
“Tuan, mau ke mana?” tanya Anton kepada sang bos.
“Kamu ingat dengan wanita yang sedang merapikan rok model?” tanya Firdaus.
“Ya, saya ingat. Tapi wajahnya tidak terlalu jelas, karena tertutup rambut. Kenapa?” tanya Anton.
“Wanita itu, saya harus temui wanita itu,” geram Firdaus.
“Untuk apa? Jika Tuan pergi ke sana menemui wanita itu, saya takut akan menjadi sebuah gosip. Saat
ini Tuan sedang menjadi perhatian dari semua karyawan,” ujar Anton.
Firdaus menghela napasnya dengan kasar. Dia hampir saja melupakan hal tersebut, untungnya dia memiliki asisten yang sangat cerdas dan cepat tanggap.
“Kamu benar. Kalau begitu, bawa wanita itu ke hadapan saya malam ini juga,” titah Firdaus yang jelas-jelas tak ingin di bantah.
“Malam ini juga?” ulang Anton.
“Ya, malam ini juga,” geram Firdaus dan menatap tajam ke arah sang asisten.
“Baiklah, Tuan. Saya akan segera membawa wanita tersebut,” ujar Anton sambil membungkukkan sedikit badannya.
“Ah ya, jangan lupa kamu memesan kamar untuk di hotel untuk aku. Kabari secepatnya setelah kamu memesan kamar dan jangan lupa membawa wanita penjual nomor ponsel itu ke kamar itu,” geram Firdaus.
“Tuan mau bermalam dengannya?” tanya Anton yang mana sebenarnya dia mengetahui, jika sang bos tidak suka bermain dengan perempuan.
“Itu bukan urusan kamu. Lakukan saja apa yang aku perintahkan,” titah Firdaus dengan geram.
“Baik, Tuan,” ujar Anton dan kali ini benar-benar berlalu dari hadapan sang bos.
“Kali ini kamu tak akan bisa pergi ke mana-mana lagi, dasar waniat penjual nomor ponsel,” gerutu Firdaus sambil menatap gedung-gedung tinggi yang ada di seberang gedung miliknya.
*
Anton baru saja mengirimkan pesan kepada sang bos, jika dirinya telah memesan sebuah kamar hotel yang jaraknya lumayan jauh dari perusahaannya. Pria itu sengaja memesan hotel yang jauh karena tidak ingin jika para wartawan ataupun karyawan melihat jika sang bos ke dalam hotel, apalagi bersama dengan karyawan mereka sendiri.
Setelah mengirimkan pesan kepada sang bos, Anton pun bergegas menuju studio pemotretan milik Popo.
“Maksud Pak Anton Milea?” tanya Popo.
“Jadi namanya Milea?” tanya Anton.
__ADS_1
“Ya, jika yang Pak Anton maksud adalah wanita yang sedang merapikan rok saat Tuan Fir datang, maka gadis itu adalah Milea,” ujar Popo memberi tahu.
“Ah ya, dia, Milea,” ujar Anton akhirnya. “Jadi dia masih gadis?” tanya Anton dengan alis terangkat sebelah.
“Tentu saja, bahkan dia tak pernah berpacaran,” kekeh Popo. “Apa Pak Anton menyukai Milea?” bisik Popo
dengan tersenyum penuh arti.
“Hah? Oh, itu bukan urusan anda. Sekarang, panggilkan saja gadis yang bernama Milea itu,” titah Anton.
“Baiklah, tunggu sebentar,” ujar Popo dan mencari keberadaan Milea di ruang ganti pakaian.
“Lani, mana Milea?” tanya Popo.
“Milea? Bukannya dia baru saja pulang?” ujar Lani kepada Popo.
“Benarkah? Kapan? Atas izin siapa?” tanya Popo dengan kening mengkerut.
“Kan Popo sendiri yang memberi izin,” jawab Lani.
“Benarkah? Ah, sepertinya aku butuh healling agar kepalaku tidak setres,” gumam Popo dan kembali menemui Anton.
“Kenapa?” tanya Anton.
“Itu di karenakan Milea baru saja pulang,” jawab Popo.
