Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 13 – Beli nasi goreng


__ADS_3

“Saya mau nasi goreng pake rendang,” ujar Milea dengan senyum yang merekah.


Firdaus menatap tak percaya kepada wanita yang saat ini sedang tersenyum kepadanya.


“Ah ya, sekalian sama jus jeruk ya, Pak. Jangan pakai banyak gula, sedikit aja gulanya,” ujar Milea lagi.


“Kamu pikir kamu siapa beraninya menyuruh saya beli apa yang kamu mau?” ketus Firdaus.


“Aaaww ... aww ... perut saya laper banget. Kepala pusing, rasanya seperti ada burung-burung yang berputar di kepala,” lirih Milea dengan suara yang di buat merintih.


“Apa ini akhir hidupku? Dengan harus menghadapi kematian karena kelaparan?” lirihnya lagi sambil melirik ke arah Firdaus.


“Dasar menyusahkan,” geram Firdaus bergegas keluar untuk membeli nasi goreng dan juga jus jeruk pesanan Milea.


Milea terkekeh pelan sambil menatap punggung sang bos. “Hah, kapan lagi bisa suruh-suruh bos,” lirihnya sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Di luar rumah sakit, Firdaus melihat penjual makanan yang menggunakan gerobak dorong. Pria itu merasa ragu untuk membeli makanan yang berada di pinggir jalan tersebut. Ragu akan kebersihan si penjual dan kesehatan makanan yang di jual.


“Restoran yang dekat dari sini di mana ya?” gumamnya sambil mengutak atik ponselnya.


Sebenarnya Firdaus ingin menghubungi sang asisten, tapi melihat jika saat ini adalah waktu jam pulang kantor, bisa di pastikan jika sang asisten akan terkena macet saat menuju ke rumah sakit. Bisa-bisa Milea beneran mati kelaparan karena menunggu nasi gorengnya tiba terlalu lama.


“Ada cafe di dekat sini. Baiklah, aku akan beli di sana aja,” gumam Firdaus dan berlari kecil menuju mobilnya.


Sesampainya di cafe, ternyata suasana cafe sangat lah ramai, sehingga membuat Firdaus merasa bingung. Belum lagi antrian yang tak beraturan dan siapa cepat dia yang duluan pesan, membuat pria itu semakin merasa kesal.


“Apa kalian tak bisa mengantri?” pekik Firdaus yang sudah tak tahan lagi dengan tingkah warga +62.


“Siapa dia?” cibir seorang pembeli sambil melirik sinis ke arah Firdaus.


Firdaus semakin kesal, orang-orang yang berada di negara ini sungguh luar biasa.


“Apa yang kalian lihat? Apakah kalian tak malu menyerobot antrian orang lain?” bentak Firdaus dengan kesal.


“Hei, bung. Di sini, siapa cepat dia yang duluan dapat,” ujar seorang pria yang memakai rantai pada dompetnya.


Firdaus terkekeh pelan melihat penampilan pria yang menegurnya itu sangat konyol sekali.

__ADS_1


“Apa yang lo ketawakan, hah?” tantang pria tersebut.


Firdaus langsung menatap tajam pria yang memakai rantai tersebut. “Lo pikir gue takut sama lo, hah?” ujar Firdaus menantang balik kepada pria itu.


Tak berapa lama seorang pria memakai pakaian berbeda dari pelayan cafe pun menghampiri Firdaus dan juga


pria yang menggunakan rantai pada pengait dompetnya itu.


“Maaf, jika ingin melakukan keributan, silahkan keluar dari cafe ini,” usir manager cafe tersebut.


“Anda ngusir saya?” tanya Firdaus dengan kening mengkerut.


“Iya. Karena saya tak ingin ada keributan di cafe saya ini,” ujar manager cafe tersebut.


Firdaus pun menggerutu kesal. Sudahlah dia lama mengantri dan antriannya selalu di serobot oleh orang lain, saat ini dia malah di usir karena di tuduh membuat keributan di cafe tersebut.


“Brengsek, kalau bukan karena tuh cewek yang kelaperan dan takut mati, males juga aku ke sini,” gerutu


Firdaus dan kembali ke dalam mobil.


