril termenung dalam diam, gadis itu terhayung-hayung, menatap langit gelap malam yang bertaburan bintang. Rangkaian kejadian sebelum dirinya tiba di tempat kemah tidak bisa dibilang kebetulan.
Fahri seakan mencoba mendekati Gabril selagi kesempatan memihak kepada pria itu, mulai dari lapangan, mengerjakan tugas, sampai terakhir kali mereka bersama pada saat di mall tentunya.
Perasaan yang muncul didalam diri Gabril ketika pertama kali melihat Fahri memang bukan perasaan suka semata, jika suka tentunya banyak gadis di sekolah yang menyukai Fahri.
Mulai dari adik kelas sampai anak-anak kelas 12 yang akan segera lulus ini, mereka semua mengakali berbagai cara untuk bisa mendapat perhatian nya.
Namun Gabril tidak, Gabril bahkan tidak melakukan hal apapun untuk meraik perhatian Fahri, pria itu sendiri yang menghampiri dirinya dan mulai penasaran.
“Kemungkinan terburuk nya Vi?”
“Nanti dia cuman ngeliat kamu sama kayak cewek yang berusaha deketin dia, palingan itu sih.”
“Kenangan aja belum ada, cuman kebetulan pas-pas an, ngobrol ngerjain tugas bareng, aku enggak pernah bener-bener janjian kalau mau ketemu, tapi perasaan aneh itu muncul terus pas aku ada disamping dia, sikap nya berubah drastis kalau enggak ada orang yang perhatiin kita berdua.”
Ucapan itu hilang terbawa angin, gelap malam yang semakin mendominasi warna langit membuat bintang dan bulan perlahan kehilangan sinar mereka.
Gabril mencoba bangkit dari kursi kayu yang dia duduki beberapa jam ini, pinggang nya terasa nyeri karena duduk terlalu lama di bangku kaku dan keras itu.
Dirinya mengandeng lengan Viona pelan, berjalan memasuki rumah yang kini menggantikan tenda mereka, semua pekerjaan kemah harus membuat beberapa murid tidak harus kembali ke tenda mereka diatas gunung.
__ADS_1
Beberapa yang memang bertugas di area sawah dan sekitar diperbolehkan tinggal didalam rumah kecil yang sudah disiapkan secara berkelompok.
Dalam hal ini Gabril beruntung masuk kedalam kelompok yang sama dengan Viona, dan satu orang lain nya adalah Kanti yang sudah terlelap didalam kamar.
***
Tidak terasa sinar bulan yang remang telah terganti oleh sinar hangat matahari yang muncul dari balik gunung.
Cahayanya menembus jendela rumah setiap orang, membuat mereka semua membuka matanya dan bergegas keluar.
Kanti ternyata sudah bangun lebih dulu dari semua orang, bersama Ara disamping nya. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan jalan desa yang masih asri dan sepi.
Hanya ada beberapa orang dengan sepeda dan lainnya berjalan memikul tumpukan padi diatas kepala dan pundak mereka.
“Gimana kamarnya, nyaman?” Ara mencibir santai, gadis itu benar benar terlihat mempesona dengan jaket tebal merah dan celana training panjang hitam.
“Gabril lumayan seru diajak ngobrol, tuh cewek ternyata asik juga. Kalau Viona agak beda, gue nyoba mulai topik pembicaraan tapi tuh cewek ngejawab singkat aja, enggak bisa komunikasi tuh orang.”
Ara menggidik sebentar, suasana dingin jalan pedesaan menjalar masuk kedalam diri gadis itu. “Tapi Gabril pernah bilang sesuatu? Seputar masalah mungkin?”
“Ya enggak lah, kenal juga belum seminggu, masa iya dia mau koar-koar nyeritain masalahnya ke aku, kalau sama Viona mungkin iya, mereka kalau malem sering ngobrol berdua di teras.”