“Pulang?” tanya Anton, pria itu pun melirik ke arah jam tangannya. “Ini belum waktunya jam pulang, kenapa dia pulang?” tanya Anton dengan nada tak senang.
“Jangan marah-marah dong, Pak Anton. Milea itu tadi ternyata sudah izin sama saya untuk pulang cepat, karena dia sedang tidak enak badan,” ujar Popo sambil membela bahu lebar milik Anton, sehingga membuat pria itu bergidik geli.
“Jangan sentuh-sentuh,” cibirnya sambil menepis tangan Popo dari tubuhnya.
“Sentuh dikit aja gak boleh. Nanti di sentuh banyak malah minta nambah,” gumam Popo yang mana membuat
Anton semakin bergidik geli.
Pria itu pun berdiri dan meninggalkan studio foto tanpa satu patah kata pun.
“Pak Anton mau ke mana? Gak mau ngeteh dulu gitu sama saya?” ujar Popo dengan sedikit berteriak manja.
“Gak sempat,” jawab Anton berteriak. “Dih, najis banget gue harus ngeteh sama dia,” geram Anton sambil menepuk-nepuk bahunya yang di pegang oleh Popo, seolah sedang membersihkan jejak tangan dari pria gemulai tersebut.
__ADS_1
Di tempat lain, Firdaus menggerutu kesal saat mendapatkan kabar dari sang asisten, bahwa wanita si penjual nomor ponsel telah meminta izin untuk pulang cepat.
“Kali ini kamu bisa lolos, tapi tidak untuk waktu yang lain,” geram Firdaus sambil memukul meja.
Firdaus yang sudah berada di dalam kamar hotel pun menggeram kesal, pria itu melempari semua bantal yang ada di atas tempat tidur.
“Rencana aku kali ini mungkin saja gagal, tapi tidak untuk di waktu selanjutnya,” geram Firdaus yang bergegas mengambil kunci mobil serta dompet miliknya. Pria itu pun berniat untuk meninggal kan kamar hotel tersebut.
*
Milea menghela napasnya pelan, gadis yang berwajah imut itu pun berjalan menyeberangi jalan raya menuju gerai ponsel pinggir jalan milik sang sepupu yang juga sekaligus sahabat baiknya.
“Kenapa lo?” tanya Andin, “Kusut amat tu wajah?”
Milea menatap sang sepupu dengan tatapan letihnya. “Gila .. gila .. gila .. hari ini gue mengalami kejadian yang amat sangat tergila dalam hidup gue,” lirihnya dengan lesu.
“Kenapa?” tanya Andin penasaran.
“Lo masih ingat dengan pria tampan yang terakhir kali gue jual nomor ponselnya?” tanya Milea.
“Hmm, kenapa memangnya?” tanya Andin balik.
“Pria itu adalah pemilik perusahaan di mana tempat gue bekerja,” ujar Milea dengan menghembuskan napas lelahnya.
Andin membuka mulutnya dan benar-benar terkejut mendengar apa yang baru saja Milea katakan. “Lo lagi
gak ngigau kan?” tanya wanita yang sudah menjadi sahabat baik Milea selama hidup gadis itu.
“Kalaugue ngigau, gak mungkin juga gue berada di sini saat ini dan menatap lo dengan mata terbuka lebar,” kesal Milea yang mana membuat Andin terkekeh.
“Lo kok ketawa sih?” tanya Milea dengan kesal.
“Gimana gue gak ketawa? Nasib lo kali ini benar-benar sial,” kekeh Andin dengan puas menertawakan sang
sepupu.
“Sialan lo, bukannya prihatin malah ngetawain gue,” cibirnya dengan kesal sambil menendang kursi yang di duduki oleh Andin.
“Rasain, siapa suruh lo jahil banget jual nomor ponsel orang. Udah gitu mahal pula lagi harganya, gue aja sampai gak habis pikir lo jual tuh nomor ponsel sampai lima juta rupiah ke satu orang,” ujar Andin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Namanya juga gue butuh duit,” lirih Milea dengan lesu dan merebahkan tubuhnya di sandaran kursi.
__ADS_1