
Bell sekolah berdering keras seperti alarm pagi yang mengacaukan mata. Perlahan siswa dan guru berjalan keluar kelas dan membawa aura penat didalam diri mereka keluar.
Lapangan luas kini dikerumuni anak laki dengan bola tebal dan keras yang ditendang kesana kesini lincah. Bangku kantin penuh nyaris tidak tersisa, membuat orang yang tidak dapat kursi membawa makanan nya kedalam kelas.
Lorong juga sama, deretan siswa laki dan perempuan berjejer duduk dan merebahkan dirinya di lantai. Bermain ponsel, atau sekedar mengobrol.
Dua orang wanita perlahan memasuki koridor kelas yang ramai nyaris tidak bisa dilewati. Dua orang gadis dengan pakaian bela diri putih dan sabuk hitam, Gabril dan Isabel.
Orang orang yang sedang berada di koridor satu persatu memberi jalan kepada mereka berdua, kaki yang terkapar lemas di lantai kembali diangkat disaat kedua gadis itu berjalan mendekat. Orang orang yang melewati Gabril dan Isabel menepi sesaat sebelum kembali berjalan.
“Gila ya, sparing enggak pake aturan.” Gabril perlahan membuka lilitan sabuk hitam yang mengelilingi pinggang nya. Lengan nya menarik nya bersamaan dengan sarung tangan biru yang dilepas dari jari jari.
“Pelatih nya enggak dateng, jadinya diajar sama senior sekolah, kamu tau sendiri mereka enggak bisa apa apa kan. Jadinya Cuma sparing enggak jelas, mereka mah asik main hp.”
Campur Isabel menyapu noda yang menempel di lengan baju nya yang besar dan hampir menutupi sebagian lengan nya. Kedua matanya menatap Gabril pasrah.
Guru bela diri mereka tidak bisa datang hari ini, membuat semua tanggung jawab di pegang oleh senior sekolah. Namun semua orang tau senior sekolah tidak paham tentang materi taekwondo, yang mereka tahu hanyalah mukul dan nendang.
Karena itulah isi klub taekwondo hari ini hanyalah sparing selama dua jam sekolah. Membuat Isabel dan Gabril menggerutu disepanjang sekolah.
“Nanti malem kamu jadi ikut kan, perayaan ulang tahun sekolah.” Isabel membuang pandangan nya menuju lapangan olahraga yang masih dihuni oleh siswa laki dan bola mereka.
Kedua lengan nya memegang ujung bawah baju taekwondo putih yang dia kenakan dan menarik nya keatas melewati kepala dan rambut miliknya yang dikuncir panjang.
__ADS_1
Dari balik baju taekwondo nya terlihat kaos hitam polos. Lengan nya menarik karet hijau yang mengikat rambut pirang miliknya. Membuat rambut nya terurai bebas mengikuti terpaan angin yang mengelus lembut.
“Pengen nya sih enggak, cuman aku dipaksa sama anak osis gk guna diatas tadi. Jadinya terpaksa ikut, lagian juga itu cuman pesta kan Bel? Kenapa juga kita harus ikut coba.” Gabril membuang nafas kesal.
“Semua orang, npc sekolah juga diajak, orang orang yang masa sekolahnya Cuma dateng belajar pulang, ngobrol enggak apalagi bergaul. Lagian kamu kan tokoh publik sekolah, harus wajib dateng.”
Gabril mengacak-acak rambut ikal miliknya, kedua bola matanya berputar ketika mengingat dirinya cukup punya nama disekolah. Juara satu turnament taekwondo, melawan sepuluh sekolah lain, membuat Gabril menerima cukup banyak feedback ditambah dirinya yang seorang wanita.
Menambah banyak eksposure yang menyorot dirinya. Namun gadis itu tidak peduli dengan rentetan piala dan mendali emas yang menyangkut di leher dan lengan nya.
Dirinya mempunyai klub fighting malam yang tidak diketahui banyak orang, bahkan oleh kakaknya sendiri, Sassi. Dirinya berambisi mempertahankan posisi ke empat miliknya dari serbuan fighter lain disana.