Kali ini Kanti menatap Ara heran, gestur tubuh dan bentuk alisnya menyimpan keheranan cukup besar kepada teman dekat disamping nya.
“Lagian kenapa sih Ra? Kayaknya akhir-akhir ini kamu kayak tertarik banget sama tuh cewek, Gabril. Jarang-jarang lho kayak begini pernnah sekali itu juga si Haikal kan, gara-gara dia ngambil pr kamu diem diem.”
Ara hanya diam tak bersuara beberapa saat, sebelum dirinya membalas tatapan Kanti yang sedari masih melihatnya dengan mata nya.
“Kamu ngerasa aneh enggak sih sama Gabril?” Ara berhenti dan memusatkan pandangan nya pada Kanti yang juga ikut berhenti.
__ADS_1
“Aneh gimana?” tanya Kanti bingung.
“Coba kamu perhatiin, dari awal dia masuk Gabril udah dapet masalah sama Nina and temen-temen nya yang ngeselin itu. Terus kamu inget kan malam party aku nemuin Gabril lagi berantem sama Nina, Arsya, Nadila, terus si Suzy. Dia bisa bikin mereka berempat babak belur.”
Kanti memasang kuping nya kuat, Ara akan benar-benar bercerita kepada Kanti.
“Terus hubungan nya sama Fahri, mereka berdua kayaknya udah lama saling kenal, aku pernah ngeliat mereka berdua di lapangan sekolah lagi ngomong sesuatu, terus aku ngeliat mereka berdua lagi di toko perlengkapan. Dan beberapa hari lalu, Gabril pergi ke tenda Fahri dan ngobrol lagi disitu, aku denger Fahri nanya-nanya seputar anak jalanan dan para beringas itu, sebelum Gabril nangis terus lari kenceng banget ke tenda dia.”
Kanti sedikit menganga sebelum mengeluarkan kalimat didalam mulutnya, Ara benar-benar memperhatikan Gabril selama ini, gadis itu serius dengan kata katanya pagi ini.
“Tunggu..kamu nguping pembicaraan mereka di tenda? Ara?”
“Enggak, bukan nguping, aku enggak sengaja lewat sana, aku lihat Viona lagi duduk sendirian dibawah pohon sambil baca buku, aneh kan ngeliat Viona ada di area tenda cowok sendiri, makanya aku samperin. Sebelum sampe dan negur dia, aku ngeliat Gabril sama Fahri lagi ngobrol disana.”
“You’re getting weird. Emang nya apa mau liat sampe kamu merhatiin Gabril belakangan?” Kanti melipat kedua lengan nya di dada.
Terkaan angin dingin kembali membasuh pakaian mereka dan mencoba masuk kedalam badan. Suasana hening sementara, Ara hanya terdiam mendengar pertanyaan Kanti.
Gadis dengan rambut pixie cut lengkap dengan arsiran warna ungu, Kanti tidak bergerak, menunggu mulut Ara yang masih gugup untuk mengucapkan sepatah kata.
Berulang kali Ara menggigit bibirnya halus, rambut sepanjang pundak yang sedikit keriting bergerak bebas dibuat angin pagi.
Kanti hendak berjalan, ingin melangkahkan kedua kakinya maju dan kembali berjalan diatas aspal jalanan desa yang kasar dan keras.
Langkah kakinya yang hendak terangkat dan maju kedepan kembali tertahan dan diam ketika Ara perlahan menggerakan mulut nya dan mengeluarkan patahan-patahan kata.
“Kamu pernah kepikir engg-enggak soal masa lalu Gabril, masa-masa sebelum dia pindah ke sekolah kita, penampilan nya yang mirip Viona berbanding tebalik sama sikap nya ke Nina.”
“Singgungan Fahri ke Gabril malam itu, ngebuat aku mulai nimbulin berbagai spekulasi aneh buat gadis itu. Aku ingin tau gimana kehidupan nya, kehidupan nya sebelum pindah kesini. Aku ingin tahu itu!”
__ADS_1