Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 20 – Surat perjanjian


__ADS_3

 “Baiklah, saya pun tidak berniat untuk memeluk atau pun mencium kamu. Tapi ...” ujar Firdaus sambil menggantung ucapannya.


“Tapi apa?” tanya Milea penasaran.


“Tapi di saat adegan ini di butuhkan, maka kamu tidak boleh menolak,” ujar Firdaus  tanpa ingin di bantah.


“Tapi—tidak, saya gak mau,” tolak Milea.


“Kenapa? Apa kamu takut pacar kamu marah?” tanya Firdaus dan tersenyum meremehkan Milea.


“Tidak saya tidak punya pacar, tapi saya tidak mau. Saya bukan wanita murahan yang bisa seenaknya bapak


peluk, cium, atau apa pun itu yang Bapak suka. Saya gak mau,” tolak Milea.


“Kamu pikir saya pria murahan yang nomornya bisa kamu jual ke siapa saja dengan harga lima juta? Dan saya harus menjumpai setiap wanita itu dan berkencang dengan mereka?” geram Firdaus yang mana membuat Milea menelan ludahnya dengan kasar.


“I-itu.” Milea memainkan jari jemarinya karena gugup.


“Karena kamu sudah membuat saya seperti pria murahan, maka kamu harus mengikuti semua perintah saya,” titah Firdaus tanpa ingin mendengar bantahan lagi.


“Tap-tapi ...”


“Cukup, saya tidak mau mendengar adanya penolakan lagi,” ujar Firdaus.


“Dan ini, kamu harus stand by setiap saya butuhkan. Mau itu pagi, siang, atau pun tengah malam sekali pun, kamu harus cepat datang menghampiri saya.”


“Bapak sudah gila?” pekik Milea yang mana membuat Firdaus mengernyitkan keningnya.


“Saya ini sudah lelah dalam bekerja seharian, Pak. Rumah saya juga jauh dari apartemen Bapak, jadi gak mungkin lah saya bisa datang di setiap saat Bapak butuhkan,” tolak Milea. “Dan ini, untuk menyiapkan sarapan pagi, saya menolaknya. Masa iya saya pagi-pagi harus datang ke sini dan menyiapkan sarapan untuk Bapak? Jarak rumah


saya dan Ba---“


“Cukup, kamu mulai hari ini akan pindah ke apartemen ini,” titah Firdaus.


“Hah? Apa?”

__ADS_1


“Apa perkataan saya kurang jelas?” ujar Firdaus.


“Buk-bukan gitu. Maksud Bapak? Saya harus pindah ke sini? Tinggal satu apartemen dengan Bapak?” tanya Milea. “Tidak. Saya tid---“


“Kamu pikir saya sudi tinggal satu apartemen dengan kamu?” potong Firdaus yang mana membuat Milea mengernyitkan keningnya.


“Kamu akan tinggal di gedung apartemen yang sama dengan saya, tapi tidak di apartemen yang sama dengan saya,” jelas Firdaus yang mana membuat Milea bernapas dengan lega, tetapi detik selanjutnya wanita itu kembali merasakan napasnya yang terasa sesak.


“Bapak sudah gila?” tanya Milea lagi.


“Apa maksud kamu mengatai saya gila?” tanya Firdaus.


“Pak, gaji saya ini tidak besar. Cukup untuk memenuhi kehidupan saya sehari-hari dan juga tabungan untuk saya di masa tua nanti. Tapi kalau Bapak menyuruh saya tinggal di sini, mana cukup gaji saya, Pak? Mungkin saya hanya mampu membayar sewa apartemennya kemudian Bapak menemukan saya sudah mati karena kelaparan,” ujar Milea dengan bergidik ngeri.


“Apa kamu mendengar kalau saya menyuruh kamu menyewa sendiri apartemen di gedung ini?” tanya Firdaus yang mana membuat Milea menggelengkan kepalanya pelan.


“Sebelum kamu menilai sesuatu, lebih baik kamu mencerna dan mendengarnya baik-baik. Kamu cukup tinggal di apartemen yang sudah saya siapkan untuk kamu,” ujar Firdaus yang mana di angguki oleh Milea.


“Oke,” jawab Milea sambil menghela napasnya pelan. “Dan ya, masa iya saya gak di kasih uang sepeser pun, Pak?” protes Milea karena telah mengerjakan semua pekerjaan untuk Firdaus, namun dia tak mendapatkan uang atas kerja kerasnya nanti.


