Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 15 – Pendarahan


__ADS_3

 “Pak, saya minta jusnya dulu ya. Haus. Udah keselek ini, gak ada minum,” lirih Milea yang sudah tercekik karena


tenggorokannya terlalu kering.


Firdaus membelalakkan matanya saat ucapannya malah di cuekin oleh wanita menyebalkan yang ada di hadapannya saat. Ini dengan terpaksa, Firdaus pun mengulurkan jus yang ada di tangannya.


Milea langsung menancapkan sedotan ke atas penutup, tetapi karena tangan kanannya yang terasa lemah dan tak berdaya pun, tak mampu menancapkan sedotan tersebut dengan sempurna. Melihat Milea yang kesusahan dalam menancapkan sedotan, membuat Firdaus mengambil alih jus serta sedotan tersebut dan menancaplannya.


“Nih,=.” Firdaus menyodorkan jus tersebut kepada Milea.


“Makasih, Pak,” ujar Milea dengan senyum yang mengembang. Milea pun langsung  menyedot jus tersebut hingga setengah.


“Alhamdulillah, legaa ..” seru Milea dan kembali menyodorkan gelas jus tersebut kepada Firdaus.


“Apa?” tanya Firdaus.


“Pegangi tolong, Pak,” ujar Milea masih dengan menyodorkan jus tersebut.


Firdaus menghela napasnya dengan kasar dan terpaksa memegangi jus tersebut. Milea kembali melanjutkan menghabiskan roti yang tinggal sedikit lagi itu.


“Nasi gorengnya gimana?” tanya Firdaus.


“Tenang, nanti saya habiskan,” jawab Milea.


Setelah menghabiskan roti, Milea pun kembali meminta jus yang ada tangan Firdaus, pria itu pun memberikan jus tersebut.


“Apa yang kamu lihat dari tadi?” tanya Firdaus yang sedari tadi memang memperhatikan Milea yang makan sambil menatap ke arah gedung.


“Gedung itu,” jawabnya sambil menunjuk ke arah gedung tersebut.


“Kenapa sama gedung itu?” tanya Firdaus.


“Cantik,” jawab Milea yang mana membuat Firdaus mengernyitkan keningnya.


Setau dia, gedung tersebut sama saja medelnya dengan gedung yang lain. Tinggi dan berbentuk persegi


panjang yang memanjang ke atas seolah ingin menyentuh langit.


“Cantik? Kenapa?” tanya Firdaus lagi.


“Sebenarnya yang buat cantik itu lampu-lampunya,” jawab Milea. “Coba Bapak lihat, hiasan lampu kerlap kerlip yang berada di setiap lantai membuatnya seperti bintang yang sedang jatuh,” ujar Milea yang mana membuat Firdaus pun ikut menoleh ke arah pandangannya.


“Menurut saya biasa aja,” jawab Firdaus.


Milea menoleh ke arah Firdaus bersamaan dengan pria itu yang juga ikut menoleh ke arahnya.


“Setiap orang kan memiliki pendapat yang berbeda, Pak. Menurut Bapak mungkin biasa aja. Tapi menurut saya itu sangat luar biasa dan indah,” ujar Milea dan kembali memandang ke arah gedung tersebut.

__ADS_1


“Kamu tau itu gedung apa?” tanya Firdaus.


“Apartemen,” jawab Milea.


“Kamu tau gedung apartemen itu punya siapa?” tanya Firdaus lagi.


“Yang jelas bukan punya saya, Pak,” jawab Milea sambil menoleh ke arah Firdaus. “Bapak ini jangan yang aneh-aneh deh pertanyaannya. Lagian saya gak punya waktu untuk mencari tau siapa pemilik gedung itu. Dan juga itu bukan urusan saya, Pak,” jawab Milea dan bangkit dari duduknya.


“Kamu mau ke mana?” tanya Firdaus.


“Mau kentut, Bapak jangan ikut saya,” jawab Milea dan menjauh dari Firdaus.


“Saya tau kamu berbohong. Kamu mau lari kan dari saya,” ujar Firdaus sambil mengejar Milea dan menahan lengannya yang tak di infus.


“Iih, Bapak,” pekik Milea dan ..


Tuuuuuuttt...


Firdaus mengerjapkan matanya saat mendengar suara yang tak asing di telinga, yang detik selanjut di susul oleh bau yang tak sedap. Dengan cepat Firdaus melepaskan tangan Milea dan menjauh dari wanita itu sambil menutup hidungnya.


“Gak sopan kamu,” kesal Firdaus.


