
Milea pun menunggu Firdaus yang sedang memesan makanan. Gadis itu pun memainkan ponselnya untuk
menghilangkan rasa bosan.
Ceklek ...
Mile melirik ke arah pintu mobil yang di buka.
“Sudah?” tanya Milea.
“Hmm,” jawab Firdaus dengan gumaman dan melajukan mobilnya menjauh dari restoran tersebut.
“Jadi Bapak belum makan malam?” tanya Milea membuka percakapan untuk menenami perjalanan mereka.
“Iya, lagi pula kamu kenapa pulang? Kenapa gak tidur di apartemen aja?” tanya Firdaus.
“Baju saya kan gak ada di apartemen, Pak. Jadi saya sengaja pulang untuk mengganti baju saya. Lagian udah asem juga bajunya, jadi gak mungkinlah saya pakai baju itu lagi setelah mandi. Daleman juga kan harus di ganti,” lirih Milea dengan pelan di akhir kalimatnya.
“Seharusnya kamu bilang kalau kamu mau pulang,” ujar Firdaus. Jadi saya gak nyariin kamu.”
“Loh, tadi kan saya udah pamit, Pak, sebelum pulang. Terus, Bapak juga bilang kalau gak akan mencari saya. Ya udah, saya gak kasih kabar lagi ke Bapak,” ujar Milea.
“Saya pikir kamu pulang ke apartemen.”
__ADS_1
“Ah ya, ini panggilan tak terjawab sampai sepuluh kali, itu dari nomor Bapak?” tanya Milea.
Firdaus melirik ke arah Milea dengan kesal. “Kamu gak save nomor saya?” tanya Firdaus.
“Loh, mana saya tau nomor Bapak. Lagian Bapak juga gak bilang berapa nomor Bapak,” ujar Milea yang mana memuat Firdaus menoleh ke arahnya.
Kali ini benar-benar menoleh dan menatap wajah Milea dengan kesal, untungnya saat ini mobil mereka tengah berada di lampu merah.
“Kamu bilang gak tau nomor telpon saya?” tanya Firdaus yang di angguki oleh Milea.
“Terus, bagaimana kamu bisa menjual nomor saya, kalau kamu gak tau nomor saya?” tanya Firdaus dengan kesal.
“Hah? Oh, i-itu ..” Milea pun menyengir kuda. “Saya gak hobi simpan nomor orang yang gak saya kenal, Pak. Jadi, setelah saya menjualnya, ya saya hapus di kontak ponsel saya. Bikin semak kontak saya aja,” cibir Milea.
“Kamu---”
“Pak, udah hijau,” ujar Milea sambil menunjuk ke arah lampu yang telah berubah warna.
“Awas kamu,” geram Firdaus dan kembali melajukan mobilnya.
Milea bernapas lega, kemudian gadis itu menatap ke arah luar jendela, menikmati pemandangan malam ini.
“Huuf, korban kecelakaan di sini sungguh menyedihkan,” lirih Milea yang di dengar samar oleh Firdaus.
__ADS_1
“Kamu bilang apa?” tanya Firdaus.
“Hah? Oh, gak kok.” Milea kembali menatap jalanan yang ada di hadapannya, gadis itu pun mengernyitkan keningnya di saat melihat sesosok makhluk anak kecil yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam mobil dan duduk di bangku penumpang belakang.
“Mau ngapain sih, naik?” lirih Milea pelan.
“Kamu bilang apa?” tanya Firdaus yang kembali mendengar suara Milea sedang berbicara.
“Hah? Oh, gak ada,” jawab Milea lagi dan menutup matanya.
“Huff, seharusnya gue gak keluar malam,” batin Milea.
“Kamu tidur?” tanya Firdaus yang melirik ke arah Milea.
“Hmm,” jawab Milea dengan gumaman.
“Jangan tidur, tiba-tiba saja bulu kuduk saya merinding,” ujar Firdaus sambil mengusap lehernya.
Milea membuka matanya dan menoleh ke belakang. Benar saja, ternyata anak kecil yang kasat mata itu sedang menggelitik telinga Firdaus.
“Diam dan duduklah dengan tenang,” desis Milea yang mana membuat Firdaus kembali menoleh kearahnya.
“Kamu bicara sama siapa?” tanya Firdaus dengan perasaan yang semakin merinding.
__ADS_1