“Kamu pikir waktu yang sudah saya buang untuk menemui wanita-wanita itu gak berharga?” tanya Firdaus


“Ya maaf, Pak.” lirih Milea. “Saya kan butuh uang waktu itu,” cicitnya pelan yang masih di dengar oleh Firdaus.


“Dan kamu pikir waktu saya yang terbuang untuk mencari kamu itu gak berharga?” ujarnya lagi.


“Ya siapa suruh Bapak cari saya? Kan saya gak ada suruh,” cibir Milea pelan.


“Kamu?” Firdaus rasanya sudah naik darah menghadapi Milea yang pembangkang, tapi dia membutuhkan wanita


ini untuk mengelabui sang kakek. Di tambah lagi wajah Milea tidak terlalu jelek untuk di kenalkan sebagai pacarnya.


“Intinya, kamu harus membayar semua waktu yang telah saya buang karena ulah kamu. Dan ya, kamu tidak


akan mendapatkan bayaran sepeser pun atas apa yang sudah kamu perbuat. Lagi pula, kamu juga tidak terlalu di rugikan. Kamu akan mendapatkan fasilitas mewah karena tinggal di apartemen ini dan juga akan mendapatkan makanan enak jika menemani saya bertemu dengan kakek,” ujar Firdaus.

__ADS_1


“Dan satu lagi, jika kamu menolaknya, maka kamu harus siap saya jebloskan ke penjara,” ancam Firdaus.


Milea terlihat berpikir, setidaknya apa yang di katakan oleh Firdaus ada benarnya. Tapi, tetap saja hasil keringat, tenaga dan waktunya untuk Firdaus terbuang sia-sia tanpa di bayar sepeserpun. Mau tak mau, Milea pun harus menerima tawaran itu, jika tidak dia akan di jebloskan ke penjara oleh bosnya yang tampan itu.


Milea harus tetap bersyukur, karena gajinya tidak akan habis untuk hal mewah yang tidak dia butuhkan. Lagi


pula, dia baru saja selesai melunaskan hutang pengobatan kedua orang tuanya yang telah tiada. Jadi ini saatnya untuk kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi masa depannya kelak.


“Baiklah, semuanya sudah jelas kan?” tanya Firdaus yang di angguki oleh Milea.


“Kamu harus ingat point yang terakhir, karena ini sangat penting. Jangan pernah jatuh cinta sama saya dan berharap untuk menjadi pacar beneran saya,” ujar Firdaus dengan penuh tekanan.


“Bapak tenang aja, saya gak akan jatuh cinta dengan Bapak,” ujar Milea dengan penuh keyakinan.


“Bagus. Baiklah, saya akan mengetiknya ulang sekarang, kamu tunggu sebentar.”


Firdaus pun mengetik kembali persyaratan yang telah mereka sepakati satu sama lainnya. Tak butuh waktu lama bagi Firdaus untuk menyelesaikan ketikan tersebut.


kreek .. krekk .. kreekk ...


Firdaus berdiri dan mengambil kertas yang telah selesai terprint. Pria itu pun menjilidnya menjadi satu dan memberikannya kepada Milea.


“Ini ada dua salinan, kamu harus menandatanganinya di setiap salinan,” titah Firdaus sambil memberikan surat perjanjian itu.


Milea menghela napasnya pelan, wanita itu pun mengambil pulpen yang ada di atas meja dan memegangnya


dengan tangan bergetar. Dia membaca kembali semua point-point yang tertera di atas kertas tersebut.


“Oke, semua ini akan berakhir dalam tiga bulan,” lirihnya pelan dan mulai menandatangani surat perjanjian tersebut.


Firdaus tersenyum dan ikut menandatangani surat perjanjian itu di bagian miliknya.


“Senang berkerja sama dengan Anda, Nona Milea Syaputri,” ujar Firdaus sambil mengulurkan tangannya kepada Milea.


“Hmm, semoga Bapak tidak melewati batas saat sedang berakting menjadi pacar saya,” ujar Milea dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Harus saya tegaskan di sini. Saya bukan pacar kamu, tapi kamu lah pacar saya,” ujar Firdaus.


“Sama aja kali,” gumam Milea sambil memutar bola matanya malas.


__ADS_2