Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 24 - Tetesan Darah


__ADS_3

"Pak, ini saya yang bawa semua?" protes Milea.


"Lalu? Saya gitu yang harus bawa?" ujar Firdaus dan melangkah pergi.


"Ya setidaknya Bapak bawa satu satu dua plastik gitu," cibir Milea.


Firdaus berbalik dan menatap Milea. "Gak mau, nanti tangan saya sakit dan merah," ujar Firdaus dan kembali berjalan memasuki gedung apartemen.


"Dasar menyebalkan," geram Milea dan terpaksa membawa semua plastik belanjaan yang berat itu.


Bruuk ...


Milea meletakkan semua plastik ke lantai lift, wanita itu pun mengibas-ngibaskan tangannya karena terasa pegal dan perih. Firdaus hanya melirik dan tersenyum sinis melihat penderitaan Milea.


"Gue sumpahi gak bisa tidur nih cowok malam ni," batin Milea dalam hati.


Ting ...


Pintu lift kembali terbuka, Firdaus pun kembali melenggang keluar dari lift.


"Cepat, nanti keburu pintu liftnya tertutup," ujar Firdaus.


"Iya, Bentaran," kesal Milea dan mengambil kembali semua belanjaan yang dia letakkan di lantai.


Dengan kesusahan berjalan karena membawa barang-barang yang berat, Milea pun terus menggerutu di dalam hati sambil mengutuki bos gak punya perasaannya itu.


Firdaus memasukkan password apartemennya, kemudian dia membuka pintu dan membiarkan Milea masuk ke dalam.

__ADS_1


Brukkk...


"Huruf, akhirnya," lirih Milea sambil mengurut jadi jemarinya tanpa menoleh ke arah pergelangan tangannya.


"Darah apa ini?" tanya Firdaus saat melihat tetesan darah di lantai.


"Darah?" tanya Milea balik.


"Iya, darah," ujar Firdaus dan mengikuti tetesan darah tersebut.


Mata Firdaus pun langsung menangkap kenarah mana darah itu berasal.


"Tangan kamu," ujarnya sambil menunjuk ke arah tangan Milea.


"Tangan saya? Kenapa?" tanya Milea dan menatap tangannya.


"Tunggu di sini, jangan bergerak," titah Firdaus dan bergegas mengambil kotak obat.


Firdaus pun menuntun Milea untuk duduk di kursi. "Sini, duduklah."


Milea masih memejamkan matanya, wanita itu benar-benae sungguh sangat takut sekali dengan darah.


Dengan gerakan perlahan, Firdaus pun membersihkan darah yang ada di pergelangan tangan Milea. Darah yang keluar dari bekas luka jarum infus.


"Apa kamu takut darah?" tanya Firdaus sambil mengobati pergelangan tangan Milea.


"Hmm, bisa Bapak percepat mengobatinya?" tanya Milea.

__ADS_1


"Sabar, sedikit lagi selesai."


Firdaus pun membalut pergelangan tangan Milea dengan kain kasa.


"Selesai," ujar Firdaus yang mana membuat Milea menoleh secara perlahan ke pergelangan tangannya.


"Huruf, syukurlah. Saya pikir, saya bakal kehabisan darah," kekeh Milea.


Milea lun berdiri dari duduknya dan berencana untuk kembali menyusun semua belanjaan mereka ke dalam lemari pendingin.


"Kamu mau ke mana?" tanya Firdaus menahan pergerakan Milea.


"Mau nyusun belanjaan ke kulkas," ujar Milea sambil menunjuk ke arah belanjaan yang ada di meja kitchen set.


"Kamu duduk saja, biar saya yang simpan," ujar Firdaus dan membuka jasnya.


"Eh, gak usah, Pak. Biar saya aja," ujar Milea dan ikut bangkit dari duduknya.


"Udah, kamu duduk aja. Saya gak mau ambil resiko karena kamu kembali mengalami pendarahan," ujar Firdaus yang mana membuat Milea kembali terduduk.


Kriiuuk ....


Perut Milea pun kembali berbunyi, sehingga membuat Firdaus menoleh ke arah gadis itu.


"Kamu lapar?" tanya Firdaus.


"Lah, kan dari tadi saya bilang, Pak. Kalau saya lapar," ujar Milea tanpa rasa jaim.

__ADS_1


"Hmm, ya sudah kalau begitu, kamu tunggu sebentar, biar saya yang masak," ujar Firdaus sambil melipat lengan bajunya hingga ke siku.


__ADS_2