
“Sial, ke mana dia?” geram Firdaus dan langsung menghidupkan gps-maps ke arah tempat tinggal Milea.
Fidaus menekan pedal gasnya dengan kecepatan tinggi, pria itu pun langsung menuju ke arah tempat tinggal Milea.
Di tempat lain, Milea masih memeluk erat gulingnya dengan manja. Setelah memakan mie instan untuk mengisi perutnya malam ini, gadis manis itu pun kembali melanjutkan tidurnya, mengingat jika besok pagi dia harus bangun pagi dan membuat sarapan untuk bos arrogan-nya itu.
tok ... tok ... tok ...
“Lea ...”
Terdengar suara bariton berteriak dari luar rumah, bahkan pintu kayunya itu di gedor dengan begitu kuatnya. Milea yang baru saja terlelap dalam tidurnya pun, terpaksa membuka matanya karena terkejut.
“Siapa malam-malam datang?” lirih Milea dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas laci susun tiga tingkat yang terbuat dari bahan plastik dan setiap lacinya memiliki warna yang berbeda.
Jam pun menunjukkan pukul sembilan malam, yang mana sebenarnya itu belum terlalu malam juga bagi orang-orang yang suka dengan dunia malam. Berbeda dengan Milea yang setelah pulang kerja, dia membersihkan tubuhnya, mengisi perutnya dan mengistirahatkan tubuhnya, karena hari esok akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan, di mana dia harus berkerja tanpa waktu istirahat.
“Leaa ...” Terdengar kembali suara teriakan dari luar, yang mana suara itu terasa tak asing bagi Milea.
“Mirip suara Pak Fir,” lirih Milea dan kembali menajamkan telinganya.
“Lea, buka pintunya atau saya dobrak.”
Milea pun membelalakkan matanya, di saat dia benar-benar meyakini jika pria yang sedang menggedor rumahnya adalah Firdaus—Bos arrogant-nya.
Milea bergegas bangkit dari tempat tidur, dia melihat penampilannya di kaca dan berlari menuju pintu utama rumah itu.
__ADS_1
Cekleeekk ....
“Pak Fir?” tanya Milea. “Ngapain Bapak ke rumah saya? Trus, dari mana Bapak tau rumah saya?” tanya Milea dengan wajah polosnya dan mengabaikan wajah kesal Firdaus.
“Ikut saya,” ujar Firdaus sambil menarik tangan Milea.
“Eh, mau ke mana?” tanya Milea sambil menahan tubuhnya dengan satu tangannya yang bebas berpegangan
di pinggir pintu.
Firdaus pun kembali menatap Milea dengan tajam, sedangkan gadis itu hanya mengerjapkan matanya dengan polos dan lucu.
“Kamu tau ini jam berapa?” tanya Firdaus.
“Hmm, jam sembilan. Kenapa, Pak? Jam di rumah Bapak rusak?” tanya Milea.
“Kamu ingat dengan perjanjian kita?” tanya Firdaus dengan manahan rasa kesalnya.
“Perjanjian?” tanya Milea.
“Ya, perjanjian kita,” ujar Firdaus dengan penuh penekanan di setiap kata.
“Oh, ingat. Kenapa memangnya?” tanya Milea masih dengan wajah santainya.
“Kamu tanya kenapa?” tanya Firdaus balik.
__ADS_1
“Kan perjanjian itu berlaku mulai besok ya?” ujar Milea tanpa rasa bersalah.
“Apa kamu bilang? Berlaku besok?” tanya Firdaus, kemudian pria itu terkekeh dengan smirk iblisnya.
“Apa kamu sedang bermimpi? Perjanjian itu berlaku mulai hari ini,” tegas Firdaus.
“Oh ya? Masa sih?” tanya Milea.
“Apa kamu tak membaca semua point yang tertulis di sana?” tanya Firdaus.
“Ya bacalah. Tapi seingat saya, di sana gak ada tertulis kapan perjanjian itu mulai berlaku,” ujar Milea.
“Kamu----,”
“Bentar, saya ambil dulu surat perjanjiannya dan membuktikannya kepada Bapak, kalau saya tidak salah,” ujar Milea dan masuk ke dalam rumah.
Milea pun mengambil surat perjanjiannya dengan Firdaus di dalam tasnya, kemudian dia kembali keluar kamar sambil membawa surat perjanjian tersebut.
“Nih, coba Bapak baca baik-baik pointnya, di sini gak tertulis tuh kalau perjanjiannya di mulai hari ini,” ujar Milea sambil menyodorkan surat perjanjian tersebut.
Firdaus pun menarik satu sudut bibirnya, sehingga membentuk sebuah senyuman iblis miliknya.
“Apa kamu tidak bisa membaca di bagian ini?” tunjuk Firdaus ke surat perjanjian mereka, di mana terletak di dekat tanda tangan Milea, tertulis jika perjanjian tersebut di mulai pada hari mereka menandatangani surat tersebut
Milea pun mengikuti arah tunjuk Firdaus, gadis itu pun membelalakkan matanya dan perlahan menoleh ke arah wajah sang bos.
__ADS_1
“Ha .. ha .. ha .. iya ya, Pak. Saya gak lihat, habisnya tulisannya kecil,” elak Milea dan menelan ludahnya dengan kasar saat melihat wajah Firdaus kembali menatapnya dengan tajam.
“Jadi, sebaiknya sekarang kamu ikut dengan saya. Dan mulai saat ini, kamu tinggal di apartemen yang sudah saya siapkan, saya gak mau ada alasan besok pagi jika kamu terlambat untuk menyiapkan sarapan untuk saya,” desis Firdaus dan menarik tangan Milea untuk ikut dengannya.