Gabril - Mahkota Atau Arena

Gabril - Mahkota Atau Arena
Langkah dalam gelap


__ADS_3

Kelopak mata perlahan terbuka, alisnya terangkat sedikit disaat kegelapan tajam langsung menusuk kedalam. Gadis itu tidak mengetahui dimana dirinya.


Meskipun kesadaran nya perlahan kembali, namun tatapan matanya masih tidak bisa menangkap apapun, bahkan badan nya sendiri. Erangan samar terdengar dari ruangan gelap tanpa penerangan.


Lantai tanpa alas, Gabril terbaring lemas. Kulitnya menyerap semua aura lantai yang sangat dingin hingga kulitnya mengeras. Kepalanya mencoba menolak ke berbagai arah, namun lehernya terasa semakin nyeri ketika bergerak.


Gabril mencoba mencari keseimbangan, berapa keras dirinya berusaha menopang badan nya dengan kaki selalu gagal. Ada yang berbeda. Lengan nya kaku tanpa rasa, tidak bergerak berdiam diri.


Kedua pergelangan tangannya terikat. Ikatan yang kuat semakin dirinya mencoba berontak, tali tebal melilit kedua lengan nya. “D…dimana?” erangan pelan Gabril merintih lemas.


Dari balik matanya perlahan dia melihat kedipan lampu berwarna hijau terang yang dia duga berada di pojok ruangan. Gabril tidak memikirkan apa yang terjadi sebelumnya, dirinya hanya mengingat ada seorang yang menyergap dari belakang.


Nafas tidak beraturan keluar bergantian melewati hidung dan mulutnya. Detak jantung nya berdetak kuat diikuti kepalanya yang semakin sakit saat Gabril mencoba menginga kejadian.


Perlahan tapi pasti, gadis itu bangkit berdiri, dengan langkah kaki terengah-engah Gabril berjalan mendekati satu-satunya sumber cahaya di ruangan yang terasa cukup luas. Dirinya masih mencoba menggerakan lengan nya keberbagai penjuru arah, mencoba melonggarkan sepikat tali yang melilit.


Dirinya sampai didepan. Lampu hijau berkedip itu lebih terang jika dipandang dari dekat. Paparan nya cukup untuk menerangi sebagian tubuh Gabril yang kini terlihat kotor oleh cipratan tanah.


“Mana tombol lampunya?” Gabril menatap lampu hijau yang terletal di box berwarna putih yang menempel di tembok. Beberapa tombol tertera, bentuk kotak, bulat atau saklar.


Gabril mengumpulkan keberanian sebelum menekan tombol kotak berwarna hijau didepan, sesuatu bisa saja muncul dari belakang tubuhnya. Ruangan ini gelap, sangat gelap.


KRENG...


Gabril menggunakan kening nya untuk menekan tombol hijau diikuti lampu beberapa lampu gantung yang menyala, hanya di ruangan itu.


Cercah lampu di atas mampu menerangi seluruh ruangan yang terlihat seperti ruang kelas tidak diurus, tumpukan bangku kayu dan meja berserakan dimana-mana.


Hanya lampu di ruang kelas itu yang menyala, lorong panjang disamping pintu keluar masih diselimuti kegelapan total. Gabril menelan ludah, keringat dingin perlahan keluar dari pori pori. Dirinya mencari benda tajam untuk melepaskan ikatan di kedua lengannya.


Tatapan matanya terpaku oleh ujung kursi yang di tumpuk terbalik, ujung kursi kayu itu sedikit tajam dan cukup untuk mengelupas tali yang melilit lengan nya.


Dua menit lewat…lengan Gabril kini bisa bergerak bebas disaat putusan helai tali putih itu berjatuhan cepat menuju lantai. Dengan cepat dirinya berjalan membuka pintu kelas.


Lorong panjang tanpa ujung berada tepat dihadapan nya. Gabril tidak memperdulikan luka memar di leher dan lengan miliknya, ditambah ponsel nya yang hilang entah kemana.

__ADS_1


Gadis itu menarik nafas panjang sebelum membuangnya kuat. menghilangkan rasa takut dan cemas. Gabril perlahan memasuki hamparan lorong tanpa cahaya perlahan. Berkat lampu kelas yang dia nyalakan. Gabril masih bisa melihat bayangan samar benda didepan nya.


Kepalanya dipenuhi rentetan tanda tanya. Siapa orang yang menyergap dirinya dari belakang, kemana Akma dan Ara, apa mereka juga sedang terikat di ruang kelas lain di gedung ini.


Gabril lagi lagi menghela nafas panjang. Dirinya terus berjalan melewati tirai hitam yang mengelilingi. Tanpa cahaya ataupun teman disamping nya, hanya gadis itu seorang.


***


VIONA – BEBERAPA JAM LALU


Viona membuka sedikit pintu kamar miliknya agar hawa dingin masuk di kamar yang panas. Dirinya mematikan lampu dan hanya memasang lampu belajar kecil disamping.


Lengan mungil nya mengambil buku tebal dari balik tas, gadis itu berulang kali merapikan kacamata sebelum membuka satu persatu bab didalam buku.


Hentakan bacaan nya berhenti, pandangan nya tertuju ke celah pintu kecil yang sengaja tidak dia rapatkan, raut wajahnya berubah aneh, kening nya berkerut jelas.


