
“Kamu bicara sama siapa?”
“Hah? Oh, bukan sama siapa-siapa,” ujar Milea dan memberi kode kepada anak kecil yang kasat mata itu.
Sesampainya di apartemen, anak kecil kasat mata itu pun menarik baju yang di kenakan oleh Milea, saat dirinya sedang mengambil tas yang ada di bagasi.
“Ada apa?” tanya Milea.
“Pulaang ...” lirih anak kecil tersebut dengan mata berkaca-kaca.
“Hmm, saya gak bisa antar kamu,” ujar Milea.
“Pulaang ... hiks ...”
“Hmm, di mana rumah kamu?” tanya Milea akhirnya karena merasa tak tega.
“Jauh,” lirihnya.
“Begini, saya tidak bisa membawa kamu, karena alam kita berbeda. Tapi saya bisa membuat kamu untuk tak gentayangan lagi,” ujar Milea.
Hantu kecil itu pun menggeleng. “Mau pulang, mau peluk Mama,” lirihnya.
“Duh, gimana ya?” lirih
Milea.
“Apanya yang gimana?” tanya Firdaus mengagetkan Milea.
“Eh, Bapak. Sejak kapan Bapak di situ? Bikin kaget saya aja,” lirih Milea sambil mengusap dadanya.
“Ayo, cepat. Saya lapar,” titah Firdaus.
Milea pun mengangguk dan mengikuti sang bos masuk ke dalam apartemen. Sedangkan hantu anak kecil itu pun, juga mengikuti Milea masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam lift, tak ada percakapan apa pun di antara mereka. Pintu lift pun kembali terbuka,
Milea mengikuti langkah Firdaus yang kelaur dari lift, akan tetapi gadis itu berjalan menuju apartemennya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Firdaus.
“Hah? Saya?” tanya Milea.
“Iya, kamu. Masa saya ngomong sama cicak?” kesal Firdaus.
“Oh, saya mau masuk ke dalam, Pak,” ujar Milea sambil menunjuk apartemen yang mulai malam ini akan di
tempati olehnya.
“Siapa bilang kamu sudah bisa pulang? Temani saya makan,” titah Firdaus yang tak ingin di bantah.
Milea menghela napasnya pelan dan mengikuti Firdaus yang sudah membuka pintu apartemennya. Milea pun
masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke dapur.
“Saya cuma mau minum air mineral saja. Oh ya, tolong ambilkan sendok ya,” titah Firdaus yang langsung di turuti oleh Milea.
Milea pun mengambil segelas air minum dan satu buah sendok, kemudian dia memberikannya kepada Firdaus yang sudah duduk di meja makan.
“Kenapa cuma satu? Kamu gak ikut makan?” tanya Firdaus.
“Emangnya Bapak beli untuk saya?” tanya Milea.
“Kamu pikir saya orangnya pelit? Sudah, ayo duduk dan makanlah,” titah Firdaus yang langsung di turuti oleh Milea.
Milea kembali ke dapur dan mengambil segelas air minum dan sendok, kemudian dia pun menarik kursi dan
duduk di hadapan Firdaus.
__ADS_1
“Wow, kelihatannya enak nih, Pak,” ujar Milea saat melihat menu yang ada di hadapannya saat ini.
“Ya lah, namanya juga dari restoran ternama.”
“Hmm, ya juga sih. Emang beda ya makanan orang kaya.”
“Sudah, jangan banyak bicara lagi, sebaiknya kamu makan saja,” titah Firdaus yang di angguki oleh Milea.
“Ah ya, Pak. Bapak percaya sama makhluk halus gak?” tanya Milea, yang mana dia melihat jika anak kecil itu terlihat menatap wajah Firduas sedari tadi.
“Enggak, kenapa emangnya?” tanya Firdaus, tanpa Milea ketahui, jika saat ini dia merasa ketakutan dan bulu
kuduknya pun berdiri.
“Oh, gak papa sih.” Milea pun kembali melanjutkan makannya.
“Kamu? Apa kamu percaya mereka ada?” tanya Firdaus.
Milea menatap wajah Firdaus kemudian menganggukkan kepalanya.
“Serius?” tanya Firdaus.
“Iya, Pak.”
“Lalu, apa kamu bisa melihat? Jika di apartemen ada makhluknya atau tidak?” tanya Firdaus lagi.
“Di apartemen ini sih gak ada. Tapi, tadi saat di perjalanan, ada seorang anak kecil yang ikut bersama kit,” ujar Milea yang mana membuat Firdaus menelan ludahnya kasar.
“Lalu? Apa dia masih mengikuti kita?” tanya Firdaus dengan jantung yang berdebar.
“Hmm, bahkan saat ini dia berada di dekat Bapak,” ujar Milea yang mana membuat Firdaus langsung bergerak cepat dan berlari mendekati Milea. Bahkan, pria itu saat ini sudah memeluk tubuh Milea.
“Di-di mana dia?” tanya Firdaus dengan suara dan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
“Bapak takut hantu?” tanya Milea balik dengan mengabaikan pertanyaan Firdaus.