“Kan saya udah bilang, kalau saya mau kentut. Bapak aja yang deket-deketin saya,” jawab Milea dengan santai dan berlalu meninggalkan Firdaus.


“Mau ke mana kamu?” tanya Firdaus.


“Mau kembali ke kamar. Dingin di luar, sepertinya mau hujan,” jawab Milea dan berlalu begitu saja.


Sesampainya di ruangan unit gawat darurat, Milea pun kembali naik ke atas bad miliknya.


“Nona Milea?” sapa perawat yang ingin mengecek kondisi tubuh Milea.


“Ya?” jawab Milea.


“Saya periksa dulu ya,” uja perawat tersebut dan detik selanjutnya terkejut saat melihat selang infus yang sudah hampir di penuhi oleh darah. Bahkan darah tersebut sudah hampir mencapai puncak teratas selang infus.


“Ya ampun, Mbak. Ini kenapa bisa begini infusnya? Kenapa darahnya bisa naik begini?” tanya perawat dengan panik dan bergegas mematikan cairan infus tersebut.


Milea mengerjapkan matanya dan seketika kepalanya terasa pusing. Wanita itu pun mengalihkan pandangannya dan membiarkan perawat menghentikan pendarahannya


“Ini infusnya harus di ganti,” ujar perawat tersebut memberi tahu.


Milea hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh. Firdaus yang melihat hal itu pun entah mengapa merasa iba dan mendekat ke arah Milea.


“Kamu gak papa?” tanya Firdaus.


Milea menganggukkan kepalanya, kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita itu sudah meneteskan air

__ADS_1


matanya karena merasa takut.


“Kamu takut?” tanya Firdaus sambil menyentuh bahu Milea.


Greepp ..


Firdaus membeku di saat Milea tiba-tiba saja memeluknya dan menenggelamkan wajah wanita itu ke dadanya.


Dapat Firdaus rasakan jika kemejanya saat ini terasa basah, yang mana menandakan jika saat ini Milea sedang menangis.


Setengah jam pun berlalu dengan begitu saja, pendarahan yang di alami oleh Milea terbilang cukup banyak. Bahkan saat ini wanita itu harus mengganti pergelangan tangannya untuk di pasang jarum infus.


Saat perawat memasang jarum infus ke pergelangan tangan Milea yang lain, wanita itu pun memeluk pinggang Firdaus dengan erat, karena dia sangat takut dengan yang namanya jarum suntik.


“Sudah selesai, kamu bisa lepas pelukannya saat ini,” ujar Firdaus kepada Milea.


Perlahan, Milea pun merengganggkan pelukannya. “Maaf, Pak,” cicit Milea sambil mengusap air matanya.


“Hmm,” gumam Firdaus.


“Lain kali, kalau mau jalan-jalan, di matikan saja air infusnya ya seperti ini,” ujar perawat sambil menunjukkan cara mematikan air infus yang menetes.


“Iya, Sus,” jawab Milea dan tersenyum tipis.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Mbak-nya jangan sampai lupa makan ya. Biar gak lemas, karena kan sudah mengeluarkan banyak darah,” ujar perawat sebelum meninggalkan Milea dan Firdaus dengan tirai pembatas yang di tutup.


“Sebaiknya kamu makan sekarang,” titah Firdaus dan membuka kotak makan yang berisi nasi goreng.


“Bapak gak makan?” tanya Milea di saat melihat hanya satu kotak makan saja yang tersedia.


“Saya masih kenyang,” jawab Firdaus bersamaan dengan bunyi perutnya.


Kruukkk ....


Firdaus mengerjapkan matanya, bola mata pria itu pun perlahan bergerak untuk melihat ekspesi Milea.


“Kalau lapar, mending Bapak aja yang makan. Saya masih kenyang karena sudah makan roti,” ujar Milea sambil menyodorkan kotak makan itu kepada Firdaus.


“Gak, saya masih kenyang. Itu bukan suara perut saya,” jawab Firdaus dan kembali menyodorkan kotak makan tersebut.


“Bapak yakin?” tanya Milea yang sebenarnya sudah sangat tergoda dengan nasi goreng yang ada di hadapannya saat ini.


“Hmm, ya,” jawab Firdaus.


“Baiklah kalau begitu. Saya makan ya,” izin Milea.


“Hmm, ya ..” jawab Firdaus lagi dengan gumaman.

__ADS_1


Baru satu suap nasi goreng masuk ke dalam mulut Milea, perut Firdaus pun kembali berbunyi.


Kruukkk ....


__ADS_2