Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Sassi kecil


__ADS_3

Suara riuh ria kendaraan dan pejalan kaki melewati seorang gadis yang tertunduk diam di depan toko yang tua dan sepi, tatapan matanya kosong, seakan jiwa nya ditarik keluar dan berkelayangan di antara orang orang.


Matanya terkadang mengeluarkan tetesan air, berembun. Kini dia sadar kalau semua orang tidak lagi memperdulikan nya, termasuk orang tuanya, Sassi yakin betul kepercayaan dan kepedulian orang tua nya perlahan memudar.


Dia sudah tidak bisa merasa pelukan hangat orang tuanya itu lagi, pikirnya dia tidak bisa lagi menikmati suasana harmonis keluarga kecil nya itu, suasana harmonis itu perlahan tergantikan dengan berisik jalanan.


Sassi hanya bisa pasrah, ini pilihan yang sulit, dia harus memilih antara orang tuanya atau kebebasan nya, sikap mengekang dari orang tua membuat Sassi tidak bebas berekpresi dalam kesukaan nya.


Dia dipaksa menjadi orang lain di dunia miliknya sendiri, dengan berat Sassi memutuskan untuk keluar dari rumah yang dirinya anggap sebagai penjara.


Sekarang, dia harus mencari cara untuk bertahan hidup di dunia luar, tanpa orang tua, tanpa tempat tinggal, tanpa siapapun.


Dirinya kini harus mencari tempat berteduh, dia tidak bisa tidur di pinggir jalan malam ini, bukan karena malu ataupun takut, dia memikirkan cuaca yang akan terlihat di malam hari nanti.


“Kos murah, huftt. Tinggal dimana aku sekarang.” Sassi berjalan perlahan melalui sederet gang sempit penuh sampah berserakan, genangan air keruh membasahi sepatu hitamnya.


Berjalan menghampiri setiap wilayah, bertanya dibanyak kos yang terlihat tidak begitu mewah, uang nya tidak bisa membantu, namun kos kosan itu menawarkan harga diatas uang yang dia punya.


Dirinya hampir menyerah dan berfikir untuk tidur di gang sempit yang dia lewati, gadis itu tidak bisa menemukan tempat tinggal yang murah, dia hanya ingin atap untuk berteduh sembari menunggu pekerjaan yang akan datang.


Langit mulai memudar, kilauan matahari seakan menipis secara perlahan, awan awan gelap dan hitam mulai memenuhi angkasa, hujan akan turun.


Sassi berlari mencari bangunan dengan atap lebar, dia tidak ingin kebasahan, tidak ada baju ganti, tidak ada the hangat.


Di balik orang orang yang mulai membuka payung mereka, langkah kaki nya terhenti di sudut jalan, sebuah bangunan besar dan bertingkat mengalihkan perhatian nya.


Tidak, perhatian bukan tertuju pada bangunan itu, pandangan mengarah kepada selembar kertas yang ditempel di kaca pintu masuk, PEGAWAI BARU, MENGURUS ADMINISTRASI MEMBER.


Dirinya terlalu fokus melihat lembaran kertas itu, dia tidak sadar rintihan air mulai membasahi pakaian nya, tanpa pikir panjang, Sassi memasuki bangunan itu yang ternyata adalah tempat GYM.

__ADS_1


Dirinya merasa aneh dan bingung, entah mengapa kakinya seperti ditarik masuk, dengan wajah kebingungan dan juga tingkah yang aneh, membuat Sassi di datangi oleh seorang pria berbadan kekar.


Pria yang hanya memakai celana pendek dan tidak memakai baju itu mendekati Sassi, pria itu menurunkan alisnya terkadang, Sassi sedikit panik, bagaimana tidak tangan dari pria itu bahkan lebih besar dan tinggi dari badan Sassi yang mungil.


“Permisi..mbak, mau ada urusan apa yah?” tanya pria itu.


“A..anu, saya..aduh, emm..ini..” Sassi terbatah batah sambil menunjuk kearah selembar kertas yang menempel di pintu kaca.


“Ohh kamu mau tanya soal lamaran itu, bilang dong, ayo ikut saya.” Pria itu berjalan menaiki tangga menuju lantai 2. Disana ternyata pusat aktifitas dari tempat GYM ini.


Didominasi oleh pria, namun ada beberapa wanita disana, sekumpulan pria yang tengah menaikan barbel, berlari di treadmill.


