
"Bapak takut hantu?” tanya Milea.
Mendengar pertanyaan Milea, membuat Firdaus menyadari kondisi tubuhnya saat ini. Pria itu pun bergegas melepaskan pelukannya dan memberi jarak dengan Milea.
"Eng-enggak, siapa bilang saya takut hantu?" desis Firdaus dan menarik kursi yang ada di sebelah Milea.
"Terus, kenapa duduk di sini? Kenapa gak duduk di sana?" tanya Milea sambil menunjuk ke arah kursi yang di duduki oleh Firdaus tadi.
"Ke-kenapa memangnya? Ada larangannya untuk saya gak boleh duduk di sini?" tanya Firdaus dengan nada ketus.
"Gak sih. Tapi, anak itu saat ini berada di sebelah Bapak," ujar Milea yang mana membuat Firdaus langsung bangkit dari duduknya dan duduk di atas pangkuan Milea.
"Kamu yang bener, Lea," desis Firdaus dengan suara bergetar.
Milea lun terkekeh pelan, gadis itu menepuk bahu sang bos dan menyuruh pria itu untuk turun dari atas pangkuannya.
"Bapak berat," ujar Milea dengan suara tertekan.
Firdaus yang kembali menyadari posisinya saat ini pun, langsung turun dari pangkuan Milea dan menyentil kening gadis itu.
__ADS_1
"Awww, sakit Pak," lirih Milea sambil mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Salah sendiri, siapa suruh kamu kerjain saya," kesal Firdaus dan kembali duduk di kursinya yang semula.
Milea terkekeh dan kembali menikmati makanannya, gadis itu sesekali melirik ke arah anak kecil yang ada di samping Firdaus. Anak itu terus memandang ke arah Firdaus, yang mana membuat Milea mengernyitkan keningnya.
"Kenapa? Kamu mau bilang anak itu ada di dekat saya?" tanya Firdaus dengan ketus.
Milea pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Firdaus.
"Saya gak takut. Saya tahu kalau kamu bohong sama saya," desis Firdaus dan kembali menikmati makanannya.
Milea lun mengendikkan bahunya cuek, lagi pula sepertinya anak itu tidak bermaksud jahat kepada Firdaus. Tetapi, tatapan mata itu kenapa terlihat sangat menyedihkan?
"Hmm, kenapa nasib gue bisa jadi babu gini sih?" gumam Milea dan sambil mencuci semua piring kotor.
"Apa ini yang di sebut mencuci?" tanya Firdaus yang berdiri di belakang Milea, sehingga membuat gadis itu terkejut.
"Bapak apaan sih?" cibir Milea kesal.
__ADS_1
Tangan Firdaus pun terulur untuk mengambil satu buah piring yang sudah di cuci oleh Milea.
"Lihat, di sini masih ada sabun dan juga lemaknya. Seharusnya kamu membersihkannya dengan benar-benar bersih," geram Firdaus.
"Hmm, tinggal di bilas aja lagi, Pak, gak usah ngegas gitu ngomongnya," ujar Milea dan mengambil piring yang ada di tangan Firdaus. Gadis itu pun kembali menyabuni piring tersebut dan membilasnya.
"Sudah kan?" ujar Milea sambil menunjukkan piring tersebut.
"Hmm, bagus. Yang lain juga harus seperti itu. Harus benar-bensr bersih dan jangan ada satu noda pun yang tertinggal," ujar Firdaus sambil terus memperhatikan Milea mencuci piring.
"Iya, Pak."
Milea benar-benar kesal, pria yang ada di sebelahnya ini sungguh benar-bensr cerewet. Lihat saja, sudah hampir lima belas menit, Milea belum juga selesai mencuci piring, karna Firdaus terus saja mengoceh dan mengatakan jika masih ada noda, sehingga membuat Milea harus mencuci kembali piring tersebut.
"Huff, akhirnya selesai juga," lirih Milea sambil mengeringkan tangannya dengan celemek.
"Siapa bilang sudah selesai?" ujar Firdaus yang mana membuat Milea menghentikan pergerakan tangannya yang ingin melepaskan celemek pada tubuhnya.
"Ada lagi?" tanya Milea dengan bingung.
__ADS_1
"Kamu harus mengeringkan semua piring yang sudah di cuci itu. Kemudian menyimpannya di tempatnya semula dengan rapi," ujar Firdaus yang mana membuat Milea membuat mulutnya.
"Apa?";