
Milea baru saja selesai mencuci piring. Wanita itu pun mulai merasakan gerah dan lengket pada tubuhnya. Dia sudah tak tahan lagi untuk segera membersihkan diri. Milea pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan yang di masuki oleh Firdaus tadi.
Tok .. tok ..
“Pak,” panggil Milea dari luar.
Hening, tak ada sahutan dari dalam ruangan tersebut. Milea pun kembali mengetuk pintu kayu tersebut dengan sedikit kuat.
“Pak?” panggil Milea lagi dengan manikkan satu oktav suaranya.
Pintu pun akhirnya terbuka dan menampilkan wajah Firdaus dari dalam sana.
“Ya? Ada apa?” tanya Firdaus dan langsung menutup pintu ruangan tersebut dengan cepat saat melihat Milea mencuri pandang ke dalam sana.
Milea sempat melirik ke dalam, gadis itu dapat melihat beberapa kayu seperti penyangga untuk melukis.
“Lea,” tegur Firdaus.
“Oh, saya mau pulang. Makanya saya bilang ke Bapak, jangan nanti Bapak nyariin saya,” ujar Milea memberi tahu.
“Ya sudah, kalau mau pulang ya pulang saja. Lagian siapa juga yang nyariin kamu,” cibir Firdaus.
“Yakin gak nyariin saya?” tanya Milea dengan menaikkan alisnya sebelah.
__ADS_1
“Hmm, emangnya kamu sepenting apa sampai harus saya cariin?” tanya Firdaus.
“Gak penting sih. Ya sudah kalau begitu, saya permisi,” ujar Milea dan langsung membalikkan badannya.
“Dasar cewek aneh. Dia pikir dia siapa? Sampai aku harus cariin dia segala?” cibir Firdaus dan kembali masuk ke dalam ruangan tadi.
Firdaus menghela napasnya pelan, pria itu pun kembali mengenakan aproun-nya dan mengambil peralatan melukis. Ya, selain pintar masak dan berbisnis, Firdaus juga sangat pintar sekali dalam melukis.
Firdaus memejamkan matanya sebelum mencoret canvas putih yang ada di hadapannya saat ini. Saat wajah sang gadis bermata kucing itu muncul, dia pun langsung menarik garis pada canvas yang masih putih dan bersih.
Dua jam pun berlalu dengan begitu cepat, Firdaus menatap hasil karyanya yang baru saja dia buat. Di mana dia baru saja menggambar sebuah wajah yang hanya terlihat bagian matanya saja, di mana bola mata gadis itu setiap sisinya memiliki warna yang berbeda, di mana satu berwarna kuning dan satu berwarna biru. Mata yang sangat persis sekali seperti kucing, sedangkan hidung dan bibirnya, tertutup oleh rambut panjang gadis itu yang seolah tertiup oleh angin.
“Siapa kamu sebenarnya? Dan di mana kamu saat ini?” lirih Firdaus sambil menghela napasnya dengan pelan.
Milea baru saja selesai mandi, tubuhnya yang lengket sudah terasa lebih segar dan ringan. Rasa kantuk pun langsung menyerangnya saat ini, hingga membuat Milea memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sesaat sebelum makan malam tiba.
Di tempat lain, sudah hampir satu jam Firdaus menunggu kedatangan Milea, di mana wanita itu harus memasakkan dirinya makanan untuk makan malam, seperti apa yang terbilang di dalam kertas perjanjian mereka.
“Di mana dia? kenapa belum datang?” lirih Firdaus sambil melirik ke arah jam tangan mahalnya.
“Gak bisa di biarkan, apa dia lupa?” lirihnya lagi dan bergegas keluar dari apartemen menuju apartemen Milea yang ada di sebelah tempat tinggalnya.
Firdaus pun menekan bel berkali-kali, tetapi sudah satu menit dia berdiri di sana, belum juga ada yang membukakan pintu.
__ADS_1
“Ke mana dia?” lirih Firdaus dan langsung saja memasukkan password apartemen Milea.
“Lea,” panggil Firdaus saat pintu terbuka, akan tetapi keadaan ruangan itu masih terlihat gelap dan tak berpenghuni.
“Apa dia masih tidur? Atau pingsan?” tanya Firdaus entah kepada siapa.
Firdaus pun bergegas berlari menuju kamar, saat pria itu membuka pintu, ternyata kamar itu pun kosong dan tak telihat tersentuh sama sekali.
“Apa dia tak pulang ke sini?” lirih Firdaus.
“Sial, apa dia kabur saat ini?” geram Firdaus dan langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Anton, sang asisten.
Panggilan telepon pun tersambung, terdengar suara sapaan dari seberang panggilan.
“Cepat kamu kirim berapa nomor ponsel Milea, serta di mana alamat rumahnya,” titah Firdaus yang di sahut iya oleh Anton dari seberang panggilan.
“Dasar cewek keras kepala. Di suruh tinggal di apartemen malah balik ke rumahnya yang kumuh,” geram Firdaus dan kembali masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil jaket dan juga kunci mobil.
Firdaus menoleh ke arah ponselnya yang baru saja masuk notif sebuah pesan, di mana pesan itu berasal dari asistennya—Anton.
Firdaus langsung mendial nomor yang di kirim oleh Anton, pria itu pun mendengar nada sambung hingga seorang wanita menjawab panggilan telponnya.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan. Coba—,”
__ADS_1
“Sial, ke mana dia?” geram Firdaus dan langsung menghidupkan gps-maps ke arah tempat tinggal Milea.