Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
head blow


__ADS_3

Suara sirine ambulan berbunyi sepanjang jalan, mengarungi jalanan yang kosong pada malam hari, ketika orang itu hanya bisa berharap kalau kondisi gadis itu tidak semakin parah.


Malam yang harusnya menjadi menyenangkan ini berubah menjadi malam yang sangat mengerikan.


“Kok bisa sih, dia giniin?” tanya Fahri sembari menatap Viona dan Ara.


“Aku enggak tau, tadi Gabril diajak sama mereka, aku udah coba tahan tp enggak bisa.” Ujar Viona.


Tatapan Fahri beralih kepada Ara, laki laki itu menatap Ara dengan tajam. “Elo kemana aja Ra? Kan lo tau Viona enggak bakal berani ngadapin si Nina.”


“Gue tadi sibuk ngurusin panggung Fahri, gue enggak liat mereka berdua, tiba tiba Viona nyariin gue terus bilang masalah Gabril, dan untung aja kita pas pasan sama lo.”


Fahri menatap Gabril dengan cemas, walaupun dia hanya mengenal Gabril sebatas di pelajaran olahraga, tetapi raut wajahnya menunjukan kalau laki laki itu benar benar cemas.


Perjalan menuju rumah sakit berjalan lancar, sampai didepan pintu rumah sakit, Viona dan Ara langsung memanggil dokter dan membawa Gabril masuk salah satu kamar.


Ketiga orang itu hanya bisa sabar menunggu didepan pintu ruangan. “Tuh cwek emng kebangetan, coba aja dia cwok, udah gue abisin kali!” seru Fahri geram.


“Eh iya, kita belum kabarin kakaknya, aku telepon dulu sebentar ya” ujar Viona.


Viona merogok kantung sweater nya dan mengeluarkan handphone mungil miliknya, dengan cepat dia mencari nomor Sassi dan segera, menelpon nya.


BEEPPP…BEEPPP…


“Ha..halo, ini kakaknya Gabril?”


“Emm iya, ini siapa ya?”


“Saya Viona, temennya Gabril kak.”


Disela sela pembicaraan Fahri tertawa tawa kecil melihat perbincangan Viona, “Kenapa lo ketawa tawa.” Tanya Ara.


“Temen lo itu, gaya ngomong nya sopan banget, terlalu sopan malah, hehe masih ada taunya orang kayak dia.”


“Yahh mungkin emang dari sananya, setelan pabrik.”


“Hahaha, parah lo.” Ujar Fahri sembari tertawa kecil.


***************


Ruang UKS sekolah.


“AWW..PELAN PELAN WOY, SAKIT TAU!” teriak Suzy sembari memegangi telinga nya yang berlumuran darah. “Tahan dikit napa sih, kalo enggak dituangin ini darah lo entar keluar terus, lo mau keabisan darah?”

__ADS_1


“Jangan nakut nakutin ye lo.”


Nadila kembali mengolesi obat cair di telinga Suzy, di sudut lain Arsya juga membalut beberapa luka di wajah Nina dengan plaster plaster kecil.


“Gila tuh cwek, mau bikin gue mampus apa, bisa ngelawan ternyata, padahal kita udah berempat, tch payah lo semua.” Seru Nina kesal.


“Jangan nyalahin kita dong, kan lo juga kalah tadi, justru kita kalah karna kelamaan bantuin lo tau gk.” Jawab Nadila.


“Kok malah elo yang sewot sih Nad.”


“Yaa sekarang coba lo pikir, tadi kita ketahuan Fahri sama si Ara, mereka berdua entu anak anak yang punya pengaruh langsung disekolah, gimana kalo mereka laporin kita ke guru?”


“Iya juga apa kata Nadila, apalagi kalo liat ekpresi mukanya si Fahri, ilang udah harapan lo buat pacaran sama tuh cwok.” Tambah Arsya.


“Suttt, udeh diem lo pada, telinga gue lg sakit, dengerin lo pada ngoceh bukannya sembuh bisa budeg sebelah gue.”


Kembali di rumah sakit, setelah berhasil menghubungi Sassi, Viona dan yang lain masih menunggu dengan rasa khawatir didepan ruangan.


Mereka bertiga tidak tahu harus melakukan apalagi, sudah 45 menit menunggu, tetapi masih belum ada kabar, namun akhirnya pintu ruangan terbuka, dari balik pintu keluar seorang dokter perempuan dengan menggunakan pakaian putih dan membawa beberapa peralatan.