“Okeh, nama nya siapa, tinggal dimana, dan kenapa mau kerja disini.” Pria itu duduk di sebuah bangku, tangan nya memegang pulpen hitam yang berada beberapa cm diatas kertas, menunggu jawaban Sassi.


“Emm, Sassi Antania, saya…rantau.” Sassi mengucapkan nya dengan cepat, gadis itu mengusap wajahnya, bagaimana bisa secara spontan bilang kalau dirinya anak rantau, padahal dia baru saja kabur dari rumah hari ini.


Suara sapaan dari terdengar dari balik punggung Sassi, satu lagi pria maskulin dengan pakaian bermotif pohon kelapa berwarna biru, “Bull? Orang didepan ku ini namanya Bull?”


“Seperti biasanya, saya lagi urus calon pekerja disini, kamu sendiri lagi ngapain, Oscar?”


Sassi tertawa kecil mendengar perkataan pria bernama Bull itu, bibir merah nya terbuka sedikit, nama panggilan dan badan kekar besar nya ternyata tak setimpal dengan cara berbahasa nya, dia sangat sopan.


“Owala, bakal ada pegawai baru nih,-” ucapan pria itu terhenti ketika dia melihat Sassi, pria itu langsung membuka kacamatanya dan melihat Sassi dengan cara yang aneh.


“Eh, kamu bukan nya Sassi? Iyakan, aku nonton fight terakhir kamu lho, pas kamu lawan Larisa!” Oscar sangat antusias dengan perkataan nya.


“Fight? Wanita ini fighter?” Sekarang Bull juga ikut ikutan memandangi Sassi, dua orang berbeda postur badan itu terlihat sangat fokus pada Sassi.


Oscar, rambut yang dikuncir, badan yang selayaknya pria normal, dan wajah nya yang tampan, serta Bull, pria berotot dengan rambut tipis.

__ADS_1


“Iya Bull, kemarin gue nonton dia, sayang sih, nih orang kalah.” Ujar Oscar.


“Kok kamu enggak bilang kalau jadi fighter di ajang jalanan itu.”


Sassi hanya tersenyum manis, gadis itu salah tingkah di depan dua laki-laki itu, namun sepertinya ketakutan nya tidur di jalan tidak akan terjadi.


“Udah lah Bull, terima aja, dia juga cewek toh, pasti bisa ngitung duit, cewek biasanya jago mtk.” Bull mengangguk pelan, kemudian membuka laci kecil di meja dan mengambil satu buah kunci.


“Kamu bisa ngitung? Bisa bela diri udah pasti, kamu fighter di tempat jalanan itu.”


“Ini..aku diterima.?” Sassi bertnya dengan lugu nya. “Yap, Oscar tidak pernah salah memilih, kamarnya di lantai 3, kamu bisa kerja mulai besok, sekarang istirahat ajah.”


“Enggak ada interview atau semacam nya.?” Sassi balik bertanya.


“Kita ini GYM, saya cuman butuh keahlian menghitung kamu, kamu akan ngurus member member disini, bayaran mereka, pemasukan, pengeluaran kita untuk beli atau renovasi ruangan.”


Sassi tidak bisa menyembunyikan senyum manis nya, bibir merah nya melebar perlahan, wajahnya sesekali memerah. Bull dan Oscar masih memperhatikan gadis yang baru mereka temui.


Sassi kemudian membungkukan badan nya sebagai ucapan terimakasih dan pergi menaiki tangga menuju kamar nya di lantai 3. Dia tidak perlu membayar kos, pekerjaan ini memang membuatnya harus tinggal disini setiap saat.


“Kalau diliat liat, cantik ya tuh cewek.” Ujar Oscar sembari menyenggol badan Bull dengan sikut nya, sedikit menyapu rambut tebal nya dengan tangan.


“Biasa aja, kamu berlebihan.” Bull menjawab dingin.


“Belum pernah punya cewek sih, jadinya enggak ngerti, tapi seriusan deh. Kamu pasti suka kan sama dia.”


Bull meninggalkan Oscar sendirian di lantai dua tanpa sepenggal katapun.


Sassi bisa bernafas lega, dirinya sudah mendapat tempat dan orang orang baik disekitar nya, dengan dua pria itu, dia akan merasa lebih senang disana, semoga

__ADS_1


__ADS_2