Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 23 - Kasir


__ADS_3

Firdaus menggelengkan kepalanya di saat melihat Milea langsung membuka tutup botol dan meminum minuman tersebut langsung sebelum di bayar.


"Aneh kamu, kebiasaan jelek begitu jangan di ulangi," tegur Firdaus yang mana membuat Meja mencibirkan bibirnya.


Milea pun kembali memakai maskernya mengikuti Firdaus dari belakang. Setelah puas berbelanja, Firdaus pun menyuruh untuk Milea Mengantri, sedangkan pria itu menunggu di kursi tunggu yang tak jauh dari kasir.


"Mbak, ini udah saya minum. Tapi belum di bayar, scan duluan aja, takut saya kelupaan," ujar Milea memberi tahu mbak kasir.


"Iya, Mbak."


Kasir tersebut pun mulai meng-scan satu persatu belanjaan yang Milea keluarkan dari keranjang, hingga semua belanjaan tersebut selesai di scan dan muncullah total keseluruhan belanjaan milik Firdaus.


"Gila, dua jutaan," lirih Milea pelan.


"Total belanjaannya Dua juta lima ratus tiga puluh tiga ribu lima ratus," ujar mbak kasir memberi tahu kepada Milea.


"Iya, Mbak. Sebentar ya."


Milea pun mencari keberadaan Firdaus dan langsung memanggil pria itu.

__ADS_1


"Pak," panggil Milea.


Firdaus menoleh, "Sudah selesai?" tanyanya yang di angguki oleh Milea.


Firdaus berdiri dan menghampiri Milea, pria itu pun memberikan black card nya kepada mbak kasir tersebut. Melihat betapa tampannya Firdaus dan pastinya juga kaya karena mengeluarkan black cardnya, maka Mbak kasir pun tersenyum malu dan dengan berani menatap wajah Firdaus dengan tatapan menggoda.,


"Ini kartunya, Pak. terima kasih telah berbelanja di sini dan di tunggu kehadirannya kembali," ujar mbak kasih sambil mengembalikan kartu milik Firdaus dan membelai tangan pria itu.


"Sungguh menjijikan," cibir Firdaus dan berlalu meninggalkan meja kasir, membiarkan Milea membawa semua belanjaannya.


"Untung pakai keranjang dorong. Kalau gak udah putus tangan gue bawa belanjaan banyak begini," cibir Milea dengan kesal.


"Kenapa malagh bengong? Ayo cepat," tegur Firdaus yang mana membuat Milea menjadi kesal.


"Iya, Pak," jawabnya dan menghela napas dengan kasar.


"Hm, enak banget yang hidupnya gak ada beban. Lah gue? Dari Sekolah menengah pertama juga, hidup gue udah ada beban sejak kecelakaan itu." batin Milea.


"Tapi ya udah lah, namanya setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda-beda juga kan ya. Nikmat bagian ini, tapi belum tentu seberuntung gue yang bisa kerja di perusahaan besar dan memiliki gaji yang lumayan cukup besar." bartinnya lagi.

__ADS_1


"Hmm, akhirnya gue bisa menikmati keseluruhan gaji gue tampa memikirkan hutang lagi. Alhamdulillah, tetap harus bersyukur. Setidaknya gue hidup gak menyusahkan orang lain.


Brukk ..


Karena tak melihat-lihat jalan, Milea pun menabrakkan keranjang dorong pada estalase penjual mainan.


"Maaf, mbak," ujar Milea dengan merasa bersalah.


"Makanya, Mbak, kalau jalan itu jangan bengong," tegur mbak penjual mainan dengan sinis.


Milea hanya tersenyum di dalam maskernya dan menganggukkan kepalanya sebagai mengucapkan rasa bersalahanya.


Firdaus menghela napasnya pelan melihat Milea yang sedari tadi menjual matanya ke arah lain tanpa memperhatikan jalan.


"Lain kali jalan itu matanya di pake, jangan jelalatan," tegur Firdaus yang mana membuat Milea melebarkan matanya.


"Lah, ini mata saya di pake, Pak. Bapak gak lihat mata saya di sini?" ujar Milea sambil menunjukka matanya.


"Dasar oon, gak nyambung," desain Firdaus dan meninggalkan Milea.

__ADS_1


"Iih, dasar tukang marah," cibirnya dan mengikuti sang bos.


__ADS_2