Fahri dengan cepat berdiri dan menghampiri dokter itu, dia ingin menanyakan bagaimana kondisi Gabril, “Ehh dok kondi-,” belum sempat bicara Viona menghampiri mereka berdua dan langsung membombardir dokter itu dengan pertanyaan nya, dan memotong perkataan Fahri.


“Dok teman saya keadaan nya gimana, dia baik baik aja kan dok, atau ada yang luka, lukanya serius enggak dok, terus kalau lukanya ser-,”


“Viona Viona, kamu tenang yah, jangan kayak gitu, yang cemas bukan cuman kamu.” Ucap Ara lembut.


“Teman kalian itu baik baik saja, dia hanya mengalami luka memar dan goresan sedikit di wajah dan tubuhnya.” Ujar dokter.


“Tapi dok kenapa Gabril pingsan tadi?”


“Oh itu, sepertinya dia sedikit kekurangan oksigen, mungkin sempat sesak nafas tapi kalian tenang aja yah, untuk ukuran perempuan teman kalian itu sangat kuat, jadi kalian tenang saja.”


Nafas lega berhasil berhembus keluar, rasacemas itu pergi menjauh setelah mendengar kabar baik dari dokter tadi, Viona dengan lemas ambruk ketempat duduk dengan perasaan lega, mengetahui sahabatnya itu dalam kondisi baik.


“Baik kalau begitu kalian bisa masuk kedalam, saya mau lanjut dulu ya.”


“Terima kasih dok.”


Fahri, Ara, dan Viona berjalan memasuki kamar, sampai didalam, mereka membuka tirai dan melihat Gabril yang terbaring dengan mata terbuka. Ya gadis itu sudah siuman.


“Gabril, kamu enggak papa kan, syukur deh.” Seru Ara.


Gabril hanya mengangguk dan pandangan matanya sedang mencari sesuatu, sahabatnya. Viona kemudian muncul dari balik punggung Ara, melihat hal itu Gabril bisa mengeluarkan senyum nya kembali.

__ADS_1


“Lho Fahri, lo juga disini.” Tanya Gabril.


“Iya, gue bantuin Viona sama Ara buat bawa lo kesini. Emang nya tadi kok bisa sih jadi begitu?” tanya Fahri.


“Yahh biasalah, dia dia pada mau bales dendam gara gara gue ngehajar Nina waktu itu, tp tenang aja, walaupun gue masuk RS seengaknya gue bisa bikin mereka berempat babak belur juga, lo liat gk telinga si Suzy Suzy itu? Nah itu gara gara gue.”


Fahri tertawa keheranan melihat tingkah laku gadis yang baru dia kenal ini, “Gila nih cwek, dia enggak ngerasa takut atau sakit? Disaat kayak gini dia masih bisa ketawa, unik inih orang.” Gumam Fahri dalam hati.


“Sekarang yang penting lo baik baik aja Gabril.”


KREKK…


Suara pintu terbuka, terdengar suara langkah kaki disertai suara suara familiar, itu adalah Sassi dengan Rio disebelahnya.


“Gabril Gabril Gabril…..kamu enggak papa kan, mana yang luka, bisa jalan kan, apa perlu kakak telepon mama atau papap?” histeris Sassi.


“Kak apasih, aku sehat kok, cuman kegores sedikit.”


“Syukur deh kalau gitu, tapi kenapa bisa begini sih?”


“Panjang kak ceritanya, eh kakak ngapain ajak Rio segala sih, aku enggak papa loh kak, kalau rame gini kan aku jadi malu kak, kakak jang-,”


PUSHH…


Pukulan kecil dari tangan Sassi tepat sasaran mengenai pipi Gabril.


“OUCHH…”


“Kamu tuh kenapa sih, masih mending Rio mau anterin kakak kesini, kamu bukannya terima kasih malah ngomel.” Seru Sassi.


“Kak…ak…aku masih sakit loh kak. Ouch..kakak mukul ke..kencengan kak.” Ucap Sassi sembari meringkuk kesakitan memegangi pipi nya.


“Eh iya iya, maaf maaf lagian kamu sih bikin kakak emosi.”


Fahri dan yang lain hanya bisa tertawa melihat itu.


“Oh iya terimakasih banyak ya buat kalian yang udah tolongin Gabril, kakak enggak bisa ngasih apa apa selain ucapan terimakasih."


“Santai aja kak, kami emang temen deketnya Gabril, jadi enggak perlu kak, liat Gabril baik baik aja kita udah seneng kok.” Ujar Ara.


“Kalian ini baik banget.”


Mereka semua kemudian berbincang bincang mengenai kejadian yang dialami Gabril malam ini, dengan beberapa roti dan minuman hangat yang dibawa oleh Rio.

__ADS_1


__ADS_2