Gabril juga menerima cukup banyak uang dari klub fight ilegal itu, membuat Gabril tidak terlalu sering meminta uang kepada Sassi. Bahkan wajahnya yang terkadang babak belur di pagi hari tidak membuat gadis itu kapok.
“Lagian lumayan kan, ngeliatin ladang pembulian disana. Orang orang yang enggak punya temen atau kekuatan bakal dirundung disana.” Isabel menatap Gabril tajam.
“Kasian sebenernya, makanya aku males ikut acara beginian, sekalinya ikut paling kayak tahun kemarin. Ngabisin minuman di kelas.”
“Besok beda Gabril, ada anak kumpulan anak baru kan disekolah kita. Pindahan dari luar negri, empat orang. Mereka buat onar tempo hari kebelakang. Kamu tahu kabar siswa yang kejebak semaleman di toilet? Katanya itu perbuatan mereka.”
Isabel merapikan baju hitam nya dengan permen karet kenyal yang masih dikunyah nya. Entah kenapa gadis berambut pirang itu terlihat menikmati topik yang dia bicarakan. Mulutnya beberapa kali tersenyum tipis.
“Bukannya itu gara-gara satpam yang kunci pintu nya enggak pake ngecek lagi?” Gabril mengerutkan dahi. “Itu alibi sama kabar angin biar derajat sekolah enggak turun. Namanya Mami kalo enggak salah, tuh orang tipikal silver spoon, orang tuanya donatur sekolah. Ngebuat anaknya bisa bebas ngapain aja.”
__ADS_1
“Tapi aku yakin, dia enggak akan nyentuh kelas kita. Dia jelas enggak berani bentrok sama seorang Gabril haha.” Isabel tertawa kencang di akhir kalimatnya, gadis itu sangat semangat membahas anak yang baru saja pindah ke sekolah mereka.
Namun tidak dengan Gabril, gadis itu membisu diam mendengarkan Isabel yang kini masih tertawa. “Silver spoon ya..tipikal orang kayak dia kuat cuman karena orangtuanya kan.” Gabril tengah membayangkan sosok Mami yang diceritakan Isabel.
“Ngunciin anak perempuan pas baru masuk sekolah, dia pasti punya temen kan?”
Gabril kembali menatap Isabel serius.
“Pastinya, orang orang yang deket sama Mami katanya sih aman dari perundungan, padahal disana mereka jadi babu juga. Yang jelas pengikutnya banyak.”
“Menurut kamu kita harus hati-hati?” Isabel membuka kedua bola matanya lebar, alisnya turun sedikit dengan perlahan, kedua lengan nya yang sedari tadi dilipat di dada kini memegangi pinggang nya gagah.
“Kamu takut Gab? Really? Gabril takut sama begituan?”
Gabril mengusap wajahnya, rintihan nafas sedikit dikeluarkan dari sela sela jari yang terbuka.
“Bukan, tapi mereka banyak lho, dan kita cuman berdua, walaupun emang di sekolah ini enggak ada geng geng kayak modelan gitu, tapi tetep aja kan, mereka bisa nyamperin?”
“Gabril ayolah, kita enggak bakal kena, mereka cuman ngelakuin aksi nya ke siswa kutu buku modelan gitu, anak cupu yang enggak bisa apa-apa. Lagian kita ada eskul taekwondo, dan kamu bisa dibilang penyumbang mendali emas sekaligus orang yang udah ngeharumin nama taekwondo di sekolah.”
Gabril menggeleng cepat mulutnya sedikit berdesis saat ingin mengucapkan sepatah kata. “Okeh Isabel, kamu tau kan kasta paling tinggi di sekolah dipegang sama siapa. Urutan nama sesuai sama skill akademik dan non akademik. Urusan akademik udah dipegang sama Deborah, anak perempuan paling pinter disekolah.”
“buat non-akademik ada aku, aku udah ngebawa berbagai perhargaan ke sekolah kita untuk ajang bela diri. Kalau kita lihat sifat Mami sekarang, mungkin gk sih dia bakal nyoba ngeruntuhin kita berdua, Deborah sama aku?” Gabril diam membeku, melihat Isabel dengan tatapan penuh pertanyaan.
__ADS_1