
Tangisan terus dikeluarkan, terlebih oleh kakak tersayang. Gadis beristirahat terlalu cepat, saksi kejadian malam melihat batu nisan bercorak hitam dengan tulisan kecil.
Sekolah tidak menutup diri, mengungkap identitas dua murid mereka, Ara dan Akma. Meskipun orang orang sudah mulai meninggalkan pemakaman. Tetapi sahabat nya tidak.
Viona, Kanti, Fahri, Haikal, Nina, Doni. Mereka saksi malam itu. "Coba aja kita enggak telat naik." Kanti perlahan mengeluarkan kata.
Fahri hanya melihat sekilas, gadis yang dia sukai harus pergi dengan cara seperti ini. Andai saja dia tidak bertengkar, pasti mereka berdua masih bisa bertukar kata.
Ara dan Larisa membisu ketika masuk kedalam mobil polisi, lengannya dijerat dibalik punggung. Menunduk di sepanjang jalan disaat semua mata mengarah kepadanya.
Tetapi Akma tidak ditemukan, bukti chat keduanya di ponsel Gabril membuat pria kharismatik itu menjadi buronan pagi ini.
Fahri masih terpaku tanpa gerak, matanya berkunang, mencoba menahan tetesan air yang hendak memancar keluar. "Kita harus cari, dia enggak boleh kabur gitu aja. Perbuatannya harus dibayar setimpal."
Fahri menatap teman dibalik punggung dan perlahan menggeser kaki keluar area pemakan yang masih diisi ratapan Sassi dan Rio di sampingnya.
__ADS_1
Viona membisu di pijakan nya. Tidak bergerak, bahkan satu senti, masih menatap hal didepan matanya. Sahabat terbaik yang baru dia temui beberapa bulan lalu kini sudah kembali meninggalkan dirinya.
Satu satunya orang yang bisa membela nya di luar rumah. Memberikan perasaan tentram dan senang. "Aku sendiri lagi, kalau waktu itu aku keluar kamar pas ngeliat kamu." Pengelihatan nya buram diiringi kakinya yang semakin berat untuk menopang badan.
Hari sekolah sudah datang kembali, melupakan kejadian gelap kemah. Semua guru dan siswa lain terlihat sudah melupakannya.
Libur dua minggu setelah pemakaman Gabril, membuat mereka kembali beraktifitas normal layaknya hari biasa.
Tetapi Viona masih tertunduk diam di meja miliknya. Menatap kursi kosong di samping yang biasanya diisi oleh gadis yang akan mengusap rambut pendek Viona ketika datang.
Nina berulang kali mencoba menghibur Viona sedari tadi, namun gadis berkacamata itu hanya diam seribu kata.
"Aku mungkin enggak bisa gantiin, dan aku juga sering kasar sama kamu. Tapi malam itu enggak tau kenapa aku ngerasa bersalah sama kalian, izinin aku buat gantiin posisi Gabril, walau enggak bisa sepenuhnya. Seengakny kursi kosong disamping kamu."
***
__ADS_1
HibVii Note
Okeh, pertama author mau bilang terimakasih banyak untuk kalian para pembaca dan orang orang yang sudah suport author sampai akhirnya bisa nyelesain cerita satu ini.
Suatu pencapaian kecil bisa nyelesain cerita dari awal mulai sampai selesai, mengingat kumpulan draft enggak selesai yang numpuk di file manager.
Untuk kalian yang sudah jadiin Gabril favorit dan komen juga, kalian palingan the best. Author bisa lompat lompatan sendiri kalau ada notifikasi like atau komentar. Kayak dapet uang segepok.
Dengan chapter ini author juga mau kasih pengumuman novel selanjutnya, akan di post beberapa minggu kedepan dan akan author kasih info lebih dulu di instagram @hibvii_id
Semoga kalian suka sama novel baru yang author tulis di noveltoon.
Akhir kata terimakasih banyak untuk pembaca dan noveltoon yang bisa memberikan kesempatan untuk orang yang ingin memberitahu cerita didalam kepalanya kepada pembaca luas.
Tunggu cerita selanjutnya oleh HibVii.
__ADS_1