Dari balik kamar nya Viona melihat Gabril yang dengan perlahan keluar dari kamar tidur nya, menutup pintu sangat pelan hingga tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Viona memperhatikan langkah Gabril, menjinjit pelan tanpa decitan sepatu melewati ruang tamu layaknya ninja yang sedang menyusup.


Viona ingin keluar dari kamarnya dan menanyakan kemana sahabatnya itu akan pergi, namun niatnya perlahan sirna ketika dirinya melihat tingkah Gabril yang aneh.


Beberapa menit berlalu, Gabril menutup pintu lagi lagi tanpa menimbulkan suara, Viona beranjak keluar dari kamarnya. Gadis berkacamata itu memakai jaket dan mengambil sepasang sendal.


Lengan nya menyentuh gagang pintu dan ingin memutar nya cepat, tetapi gerakan tangan nya tiba-tiba terhenti. Jaket miliknya ditarik kebelakang sehingga badan nya tertahan. Viona menoleh, ternyata Kanti yang sedang terbaring di sofa memegang ujung jaket Viona kuat. Raut wajah Kanti sangat aneh, menatap Viona tajam tanpa kedipan di matanya.


“Gue juga liat, Gabril tadi ngendap ngendap keluar.” Kanti bangun dari sofanya dan terduduk sembari menarik Viona kehadapan nya. “Terus kenapa enggak kamu tanya? Ini udah malem lho.” Viona balik bertanya.


Kanti menggeleng. “Jangan, gerak-geriknya beda. Kalau cuman mau keluar entah ke warung atau kemana harusnya enggak usah sampe ngendap ngendap gitu.” Kanti mengusap wajahnya perlahan membersihkan alis matanya yang menempel satu sama lain.


“Gue tadi masih belum tidur, gue lagi ngerenung sambil nutup mata, gue liat Gabril keluar, gue juga niatnya mau tanya. Tapi pas liat sikap nya barusan gue lebih milim pura-pura tidur.”


Viona memandang kaca jendela yang sedikit tertutup hordeng. Lidah nya berulang kali membasahi bibir yang sedikit pecah. “Hubungin Fahri sama Nina.” Kanti beranjak dari sofa empuk yang sedari tadi dia peluk.


Viona dengan cepat membuka halaman kontak di ponsel nya, dirinya mencari nama Fahri. Tanpa berlama-lama Viona menekan tombol panggilan.


***

__ADS_1


FAHRI


Haikal dan Dony sedang asik memainkan lantunan nada indah disaat Fahri sedang terbaring lemas menatap taburan bintang di langit.


Drett…drettt… sayup getar ponsel Fahri. Pria itu menoleh santai, mengambil ponsel nya yang sedang dia taruh di samping bantal diatas alas kecil seperti terpal.


“Hah? Enggak salah Viona nelpon jam segini.” Ujar Fahri kebingungan. Haikal sontak menghentikan jemarinya dari senar gitar yang ada di pangkuan, diikuti Dony yang berhenti bernyanyi.


“Iya Vi, kenapa nelpon malem gini?”


^^^“Fahri, maaf ganggu, tapi ada hal penting banget.”^^^


“Hal penting apa? Tugas apa gimana?”


^^^“Gabril tadi keluar dari rumah.”^^^


Fahri langsung berdiri tegak, badan sedikit kekar nya terlihat samar di baju tipis yang dia pakai.


^^^“Iya, tadi Gabril keluar dari rumah sembunyi-sembunyi, Kanti sama aku ngeliat, kita berdua khawatir dia mau ngapain malem malem kayak begini, makanya Kanti nyuruh hubungin kamu.”^^^


“Keluar diem diem? Maksudnya? Bisa aja kan dia ke warung atau cuman jalan-jalan.”


^^^“Enggak Fahri, aku kenal Gabril udah berbulan bulan, tadi tuh dia ngendap ngendap keluar, nutup pintu pelan banget, ngelangkah enggak bersuara.”^^^


“Okeoke, sekarang lo mau gimana?”


^^^“Kita ketemu di perempatan deket sawah. Tau kan?”^^^


“Oke, gue sama anak-anak jalan sekarang.”


Beep….


Haikal dan Dony menghampiri Fahri dengan wajah penuh keheranan. Kedua manatap Fahri yang terlihat sedikit panik. “Kenapa? Kok tegang?” Haikal menaruh gitar besar di balik tenda. “Pake jaket lo pada, abis itu ikut gue. Gabril kabur dari penginapan.”


Haikal dan Dony kini membuka matanya lebar. “Kabur?” pertanyaan singkat Dony membuat Fahri mengacak-acak rambutnya pelan. “Kata Viona sama Kanti, Gabril diem-diem keluar, katanya abis nerima telfon. Udah enggak usah banyak tanya deh.”

__ADS_1


Fahri segera membungkus badan nya dengan jaket tebal berwarna hijau gelap, diikuti oleh Haikal dan Dony di belakang. Mereka bertiga memakai sepatu tebal dan perlahan memasukan senter serta tongkat besi pendek kedalam saku jaket dan celana.


Haikal dan Dony mengawasi daerah kemah, semua peserta sudah terlelap, hanya mereka bertiga.


__ADS_2