“Huuf, sekarang aku harus ke mana?” lirihnya sambil mengusap wajahnya yang kasar.


Kedatangan Firdaus ke restoran tersebut pun langsung di sambut baik oleh pelayan restoran. Sebenarnya


bukan karena dirinya yang datang ke restoran itu maka para pelayan pun memberikan pelayanan yang terbaik, tetapi setiap pengunjung yang datang pasti akan mendapatkan perlakuan yang sama.


“Selamat malam, selamat datang ke restoran ini. Ingin makan di sini atau di tak away?” tanya si pelayan


yang berdiri di depan pintu dengan ramah.


“Take away,” ujar Firdaus.


“Baiklah, silahkan menuju ke kasir tiga,” tunjuk pelayan kepada Firdaus.


Firdaus pun berjalan menuju kasir nomor tiga, yang mana memang di khususkan untuk mencatat pesanan


makanan yang ingin di take away.

__ADS_1


“Selamat malam, ada yang bisa di bantu?” tanya seorang pelayan yang berada di kasir nomor tiga.


“Ya, saya mau pesan nasi goreng pakai rendang satu bungkus, kemudian minumnya jus jeruk dengan sedikit gula,” ujar Firdaus memberitahukan pesanannya.


“Maaf, tapi di restoran kami tidak tersedia rendang,” ucap pelayan tersebut memberi tahu.


“Ya sudah, pakai bistik aja,” ujar Firdaus akhirnya.


“Baiklah, pesanan Tuan sudah kami catat. Silahkan menunggu sebentar hingga pesanannya siap,” titah sang pelayan sambil memberikan paging system, yang mana berfungsi untuk memberitahukan kepada si pelanggan jika pesanan mereka telah siap.


Firdaus pun mengambil costumer paging system tersebut dan membawanya bersama dirinya. Di letakkan costumer paging system tersebut di atas meja. Sambil menunggu pesanannya siap, Firdaus pun mengecek email yang masuk ke dalam ponselnya.


Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya pesanan Firdaus pun selesai. Costumer paging systemnya pun bergetar untuk memberi tahu kepada dirinya jika pesanannya telah siap.


Drrrt ... drrrt ....


Melihat costumer paging system telah bergetar, Firdaus pun mematikan getarannya dan langsung menuju ke


arah kasir untuk membayar semua pesanannya.


“Terima kasih atas kunjungannya, selamat menikmati,” ujar pelayan kasir dengan ramah.


Firdaus hanya menganggukkan kepalanya dan bergegas kembali menuju mobilnya.


Di tempat lain, Milea sudah memeluk perutnya yang kelaparan. Perutnya sudah tak bisa di ajak kompromi lagi, jika tidak penyakit maagnya akan kumat.


Milea pun merogoh kantong celananya, syukur lah dia mendapatkan uang sepuluh ribu di dalam kantong. Milea pun memanggil perawat untuk meminta di cabutkan selang oksigen dan juga infusnya.


“Maaf, infusnya belum bisa di cabut,” ujar perawat saat Milea memohon untuk di cabut selang infusnya.


“Duh, Sus. Saya laper banget ini,” lirih Milea sambil memeluk perutnya yang kembali berbunyi.


“Hmm, di dekat sini ada kantin. Mbak bisa membeli roti di sana. Bawa saja gagang infusnya, gak papa kok. Maaf, bukannya saya gak mau membantu Mbak untuk membelikan makanan, akan tetapi saat ini jadwal pergantian tugas, jadi saya harus tetap stanby di sini,” jelas perawat tersebut kepada Milea.


“Hmm, baiklah. Kalau begitu saya bawa aja infusnya ya. Saya lapar banget,” lirih Milea.


“Tapi, suami Mbak? Eh, maksud saya pacar Mbak tadi ke mana? Bukannya dia sedang membelikan makanan

__ADS_1


ya?” tanya perawat tersebut.


“Gak tau, Sus. udah satu jam lebih gak balik-balik. Kabur kali,” cibir Milea dengan kesal.


__ADS_2